Kembangkan Jaringan Dakwah Melalui Teknologi

Sunday, May 5th 2013. | Jejak Utama, Tokoh

Kiprah Bpk. Novianto Puji Raharjo, Dosen UPN Veteran Surabaya

Kesibukan kota Surabaya pun menyambut kami dengan bising deru kendaraan bermotor yang berjejal di jalanan. Tak lama setelah kami menginjakkan kaki di terminal Bratang, kami pun menyususri jalan melewati kampus UNITOMO dan UNTAG sehingga sampailah kami di Jl. Semampir Gg. II Surabaya.

Novianto Puji RaharjoKami tak menyangka, ternyata Narasumber kali ini – menurut informasi yang kami dapat sebelumnya- adalah pakar IT menyambut hangat kedatangan kami dengan balutan busana putih, peci putih. Jauh dengan apa yang kami deskripsikan sebelumnya, narasumber kita kali ini cerminan seorang kiai, bukan seperti pakar IT. Setelah beberapa lama, sang narasumber pun mengajak kami menunaikan salat Jum’at, karena memang kami datang menjelang Jum’atan. Decak kagum masih membayangi, ternyata seorang pakar IT, seorang dosen yang berkecimpung di dunia tehnologi bisa berkepribadian sereligius ini. Di ruang tamu kediaman bapak narasumber terpajang rapi beberapa foto beliau bersama orang-orang besar dan penting, bahkan foto habaib, ulama, waw !

Sejurus setelah Jum’atan, interview pun dimulai, dengan kemasan nyantai yang sengaja diciptakan oleh narasumber kali ini. Adalah Novianto Puji Raharjo atau yang akrab disapa pak Novi, dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya yang terbuka, nyantai, akrab dan sangat mengisnpirasi. Pria kelahiran 11 November 1979 ini, setelah menyelesaikan study di STIEKOM Surabaya pada 2004, pak Novi juga sempat bekerja di perusahaan konsultan pemberdayaan masyarakat selama dua tahun sebagai operator komputer, karena memang pak Novi adalah sarjana komputer. Setelah dua tahun, pak Novi memutuskan untuk keluar dan melanjutkan bisnis keluarga di Madura di bidang rehabilitasi hutan. Karena memang besar dari tehnologi komputer, pak Novi saat itu pun banyak terjun di dunia online, dan selanjutnya pada tahun 2009 beliau dimintai bantuan untuk menjadi tenaga pengajar IT di UPN Veteran Surabaya sampai sekarang.

Bentuk relawan TIK menuju teknologi sehat
Banyak bersinggungan langsung dengan dunia IT, membuat pak Novi pun sangat akrab dengan dunia ini, sehingga selain menjadi dosen, juga aktif di dunia Blogg. Pak Novi bersama teman-temannya membentuk sebuah komunitas relawan TIK (Tehnik Informasi dan Komunikasi) yang bidikannya adalah mewujudkan Indonesia berteknologi sehat. Adapun relawan TIK ini tidak hanya ada di Jawa Timur, tapi di propinsi lain di Indonesia. Semua itu tak lain karena keprihatinan para pakar IT terhadap kondisi bangsa yang semakin bobrok oleh dunia maya yang bebas tanpa batas. Sehingga perlu dirasa bagaimana Indonesia menjadi negara IT yang aman dan sehat. Selain itu pak Novi saat ini juga bergerak di dunia bisnis online, sebagai media penunjang dakwah yang beliau misikan.

Saat ditanya mengenai penampilan dan gaya hidup pak Novi yang begitu religius, beliau malah tertawa, karena merasa sama sekali tidak pernah jadi santri. Hanya saja pak Novi sejak kecil tumbuh bersama teman-teman yang suka mengaji. Berangkat dari rasa cinta pak Novi terhadap mengaji juga para kiai, pak Novi pun benar-benar menerapkan ilmu-ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. “Kita hidup ini harus banyak membentuk komunitas, asal itu baik maka tak perlu malu-malu untuk berkomunitas dengan siapa saja, mulai dari kalangan biasa, sesama pakar IT, bahkan para ulama’, sebab undzur ma qola wala tandzur man qola”, tutur Pak Novi

Gerakan TIK masuk pesantren
Dan saat ini, pak Novi bekerja sama dengan Majlis Muwasolah Baina Ulama’il Muslimin, Kemkominfo dan juga UPN Veteran serta komunitas relawan TIK dan komunitas-komunitas lain untuk membuat gerakan TIK masuk pesantren, dengan misi agar para santri melek tehnologi.
Gerakan TIK masuk pesantren ini berawal dari pertemuan Habib Sholeh Jufry, Solo dengan rektor UPN saat keduanya sedang menunaikan ibadah haji, di mana Habib Sholeh merupakan ketua Majlis Muwasalah. Gayung bersambut, tim UPN pun bersedia untuk bekerjasama menyukseskan gerakan ini. Sebab tadi, adanya keprihatinan yang mendalam terhadap dekadensi moral bangsa yang terkontaminasi oleh ulah dunia maya. Sebab internet itu ibarat dua mata pisau yang menguntungkan atau justru membahahayaka tergantung siapa yang mengendalikan.
Dari gerakan ini diharapkan para santri pondok pesantren dapat menetralisir ulang energi-energi negatif internet yang kini hanya dengan satu kali klik sudah dapat diakses. Sebab pesantrenlah yang kini digadang-gadang mampu menjadi kontrol terhadap pesatnya musuh-musuh Islam yang selalu menyerang generasi muda. Jika para pemuda bangsa tidak dibekali dengan pengetahuan agama yang cukup, serta pondasi moral yang kuat, maka bangunan tubuh bangsa ini akan mudah tergoyahkan.

Gerakan TIK masuk pesantren ini sudah diawali sejak sebelum Ramadhan tahun ini. Beberapa perwakilan pesantren induk Jawa Timur mendapat pelatihan tentang video streaming dengan bidikan pengajian Ramadhan di masing-masing pesantren dapat ditayangkan secara online atas kerja sama dengan piham Telkom. Kebetulan juga Telkom punya program Speedy Taqwa yang punya mangsa pengajian-pengajian umum, termasuk pengajian-pengajian pesantren. Sehingga pada Ramadhan kemarin –selama satu bulan penuh- pengajian yang diselenggarakan oleh beberapa pesantren di antaranya Langitan dapat diakses melalui Speedy Taqwa atau juga website resmi pondok pesantren Langitan.

Adakan pelatihan keliling ke pesantren se-Jatim
Setelah dinilai sukses, pak Novi sebagai ketua pelaksana program TIK masuk pesantren ini menindaklanjuti dengan mengadakan pelatihan-pelatihan TIK keliling di pondok-pondok pesantren terutama di daerah Jawa Timur terlebih dahulu. Dan pondok pesantren Langitan pada 28-30 September 2012 lalu menjadi tuan rumah atas terselenggaranya workshop ini.

Para peserta pelatihan yang diambil dari perwakilan beberapa pondok pesantren daerah pantura ini mendapatkan pelatihan mengenai video streaming dan social media. Para santri yang mengikuti pelatihan ini wajib membawa laptop dan atau handycam/alat perekam video untuk kelas streaming, agar para peserta untuk selanjutnya dapat meng-online-kan pengajian yang ada di masing-masing pesantren. Jika tiap pesantren yang jumlahnya –bilang saja 100- jika tiap hari menayangkan streaming pengajian satu jenis kitab saja (dengan durasi kira-kia satu jam), maka dalam satu hari ada 100 tayangan pengajian streaming dalam 100 jam. Dan jumlah itu bias bertambah, sehingga dengan banyaknya tayangan streaming online di internet diharapkan dapat menggeser posisi video-video amoral yang meracuni.

Sedangkan untuk kelas social media, para peserta diajari cara membuat blog, sekaligus cara mengaplikasikannya. Untuk tahap awal ini, para peserta diharapkan menularkan pada teman-temannya di pesantren masing-masing. Pada tahap selanjutnya mereka bisa menjadi blogger islami yang aktif posting tulisan-tulisan tentang keagamaan, sari-sari kitab kuning atau literatur Islam lain. Jika dikalkulasi (satu pesantren dengan rata-rata 1000 santri) masing-masing membuat tulisan dalam berbagai bentuk yang isinya tentang keagamaan, lalu di posting lewat blogg, maka seribu tulisan tercipta. Seribu jika dikalikan jumlah pesantren yang ada di Jawa Timur saja, maka mungkin berjuta tulisan akan terbuat. Sehingga setiap kali orang mengakses berbagai hal, yang keluar adalah tulisan-tulisan karya para santri yang dijamin sehat untuk dikonsumsi, karena ratingnya yang semakin tinggi.

Semua harapan itu disampaikan oleh para tutor, salah satunya pak Novi yang begitu antusias menyambut para santri. Diprediksi beberapa tahun mendatang, mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan teknologi internet terutama. Jika penggunaannya semakin bebas, berarti tugas para santrilah untuk mendirikan tembok kuat agar kebebasan itu tidak berujung menyedihkan.

Sekarang ini, santri harus mulai peduli. Kalau bukan santri siapa lagi yang akan melanjutkan perjuangan para kiai. Santri harus mengenal teknologi, bukan berarti semua santri tanpa terkecuali harus berteknologi, sebab semua itu ada waktunya. Jika santri sejak awal hanya sibuk dengan teknologi, lalu bagaimana dengan mengajinya? Bagaimana dengan keilmuan agamanya? Sehingga perlu dimengerti bahwa para santri yang sudah dianggap senior atau cukup keilmuan serta benteng akidahnya harus mulai berjuang. Tidak ada salahnya jika santri dikenalkan tentang internet, namun pengawasan serta pengarahan harus tetap dilakukan, agar dapat menggunakan internet untuk sesuatu yang bermanfaat.”, ujar pak Novi menyampaikan harapan kepada para santri.

Lebih lanjtu beliau berpesan agar kita rajin-rajin membangun dan menjalin silaturrahim sesama santri, agar ukhuwah sesama pejuang Islam akan semakin kokoh. Sebab jika komunitas kita semakin banyak maka perkembangan dakwah juga akan semakin pesat dan mudah terakses.
Wal hasil, seorang pakar IT seperti pak Novi saja begitu perhatian terhadap Islam. Semua kemampuan yang dimilikinya digunakan sebaik mungkin untuk berdakwah. Lalu bagaimana dengan kita yang memang memiliki tanggung jawab sebagai santri?

*Adzikro@l_aqsho

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Kembangkan Jaringan Dakwah Melalui Teknologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *