Kerusakan Remaja, Bisa Jadi Salah Orang Tua

Friday, January 31st 2014. | Keluarga

tawuran-1024x735

Ketika melewati jembatan di suatu desa, kami melihat sekelompok muda-mudi yang menginjak dewasa, mereka seumuran remaja sekolah tingkat SMP atau Tsanawiyah, Mereka tampak asyik dan bebas bercanda satu sama lain, baik yang perempuan dengan yang laiki-laki, sesekali saling colek atau hanya diam saja. Tampaknya ini ajang kumpul-kumpul remaja zaman sekarang. Melihat hal itu, sebagai orang tua yang memiliki anak seusia meraka tentu saja ada kekhawatiran dalam hati, jika para remaja sudah merasa bebas berekspresi dengan lawan jenis maka bisa saja bentuk ekspresi tersebut menjurus kepada hal-hal yang negatif karena masa pubertas masa perkembangan jiwa yang labil dan cenderung mengikuti adrenalin keremajaan, cenderung bertindak berdasar keingintahuan yang menggebu bukan dari hasil pertimbangan matang dari akal-pikiran yang menjadi ciri khas kedewasaan. Juga terlintas pertanyaan, apakah akan kita biarkan sebuah drama ikhtilat antara lain jenis ini? Bagaimana menurut pandangan umum? Kalau dari pandangan syar’i hal itu adalah maksiat yang akan berbias pada fitnah lebih besar bila tanpa pengawasan dan kontrol dari orang tua dan guru, apalagi bila tanpa bekal ilmu agama yang kuat.

Bila sudah menjadi perkara yang lumrah otomatis hingga dewasapun norma-norma Islam akan mereka remehkan dan akan berakibat fatal akhirnya. Kalau sampai hal itu terjadi maka yang bertanggungjawab dari semua kesalahan bisa disematkan pada orang tua yang lalai. Karena anak-anak tanpa adanya bekal agama dari orang tua dan guru akan mudah mencari alasan-alasan buat mereka kumpul main-main atau berbuat maksiat.

Khawatirlah yang Positif

tawuran3Orang tua harus memiliki kehawatiran yang positif. Banyakorang tua hawatir namun hanya sebatas masalah duniawi, tidak khawatir hal-hal yag bersifat ukhrowi. Padahal  yang mesti dihawatirkan oleh para orang tua adalah keadaan anak-anak ketika orang tua belum bisa memberikan pendidkan agama. Mengapa agama? Karena agama merupakan sesutu yang urgent dimana nilai-nilai positif dan moralitas menjadi inti yang ditanamkan. Dengan agama yang kuat maka bisa menjadi bekal bagi anak untuk menjalani kehidupan duniawi dan ukhrowinya. Banyak sekali orang tua yang terlalu percaya pada putra-putrinya yang sudah menginjak remaja sehingga melalaikan apa yang masih menjadi tanggung jawab dan pengawasan orang tua. Yang tidak disadari para orang tua adalah masa perkembangan setiap anak remaja itu berbeda, baik masa pubernya dan juga kedewasaannya. Bentuk kepercayaan rang tua kepada anak yang terlalu adalah misalnya dengan mudahnya orang tua memberikan begitu saja fasilitas baik berupa keandaraan atau handphone padahal belum cukup usiayang tanpa diesertai pendampingan dan kontrol yang baik. Padahal pengaruh media dan lingkungan yang tidak sehat secara syar’i dan pergaulan yang buruk bisa menjadi sebagai penyabab kerusakan anak-anak remaja. Oleh karenanya pemberian fasilitas dan media yang tanpa pengawasan tersebut justru bisa menjadi bumerangterhadap orang tua itu sendiri.

Pendampingan

Mendampingi anak remaja dengan sungguh-sungguh dengan penuh perhatian dan kasih sayang merupakan tindakan orangtua yang sangat dibutuhkan oleh seorang remaja.Dilihat secara fisik memang tubuh anak remaja akan terlihat besar dan bahkan mungkin lebih besar dari orantuanya. Namun, walaupun ia tampak lebih besar secara fisik, dalam hal pemikiran dan pengambilan keputusan ia tetap masih perlu pendampingan dari orangtuanya. Ia akan sangat membutuhkan saran, bimbingan dan nasehat dari orangtuanya dalam menjalani kehidupan ini.

Ketika anak mulai menginjak usia remaja, pada saat inilah orangtua harus lebih banyak lagi memberikan perhatian, mengajarkannya untuk dapat hidup lebih mandiri, mengajarkannya supaya ia tahu, faham dan dapat memilah mana yang boleh dilakukan, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Bukan sebaliknya, karena anak sudah dianggap lebih besar, orangtua ‘melepas’nya begitu saja tanpa bimbingan dan arahan.Sejatinya, masa remaja adalah masa yang sangat rawan untuk seorang anak.  Secara emosional ia masih labil, sehingga ia sangat membutuhkan dukungan dan arahan dari orangtuanya. Banyak anak remaja yang akhirnya terjerumus ke dalam pergaulan bebas, narkoba dan ikut-ikutan sebuah geng motor karena kurang bimbingan dan arahan dari orangtuanya. Dalam kondisi kurang bimbingan orangtua, seorang remaja boleh jadi akan merasa hidupnya hampa dan tidak puas, ia merasa tidak diperhatika atau dipedulikan dan juga tidak didengar. Di lain pihak, mungkin sikap orangtua tidak banyak berbicara atau terlibat dengan remaja karena mereka menganggap anaknya sudah dewasa dan mandiri sehingga mereka membiarkan atau melepaskan anak begitu saja bergaul dalam lingkungan yang tidak jelas.

Perlu orangtua ketahui, walaupun ia sudah besar, sebagai orangtua tetap harus selalu memperhatikannya, membimbingnya dan mengajaknya berkomunikasi supaya sekecill apapun perubahan yang terjadi pada anak atau sekecil apapun masalah yang terjadi pada anak dapat segera terselesaikan. Anak yang selalu mendapatkan solusi untuk setiap masalah yang sedang terjadi pada dirinya akan mampu hidup lebih percaya diri, mandiri, dan lebih berhasil.

 

Komunikasi

Ketika suatu masalah dapat dikomunikasikan dengan baik, perasaan kita akan terasa lebih tenang, begitu juga yang dirasakan oleh setiap orang termasuk oleh anak remaja.

Menjaga komunikasi dengan baik antara orangtua dengan anak sangatlah penting. Melalui jalinan komunikasi segala hal yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh anak dan orangtua akan tersampaikan dengan baik. Kedua belah pihak akan sama-sama saling memahami dan menjaga sehingga akan terhindar dari kesalahfahaman yang dapat menyebabkan antara orangtua dengan anak menjadi tidak harmonis.

Ketika komunikasi telah terjalin dengan baik antara anak dengan orangtua, sikap saling terbuka dan pengertian akan tercipta. Biasanya, dari kedua belah pihak tersebut akan merasa tidak perlu ada lagi hal-hal yang dirahasiakan atau dikhawatirkan dapat menyinggung perasaan.

Kepercayaan

Berikanlah kepercayaan kepada anak sesuai dengan usianya. Hal ini supaya anak dapat terus meningkatkan kemampuannya sehingga ia dapat hidup semakin mandiri.Melatih anak supaya dapat dipercaya, sedikit demi sedikit orangtua dapat memberikan keparcayaan kepada anak mulai dari hal yang dianggap ringan sampai yang cukup rumit.Sebelum memberikan kepercayaan secara penuh kepada anak, tentunya orangtua harus memberikan contoh terlebih dahulu, mengajarkan, serta membekalinya terlebih dahulu dengan ilmu. Misalnya saja, kepada anak remaja orangtua dapat mulai memberikan kepercayaan untuk mengelola sendiri uang jajannya, mencoba menggunakan transportasi umum bersama temannya atau mengizinkan anaknya pergi jalan-jalan.

Sudah semestinya para orangtua harus memahami peranan dirinya atas keluarganya sebagai bentuk tanggung jawab atas amanah yang telah Tuhan berikan, bentuk tanggung jawab tersebut yang paling utama adalah memelihara mereka agar tidak terjerumus kedalam jurang neraka dengan cara mendidik, membimbing, mengarahkan keluarga (anak-anak)nya dengan pendidikan dan arahan yang baik sesuai ajaran agama.

Allah SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ
شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا
يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
.(Qs. At-Tahriim; 6)

Ayat di atas, ini adalah peringatan yang sangat berat bagi siapapun dari umat islam, hususnya bagi orang tua yang telah diberi amanah sebuah keluarga untuk bertangguang jawab sepenuhnya terhadap keluarganya (anak-anaknya), yaitu usaha sungguh-sungguh menyelamatakan keluarga dari api neraka dengan cara membekali anak-anaknya nilai-nilai agama dan moralitas. Dari orang tua yang betul-betul mendalami agama yang kuat maka kerusakan-kerusakan tersebut bisateratasikarena pondasi agama yang kuat telah tertanam dalam jiwa anak. Dan dari semua usaha yang maslahah maka akan tercipta keluarga yang betul-betul harmonis fiddunya wal akhiroh. Karena anak juga sebagai mazro’atul akhiroh. Bila betul dalam mendidiknya maka akan menuai kedamaian dunia akherat.

Oleh: Ibu Nyai Hj. Lilik Qurratul Ishaqiyah Munif

 

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Kerusakan Remaja, Bisa Jadi Salah Orang Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *