Kh. Abdul Karim Bashroh: Berawal dari Sebuah Tekad

Friday, February 19th 2016. | Wawancara

pakai

Berawal dari Sebuah Tekad

Yai Karim, begitu masyarakat sekitar menyapa. Dikenal sebagai pribadi yang santun dan suka menolong,

beliau mudah diterima oleh masyarakat luas. Pengalamannya selama mondok di Langitan memberikan nuansa dan warna tersendiri bagi kehidupan beliau. Saat ini, beliau memegang amanah sebagai pemegang estafet kepengurusan Yayasan Sosial dan Pendidikan al Huda Grogol, Kediri. Beliau senantiasa berjuang untuk memuliakan ajaran Islam lewat yayasan-yayasan umum yang bernaung di bawahnya,

dengan menambahkan pelajaran kitab kuning.

 

Masa-masa SMP adalah masa di mana seorang anak mulai tumbuh dengan pemikiran yang mandiri. Saat inilah anak mulai berani mencoba hal baru tanpa memikirkan apakah itu bermanfaat atau merusak dirinya. Pergaulan menjadi hal terpenting yang harus dijaga dan diawasi oleh orang tua, karena teman akan lebih mudah memberikan pengaruh terhadap pemikiran anak daripada gurunya.

Begitu pula dengan Abdul Karim kecil. Melihat teman-temannya begitu asyik mengikuti arus kehidupan, beliau membayangkan kehidupan yang damai dan Islami. Setelah berfikir mendalam, beliau mendapati bahwa kehidupan semacam ini hanya bisa ditemukan di Pondok Pesantren. Akhirnya beliau memutuskan menimba ilmu di Langitan, tempat ayahnya dulu mondok, walaupun pada waktu itu beliau belum lulus SMP.

Keinginan ini mendapat respon positif dari kedua orang tuanya, namun biaya menjadi kendala utama. Mengingat, perekonomian keluarga dalam kondisi memprihatinkan. Bagi Abdul Karim kecil, semua itu bukanlah menjadi penghambat. Dengan bekal seadanya, beliau tetap berangkat dan menjalani kehidupannya sebagai seorang santri. Dalam benaknya, menjadi pewaris para nabi merupakan taqdir Allah yang indah.

 

Nekat Kelas Tiga

Sebagaimana santri-santri yang lain, Abdul Karim kecil ingin mendaftarkan dirinya di kelas tiga Ibtidaiyah, walau beliau sadar bahwa kemampuannya sangat terbatas. Karena rasa percaya diri dan keinginan yang kuat, beliau memberanikan diri. Saat tiba masa tes, beliau disuguhi pertanyaan yang membingungkan. Betapa tidak, kebanyakan soal tidak bisa dijawabnya, bahkan untuk memahami maksud pertanyaan itu pun beliau kesulitan.

Hingga pada akhirnya beliau meminta bantuan teman yang ada di sampingnya untuk memberitahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkannya. Pada akhirnya, beliau pun diterima di kelas tiga Ibtidaiyah. Anehnya, teman yang memberitahu jawaban tadi tidak lulus dan masuk di kelas dua Ibtidaiyah.

Barulah di kelas tiga Ibtidaiyah ini, beliau menjalani aktifitas keseharian, Mulai berangkat ke sekolah, jama’ah, mengaji, belajar ba’da Maghrib, musyawarah, menghafal nadhoman, dan lain sebagainya. Dalam menunaikan rutinitasnya, beliau berada di bawah bimbingan Ust. Ainur Rofiq, wali kelas beliau.

Terkenal dengan pribadi yang cerdas, Abdul Karim kecil belajar dengan giat. Beliau pernah menjadi bintang. Ketika ditanya mengenai hal ini, beliau menjawab bahwa sebenarnya rasa ingin belajar dengan giat tersebut terdorong oleh keinginan yang kuat. Lebih-lebih ketika beliau melihat teman-temannya yang begitu menguasai ilmu nahwu sebagai pelajaran yang paling bergengsi. Dorongan ini terus berlanjut sampai beliau duduk di kelas lima dengan pelajaran Mutammimah juga kelas enam dengan pelajaran Alfiyah. Namun demikian, beliau menyadari bahwa apa yang diraih tak lepas dari do’a kedua orang tua.

 

Bab Jama’ Taksir

Salah satu asumsi yang tersebar di kalangan santri yaitu ujian atau musibah akan melanda ketika santri mempelajari bab jama’ taksir dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik. Asumsi ini ternyata dirasakan oleh Abdul Karim. Kala itu, orang tua beliau sedang sakit, sehingga berdampak pada ekonomi keluarga. Kiriman beliau berkurang sampai-sampai tidak cukup untuk kebutuhan satu bulan. Keadaan itu berlangsung cukup lama, sehingga beliau memutuskan untuk pulang dan berhenti mondok.

Setelah berada di rumah, tidak lama kemudian beliau disusul oleh gurunya dan dianjurkan untuk kembali ke pondok. Bersamaan dengan peristiwa ini, beliau juga bermimpi bertemu dengan kyai Langitan. Dalam mimpi tersebut, beliau disuruh mondok lagi. Akhirnya, berbekal uang hasil penjualan jam tangan milik ayahnya, beliau kembali ke Langitan untuk melanjutkan belajar. Setelah berada di Langitan, beliau diajak temannya untuk ngodam menjual bakso, sebagai usaha menutupi kebutuhan hidup dan biaya belajar di pondok.

 

Awal Mula Mengajar

Setelah melewati tahap musyawirin, beliau memutuskan untuk pulang. Saat sowan ke kyai, beliau menerima dawuh, “Wes gak usah moleh, tak tugasi”. Akhirnya, beliau berangkat ke Pondok Pesantren Gedongsari Nganjuk, untuk menggantikan ust. Zainul Arifin. Di sana beliau tidak sendiri. Sebelumnya ada Ust. Muhaimin, Ust. Abdul Mu’ib dan Ust. Masyhudi. Sebelumnya beliau juga menularkan ilmu di diniyah daerah Pucuk Lamongan dan di Desa Kandangan (sebelah barat Pon. Pes. Langitan).

Tiga bulan berlalu. Beliau belum mengajar apapun di Gedongsari. Akhirnya, beliau mendapat amanah menjadi guru badal di kelas satu Aliyah untuk pelajaran Alfiyah. Sebab mendadak, beliau belum memiliki persiapan matang. Dengan tekad bulat disertai dengan bacaan surat al Fatihah kepada para muassis dan pengarang, beliau bisa menjelaskannya dengan gamblang. “Barokahe Masyayikh”, tutur beliau.

Setelah bermukim cukup lama di Gedongsari, beliau dijodohkan dengan keponakan Gus Taha (pengasuh Pon. Pes. Gedongsari), yang memiliki Yayasan Yatim Piatu dan Pondok dengan beberapa santri, tepatnya di Kec. Grogol Kab. Kediri. Beliau akhirnya dipercaya sebagai pengasuh pondok pesantren ini sampai sekarang.

 

Mengembangkan Lembaga

Karena semakin bertambahnya jumlah santri yang muqim di pesantren, beliau memutuskan untuk mendirikan sebuah bangunan. Muncul sebuah inisiatif ketika ada seorang santri baru yang kurang mampu berjalan dengan sempurna mendaftarkan diri di SD terdekat. Pihak sekolah tidak bersedia menerimanya dengan alasan banyaknya anak panti asuhan masuk di sekolah ini.

Peristiwa ini mendorong beliau untuk mendirikan SD Islam al Huda. Maka dibangunlah gedung yang cukup sederhana di dekat pondok. Dengan berputarnya roda waktu, jumlah siswa semakin bertambah. Capaian ini dibarengi dengan meningkatnya fasilitas sekolah dan penambahan ruang belajar secara bertahap.

Tidak berhenti sampai sini. Beliau juga menginisiasi berdirinya PAUD dan Taman Kanak-Kanak al Huda, SMP Islam al Huda, serta SMK Islam al Huda. Beliau berkeinginan mengembangkan syariat Islam lewat jalan formal karena membaca kebutuhan dan ketergantungan masyarakat sekarang dengan ijazah. Sulit memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa tanpa ijazah pun seseorang tetap bisa mencari nafkah dengan ketentuan pembagian rizqi dari Allah. Lama kelamaan, muncul ide kreatif untuk menyisipkan pelajaran kitab kuning sesuai dengan kemampuan dan tingkatan kelas masing-masing. Sungguh pemikiran yang jenius.

 

Pesan Khusus

Khusus kepada para santri Langitan, beliau berpesan, “Selama kalian masih di Pondok Langitan, jangan sekali-kali melanggar peraturan pondok karena akibatnya ilmu dan cahaya kalian akan redup ketika ditengah-tengah masyarakat. Juga karena larangan merupakan hal yang tidak di ridhoi oleh kyai, maka melakukannya berarti sama dengan melakukan hal yang tidak diridhoi guru, masyayikh dan muassis.”

[Wildan Shofa dan Moh. Sadid]

 

Nama                           : KH. Abdul Karim Bashroh

Ayah                             : Kyai Basuni

Ibu                               : Nyai Saroh

TTL                             : Gresik, 30 Maret 1964

Alamat                          : ds. Ringinrejo kec. Grogol kab. Kediri

No. HP                         : +62 823 3510 8073

Pengasuh                      : Yayasan Panti Sosial dan Pendidikan al Huda Grogol Kediri.

 

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Kh. Abdul Karim Bashroh: Berawal dari Sebuah Tekad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *