KH. Marzuqi Musytamar: Beda Proses, Beda Hasil

Saturday, March 26th 2016. | Pemikiran

Pupuk-Anorganik

Marzuqi Musytamar:

Beda Proses, Beda Hasil

 

Tak berlebihan jika pesantren dianggap mampu mencetak generasi bangsa yang robbani. Lembaga pendidikan Islam ini sangat memperhatikan proses mencari ilmu dengan berbagai aspeknya. Inilah di antara poin utama ceramah yang disampaikan KH. Marzuqi Musytamar saat diselenggarakan peringatan Haul PP. Langitan (05/11).

Dalam pandangan beliau, walaupun tanpa gaji, guru pondok bersedia mengajar karena menginginkan ridho Allah dan kiai. Namun, seorang dosen akhlak atau tasawuf, meskipun mengajar bab zuhud, jika tidak menerima gaji, ia tidak mungkin berangkat. “Terus ikhlasnya di mana?”

Sehabis shalat, ustadz dan kiai selalu mendoakan santri. Seorang santri, setiap ngaji, mengirimkan al Fatihah kepada kiai/gurunya. Adapun guru sekolah umum tidak pernah “nirakati” murid. Muridnya juga tidak pernah ‘memfatehahi’ (mendo’akan) guru. “Terus barokah dari mana?”

Kiai di pondok tidak hanya mengajar kitab, tapi juga merupakan gambaran dari isi kitab itu. Santri bisa meniru akhlak, ke-zuhud-an, sikap wira’i, serta kesabaran kiai. Sedang guru sekolah umum dan dosen kampus “cuma ngajar”. Bahan materinya (pelajaran agamanya) bisa copy paste dari google atau buku. Beliau menjelaskan, “Lah yang nulis (agama) di internet dan di buku itu belum tentu orang shalih. Belum tentu rajin bangun malam.”

Yang terpenting di pondok yaitu ridha sang kiai. Walaupun tidak bisa baca kitab, kalau di ridlai, kehidupan seorang santri insyaallah berkah dan sukses. Walaupun ia hanya memiliki sedikit santri, ilmunya pasti bermanfaat bagi masyarakat.

[Muhammad Hasyim]

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For KH. Marzuqi Musytamar: Beda Proses, Beda Hasil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *