KH. Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar, Sufi TanpaThoriqoh

Monday, April 27th 2015. | Jejak Utama

Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar Sufi TanpaThoriqohKiai kharismatik ini memang tidak pernah terlihat dalam dunia politik karena memang beliau adalah sosok kiai yang tidak mau terlibat dalam organisasi manapun. Ia lebih memilih untuk mengubur dirinya dalam bumi khumul; ketidak terkenalan. Namun, bagaimanakah gula tanpa ada semut yang mendekat? Bagaimanapun ketersembunyian beliau, tetap saja keharuman namanya akan menyebar dan menyeruak.

KH. Abdul Hamid lahir di Lasem, 4 Muharram 1333 H./22 November 1914 M. Lahir dari keluarga bahagia KH. Abdullah bin KH. Umar dan Nyai Raihanah binti KH. Shiddiq, beliau merupakan putra keempat dari 12 bersaudara. Beliau menikah dengan Nyai Hj. Nafisah binti KH. Ahmad Qusyairi dan dikaruniai 6 putra-putri.Yaitu, Muhammad Anas, Zainab, KH. Muhammad Nu’man, KH. Muhammad Nasih, Muhammad, dan KH. Muhammad Idris.

Masa Kecil

Sebelum bernama Abdul Hamid, ternyata beliau mempunyai nama kecil Abdul Mu’thi dan biasa dipanggil dengan Abdul atau Dul saja. Mu’thi kecil tubuh dengan lincah. Beliau saat itu dikenal sebagai anak yang sangat nakal hingga namanya diplesetkan dengan “bedudul”. Beliau adalah anak yang extrovert, lebih banyak diluar rumah dengan bermain layang-layang ataupun sepak bola. Bahkan,  beliau telah mempunyai klub sepak bola sendiri. Namanya Rodali. Sering menjadi tuan rumah dari klub luar desa sebagaimana sering bertandang ke desa lain.

Kenakalan beliau bukanlah seperti kenakalan anak muda zaman sekarang yang mabuk-mabukan atau melakukan asusila, namun lebih tertuju pada etnis Cina. Atau dalam istilah lain bias dikatakan dengan asyidda-u ‘alalkuffar (sangat tegas terhadap orang-orang kafir). Maklumsaja, keadaan etnis Cina yang waktu itu sebagai pendatang dengan warga pribumi tidaklah sedamai sekarang. Apalagi pada waktu itu mereka mendapat pembelaan dari pemerintah Hindia Belanda.

Kenakalan beliau sering membuat orang Cina marah dan sering dicari oleh aparat Hindia Belanda. Ketika itu terjadi, beliau di sembunyikan dirumah Kasdan, seorang sopir yang tinggal di Kauman. Dan agar pulangnya tidak diketahui, beliau menyamar sebagai perempuan. Dengan kenakalan yang seperti itu,Siapa sangka kalau besarnya beliau menjadi kiai besar dan dikenal dengan ke-wali-annya.

Menuju Pesantren

Karena khawatir dengan kenakalan sang putra yang tidak henti-hentinya bermasalah dengan orang Cina, Kiai Abdullah menjadi khawatir. Akhirnya beliau mengirim putranya, Mu’thi yang pada waktu itu telah berganti nama Abdul Hamid, ke Pondok Pesantren di Kasingan, Rembang yang saat itu diasuh oleh Kiai Kholil bin Harun. Saat itu, beliau masih berusia 12-13 tahun, dan terjadi sekitar tahun 1926-1927 M.

Satu setengah tahun berlalu. Beliau kemudian pindah ke Tremas yang saat itu diasuh oleh KH. Dimyati. Pertamakali di Tremas beliau hidup prihatin karena kiriman dari ayahnya hanya cukup untuk membeli nasi tiwul. Lima tahun kemudian beliau dipercaya sebagai lurah pondok. Sekitar empat tahun, beliau sudah dipercaya untuk mengajar di Masjid.

Disana, beliau mulai menunjukkan perubahan sikap dan dikenal sebagai orang dengan asma’ tinggi. Amaliah beliau semakin bertambah dan sering ber-khalwat disebuah gunung dekat pondok. Semakin lama, beliau semakin jarang keluar kamar hingga dijuluki dengan “plenthu” karena keistimewaannya yang luas ilmu dan asma’ yang tinggi.

Menikah

Setelah 12 tahun di Tremas, beliau dipinang oleh KH. Achmad Qusyairi untuk dikawinkan dengan putrinya yang ketujuh, namanyaNafisah.Sebelum itu, sebenarnya beliau dijodohkan dengan putrid Kiai Achmad yang ketiga, Siti Maryam. Namun, karena waktu itu beliau belum siap untuk meninggalkan pondok, perjodohanpun gagal.Beliau dinikahkan pada 12 September 1940 M/9 Sya’ban 1359 H., sesuai dengan manuskrip undangan nikah beliau yang masih ada.

Pindah ke Pasuruan

Setelah menikah, beliau pindah kerumah mertua di desaKebonsari atau lebih tepatnya di kompleks Pondok Pesantren Salafiyah. Disana beliau tidak langsung mengajar, tapi belajar kepada Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf dengan mengikuti rohah (kegiatan membaca kitab secara bergiliran) tiap selepas ashar dirumah Habib.Setelah itu, berbagai wirid dibaca bersama para jama’ah hingga selesai shalat isya’.

Setelah proklamsi kemerdekaan, sekitar akhir 1945 atau awal 1946, Kiai Achmad pindah kedesa Jatian, kabupaten Jember. Sebelum kemudian pindah ke Glenmore, Banyuwangi pada tahun 1948.

Inilah saat awal bagi Kiai Hamid untuk mandiri. Awalnya, saat ini beliau lalui dengan penuh keprihatinan. Bahkan, sarung beliau karena saking usangnya, kalau dipakai akan terlihat menerawang. Maka beliau melilitkan serban untuk menutupi terawangan ini. Makanpun pada waktu ini hanya dengan lauk tempe dan krupuk. Sering juga ketika tidak ada minyak goring beliau hanya membakar atau pun merebusnya. Beliau jalani hal tersebut dengan tabah dan terus berusaha. Diantaranya dengan broker sepeda, menjual kelapa dan kedelai, dan lain-lain.

Pada saat ini, beliau mulai mengisi pengajian. Seperti mengisi pengajian di Rejoso ataupun Ranggeh atas dasar permintaan warga. Selain itu, setiap hari Senin dan Kamis, beliau juga mengajar diteras rumahnya dan yang mengaji ada sekitar 10-15 orang.

MengasuhPesantren

Tahun 1951 Kiai Abdullah bin Yasin wafat, dan mengangkat Kiai Aqib sebagai pengganti. Namun karena masih muda, Kiai Aqib merasa tahu diri dan menyerahkan kepengasuhan kepadaKiai Hamid. Tidak lama kemudian, Kiai Aqib mondok lagi di Pesantren Al-Hidayah, Lasem.

Pondok Salafiyah diasuh oleh Kiai Hamid ketika pondok ini sedang ditinggal oleh santrinya. Hal  ini berkaitan dengan pendekatan dari pengasuh sebelumnya, Kiai Abdullah, yang sangat ketat dalam hukum dan tidak ada toleransi didalamnya. Namun, saat Kiai Hamid mengasuh, lambat laun santrinya bertambah. Saat tahun 1962, jumlahnya meningkat sekitar 80 orang. Pembangunanpun dilakukan untuk menampung jumlah santri yang lebih banyak.

Beliau tidak mengajarkan kitab yang besar-besar karena metode beliau yang dipentingkan adalah riyadloh, yakni bagaimana seorang santri bias mengolah batinnya.

Mangakatnya Panutan Umat

Beliau adalah tipikal orang yang tidak mau orang lain susah karenanya. Beliau menyimpan rapat penyakit yang beliau miliki, bahkan istri beliaupun tidak tahu.Hingga suatu hari, beliau jatuh pingsan saat sedang berbincang-bincang dengan ipar beliau, KH.Abdur Rahman. Setelah siuman, beliau berpesan untuk tidak menceritakan kejadian tersebut kepada siapapun.

Kamis, 23 Desember 1982, beliau mendadak jatuh dan akhirnya dilarikan ke RSI Surabaya. Hasil rotgen menunjukkan kalau jantung beliau sudah membengkak cukup parah, ginjalnya sudah tidak berfungsi, dan livernya juga sudah parah. Beberapa tahun sebelumnya seharusnya beliau sudah merasakan sakit. Anehnya, tidak ada seorangpun dari keluarga yang tahu akan hal ini.

Kesehatan beliau semakin menurun hingga Sabtu, 25 Desember 1982 M./09 Robi’ul awwal 1403 H. semua keluarga berkumpul, dan tepat pukul 03:00 dini hari, beliau menghembuskan nafas terakhir di usia 70 tahun menurut hitungan tahun Hijriah. Selamat jalan, murabby ruuhyna.

(Muhammad Hasyim & Muhammad Ichsan)

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For KH. Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar, Sufi TanpaThoriqoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *