Ketika Muslim-Komunis Berdampingan Cacatan Multaqo Sufi Dunia di Cheshnya, Rusia

Saturday, November 8th 2014. | Kabar

Habib Umar bin hafidz

Beberapa waktu lalu, tepatnya 27-29 Agustus telah diadakan pertemuan ulama sufi dunia di Chechnya, Rusia. Meski berada di Negara bagian dari pemerintahan Komunis, namun Chechnya mayoritas -atau lebih dari 90% penduduknya- muslim. Mereka bertahan dengan keluwesan dan fleksibilitas ajaran tasawuf. Demikian hasil wawancara redaktur Majalah Langitan, Muhammad Hasyim kepada Habib Sholeh bin Muhammad al-Jufri, Solo, salah satu ulama kharismatik yang mendapat undangan pertemuan akbar tersebut.

***

Halaqah Ilmiah Bidang Tasawuf

Di antara agenda penting pertemuan pada waktu itu adalah halaqah ilmiah bertajuk “Relasi Tasawuf dengan Kehidupan”. Pembahasan ini terbagi menjadi tiga tema, yaitu: pertama, korelasi penting disiplin ilmu dengan ilmu tasawuf; kedua, penyimpangan pemahaman agama yang melahirkan radikalisme; ketiga, peran tasawuf dalam menata kehidupan.

Pembahasan pertama menampilkan fakta-fakta bahwa para ilmuwan muslim yang memiliki pengaruh dalam perekembangan pemikiran pada dimensi lain telah mengamalkan konsep tasawuf dalam kehidupan mereka. Pembahasan kedua, merunut bahwa radikalisme agama berawal dari sebuah pemahaman, pemikiran, kesimpulan dan perbuatan yang keliru. Mereka memahami agama secara sepotong-sepotong (parsial) tidak secara utuh (komprehenshif). Ketiga, memunculkan teorema-teorema sufistik bagi penataan kembali kehidupan yang lebih baik.

 

Habib Umar dan rombongan tiba di Bandara chechnya

Habib Umar dan rombongan tiba di Bandara chechnya

Dari Jami’ hingga Jami’ah

Pertemuan yang dihadiri lebih dari delapan puluhan ulama dunia ini, juga memiliki agenda lain, yaitu: meresmikan masjid jami’, meresmikan pesantren tahfidz, dan mewisuda salah satu lulusan jami’ah (universitas) Islam. Memang tidak bisa dipungkiri, meski berada dalam kawasan system komunis, namun selama tujuh tahunan terakhir, pasca prahara politik di Chechnya, pemerintah sedang getol menggalakkan pendirian madrasah diniyyah, masjid, pesantren, hingga universitas Islam.

Bukti keberhasilan dari gerakan itu adalah adanya wisuda angkatan pertama salah satu Universitas Islam di Chechnya kemarin. Puluhan ulama dunia menyaksikan betapa Chechnya siap bersaing dengan negara-negara muslim lainnya dalam bidang peradaban dan pemikiran Islam.

 

Habib Umar saat memberikan ceramah kepada muslimin Chechnya

Habib Umar saat memberikan ceramah kepada muslimin Chechnya

Presiden yang Tawadlu’

Kebesaran Chechnya sekarang ini tidak lepas dari peran presiden yang sangat cerdik dan berbudi luhur. Dia adalah Ramadhan bin Ahmad Qadiruf. Saat menjabat menjadi presiden menggantikan ayahnya, Chechnya berada dalam ambang kehancuran.

Perang saudara berkecamuk, darah antar keluarga mengalir deras, dan luka menganga begitu pedih. Tapi berkat kecerdikannya, akhirnya ia bisa menutup semua ‘kenangan’ itu menjadi spirit yang kuat. Menatap masa depan penuh gemilang.

Ramadhan bin Ahmad Qadiruf –sebagaimana yang disampaikan Habib Sholeh bin Muhammad al-Jufri- minimal memiliki empat keistimewaan. Pertama, sangat ta’dzim (hormat) kepada ulama. Terbukti saat peresmian masjid, ia merasa tidak pantas, meskipun menjadi seorang presiden. Akhirnya peresmian dilakukan oleh para ulama. Saat memasuki masjid, tidak mau duluan. Para ulama dipersilakan masuk semua, baru dia yang paling belakang. Saat salatpun, tidak memilih shaf terdepan. Ia pilih shaf di belakang para ulama.

Kedua, meski seorang presiden tapi ia tidak pernah buka penutup kepala dan selalu memakai baju berlengan panjang saat berada di kawasan publik. Ketiga, bibirnya selalu basah dengan shalawat. Dan keempat, ia membuat peraturan wajib berjamaah Isya’ dan Subuh bagi seluruh penduduk Chechnya.

[Muhammad Hasyim]

 

 

 

 

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Ketika Muslim-Komunis Berdampingan Cacatan Multaqo Sufi Dunia di Cheshnya, Rusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *