Kesialan dalam Kehidupan Manusia

Tuesday, February 10th 2015. | Aswaja, Uncategorized

orang sialDi tengah-tengah masyarakat terdapat anggapan tentang turunnya kejelekan yang disebabkan oleh burung gagak, burung hantu atau waktu tertentu yang menyebabkan mereka menggagalkan suatu rencana. Semisal ketika rumah seseorang dihinggapi burung hantu, menurut kepercayaan salah satu anggota keluarga akan meninggal dunia. Pemahaman yang seperti ini haruslah diluruskan, tidak kemudian malah dibenarkan.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, bersumber dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw. bersabda:

لَاعَدْوَى وَلَاطِيَرَةَ وَلَا هَامَّةَ وَلَا صَفَرَ

“Tidak ada penyakit yang menular, tidak ada penyandaran kejelekan terhadap sesuatu, tidak ada burung hantu memberikan bahaya, dan tidak ada bulan Shafar meninggalkan petaka.”

Dalam hadis ini Rasulullah Saw. membatalkan apa yang telah menjadi keyakinan orang Arab sebelum datangnya Islam. Di antara keyakinan mereka yang ditentang lewat sabda Nabi saw. adalah:

  1. Mereka memiliki keyakinan bahwa setiap penyakit itu menular kepada orang lain hanya dengan berdekatan saja serta menafikan kekuasaan Allah. Kemudian Rasulullah Saw. menafikan keyakinan mereka dengan sabdanya yang berbunyi لَاعَدْوَى. Hal ini terbukti ketika Rasulullah Saw. bertanya kepada seorang A’rabi yang telah mengatakan unta yang sehat ini tertular unta yang sakit dengan ungkapan: ”Kemudian yang menularkan penyakit kepada unta yang pertama siapa?”
  2. Mereka juga memiliki keyakinan turunnya petaka lewat burung, semisal ketika mereka keluar rumah kemudian melihat terbang menuju arah kanan, mereka akan melanjutkan perjalanan dan tujuannya, begitu dengan sebaliknya ketika burung tersebut terbang ke arah kiri mereka akan membatalkan perjalanan dan kembali ke rumah, karena takut turunnya bahaya, bahkan terkadang mereka mengusir burung agar terbang, lalu mereka mengikuti dan meyakini arah terbang mereka. Keyakinan ini kemudian dibatalkan dengan sabda Nabi Saw. yang berbunyi وَلَاطِيَرَةَ
  3. Mereka memiliki keyakinan bahwa ketika burung hantu hinggap di salah satu rumah, akan turun musibah untuk penghuni rumah itu, salah satu dari mereka akan ada yang meninggal. Dulu orang Arab memiliki keyakinan roh orang yang meninggal yang menuntut balas akan berubah menjadi burung hantu dan berkata: “Berikan aku minum”. Ketika dendam mereka sudah terbalas burung itu akan terbang pergi. Keyakinan ini kemudian dibatalkan dengan sabda Nabi Saw. yang berbunyi وَلَا هَامَّةَ
  4. Dulu orang Arab selalu mengakhirkan kemuliaan bulan Muharam sampai Shafar, kemudian menjadikan bulan Shafar sebagai bulan yang mulia. Menurut anggapan mereka bahwa dalam perut terdapat ular yang bernama Shafar, ular ini akan menggerogoti tubuh manusia ketika lapar dan rasa perih ketika waktu lapar adalah akibat gigitan ular tersebut. Lalu mereka memiliki anggapan bahwa bulan Shafar adalah bulan naas yang didalamnya terdapat berbagai marabahaya dan fitnah. Lalu keyakinan ini kemudian dibatalkan dengan sabda Nabi Sawm yang berbunyi وَلَا صَفَرَ

 

Keyakinan yang Harus Dijauhi

Sekelompok masyarakat masih memiliki banyak keyakinan-keyakinan tentang hari naas yang berkaitan dengan nasib dan takdir. Di antara keyakinan mereka tentang hari naas adalah:

  1. Sebagian masyarakat meyakini adanya hari sial yang dikaitkan dengan ilmu perbintangan (ahli nujum) sehingga mereka lebih memilih meninggalkan pekerjaan mereka. Hal ini lebih dikenal dengan ramalan keberuntungan yang dikaitkan dengan zodiac.
  2. Sebagian masyarakat meyakini akan mengalami kesialan ketika bepergian pada hari-hari gelap (satu atau dua hari pada setiap akhir bulan). Sebagian dari mereka juga meyakini kesialan ketika bepergian ketika bulan mengorbit di bintang scorpio.
  3. Sebagian juga meyakini turunnya kesialan pada hari Rabu, terutama hari Rabu terakhir bulan Shafar atau yang biasa dikenal dengan Rabu Wekasan.

dari beberapa keyakinan ini, yang sebenarnya harus diyakini dan ditancapkan dalam hati adalah setiap kenikmatan dan bencana yang turun adalah kehendak dan takdir yang telah digariskan Allah Swt. Bukan disebabkan oleh manusia, benda atau apapun. Meskipun demikian tidak ada salahnya kalau kita menjauhinya untuk menghindari kejelekan yang ditimbulkan perbincangan masyarakat sekitar.

[Ahmad Farikhin]

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Kesialan dalam Kehidupan Manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *