Keteladanan Abah Anom sang Cendikiawan

Monday, July 23rd 2018. | Jejak Utama

Abah Anom,  Matahari dari tempat mentari terbit.

Alam Suryalaya yang penuh dengan cahaya hidayah, awal tahun itu semakin terang karena lahirnya putra kelima dari pasangan pendiri Pesantren Suryalaya sekaligus Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad dan Hajjah Juhriyah, tepatnya tanggal 1 Januari 1915 M. Matahari kecil itu diberi nama Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin atau kelak masyhur dengan sebutan Abah Anom.

Menuntut Ilmu

Sejak kecil Abah Anom memiliki kegemaran menuntut ilmu keislaman, terlebih beliau mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya yang merupakan keluarga ulama. Kondisi inilah yang menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai macam ilmu keislaman pada usia yang relatif muda (18 tahun). Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu berawal dari Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928.

Beliau masuk Sekolah Menengah semacam Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930, Abah Anom benar-benar mendalami ilmu agama Islam di Pesantren Cicaring, Cianjur. Kemudian dilanjutkan ke Pesantren Jambudipa Cianjur, kurang lebih selama dua tahun. Lalu beliau menuntut ilmu ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Mama Ajengan Ahmad Syathibi. Di pesantren-pesantren ini, beliau mendalami ilmu fiqh, nahwu, sharaf dan balaghah.

Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi, pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang merupakan ahli hikmah dan silat. Dari Pesantren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam berbagai hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Tidak berhenti sampai di situ, Abah Anom memperdalam pengetahuan agamanya di Pesantren Citengah, Panjalu, di bawah asuhan KH. Junaidi yang terkenal sebagai pakar ilmu alat, jago silat, serta ahli hikmah.

Bahtera Rumah Tangga

Menyadari luasnya pengetahuan Abah Anom dalam bidang keagamaan serta keahlian lain yang beliau timba di pesantren sebelumnya, ayahnya mengajari Abah Anom zikir tarekat sebagai persiapan kepemimpinan pesantren serta Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah pada usia yang relatif muda. Sejak itulah beliau lebih dikenal dengan sebutan Abah Anom sekaligus menjadi wakil talqin ayahnya, Abah Sepuh, yang kala itu menjadi pelopor Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah berlayar dalam bahtera rumah tangga, beliau berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Makkah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan di sana, dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan keagamaan yang mendalam. Pengetahuannya meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama.

Tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lihai berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Keahlian terakhir inilah yang menjadikannya mudah menarik simpati masyarakat. Beliau juga termasuk cendekiawan dalam budaya dan sastra Sunda, sehingga dinilai oleh banyak pihak setara dengan sarjana ahli bahasa Sunda. Kepandaian dalam filsafat etnik Kesundaan digunakan untuk memperkokoh Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Pengganti Sang Ayah

Abah Anom resmi menjadi mursyid (pembimbing) Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Pesantren tasawuf itu sejak tahun 1950. Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom dituntut lebih mandiri dalam mengasuh pesantren. Pondok Pesantren Suryalaya, dalam kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi pertanian, pembuatan kincir air selaku pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain.

Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya cukup konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang di antara isinya adalah tuntutan untuk mematuhi perintah agama dan negara. Karena itulah, Pondok Pesantren Suryalaya senantiasa mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.

Dibawah asuhannya, Pesantren Suryalaya berkembang pesat, terbukti dengan berdirinya Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah keagamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar dan H. Dudun Nursaiduddin.

Berkat prestasi yang dicapai, Abah Anom mengantongi beberapa penghargaan, antara lain sebagai Pelopor Swasembada Pangan dan Pemberdayaan Ekonomi (1961), Kalpataru (1980) dan Distinguished Service Awards oleh International Federation of Non-Government Organisations (IFNGO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Januari 2009.

Wafat

Senin 05 September 2011 pukul 11.55 dalam usia 96 tahun, Abah Anom pergi memenuhi panggilan ke rahmatullah. Perjuangan panjang serta dedikasinya kepada agama dan bangsa hari itu telah usai. Kini, beliau tinggal memetik buah yang ditanamnya, terlebih sebagai Pemimpin Pesantren Suryalaya sekaligus Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Keteladanan Abah Anom sang Cendikiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *