Kejayaan Islam Cirebon pada Masa Sunan Gunung Jati

Thursday, August 16th 2018. | Tarikh, Uncategorized

Masa kepemimpinan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah (1479-1568) merupakan masa perkembangan sekaligus kejayaan Islam di Cirebon. Pada masanya, kemajuan bidang politik, keagamaan, dan perdagangan, sangat pesat. Selain penyebaran Islam dan keagamaan yang bercorak rohani, bukti-bukti kejayaan Syarif Hidayatullah di Cirebon juga dapat dilihat pada bangunan fisik. Semisal Tajug (Masjid), Kraton Pakungwati, yang kini berada di Kasepuhan, serta pelabuhan yang saat ini tidak seramai dahulu lagi.

Tajug dan Masjid

Pendirian tempat ibadah, khususnya masjid, telah dilakukan sejak Islam masuk di Cirebon. Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam, Pangeran Cakrabuana mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (jala bermakna air; graha artinya rumah). Masjid ini merupakan masjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. Masjid ini masih terpelihara dengan nama dialek Cirebon menjadi Masjid Pejalagrahan. Masjid yang berada di dalam Kraton Pakungwati, Kasepuhan, tersebut dibangun sekitar tahun 1454.

Selain itu, terdapat beberapa bangunan masjid pada masa Syarif Hidayatullah yang sampai hari ini diakui keberadaannya, yakni Masjid Merah Panjunan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Menurut salah seorang takmir masjidnya, sebelum Masjid Agung Sang Cipta Rasa berdiri, masjid Merah Panjunan dibangun terlebih dahulu sekitar tahun 1480. Bangunan kedua masjid terbagi menjadi 2 (dua), yaitu bangunan dalam dan luar masjid. Bagian dalam masjid digunakan hanya untuk waktu-waktu khusus dan luar masjid berfungsi untuk salat maktubah. Khusus untuk Masjid Merah Panjunan, bagian dalam hanya digunakan untuk shalat hari raya sebagaimana ciri khas masjid Cirebon lainnya.

Kejayaan era Syarif Hidayatullah juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat ini berada dalam lingkungan kompleks Kraton Kasepuhan. Masjid itu dibangun pada 1549. Simbol bangunan masjid melambaghkan filsafat Hayyun ila Ruhin (hidup tanpa ruh). Bentuk bangunan dan simbol-simbol dalam masjid semuanya sarat dengan makna filosofis.

Sistem Pemerintahan Cirebon

Setelah Sunan Gunung Jati menikah dengan Pakungwati, dimulailah pembangunan negara (kota) Carbon. Mulai dengan alun-alun dan istana yang kemudian terkenal dengan nama Istana Pakungwati (Pupuh 18, Dhandhanggula) sejak serah terima dari Pangeran Cakrabuana, Syarif Hidayatullah tinggal di Kraton Pakungwati.

Perkembangan Islam secara luas dan massif bermula dari tempat itu. Berbagai perubahan sistem pemerintahan yang berdasarkan nilai-nilai Islam mulai diterapkan. Keaktifan dakwah Islam Syarif Hidayatullah tidak melupakan penataan pemerintahan di daerah sekitarnya. Hal itu pula merupakan konskuensi dari bagian dirinya menjadi anggota penting di Walisongo. Syarif Hidayatullah di akhir hayatnya lebih memilih untuk menjadi seorang ulama, daripada penguasa dalam pemerintahan.

Baginya, kekuasaan cukup dijalankan oleh putranya di Banten. Mempertimbangkan hal itu, Syarif Hidayatullah menyerahkan kekuasaan pemerintahan di Cirebon kepada Pangeran Pesarean pada kurun waktu 1528-1552. Pesarean merupakan putra Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. Syarif Hidayatullah lebih memilih dan mengkhususkan dalam syiar Islam ke daerah pedalaman Dengan tidak aktifnya Syarif Hidayatullah dalam pemerintahan, maka dia mendapat julukan Pandita Ratu (ulama yang menjadi raja), tetapi lebih giat menjalankan keagamaan daripada bergerak di bidang politik.

Kraton Cirebon setelah ditinggal Syarif Hidayatullah mengalami berbagai kemunduran. Hal itu sejalan dengan perkembangan pesat dari beberapa kerajaan Islam di Jawa dan Banten. Penguasa Cirebon pernah mengantongi beberapa nama gelar, antara lain Panembahan Ratu dan Sultan. Dari berbagai sumber diketahui, bahwa perubahan nama gelar untuk penguasa di Kraton Cirebon itu juga menunjukkan adanya dinamika yang luar biasa. Terlebih lagi, setelah munculnya kaum kolonial atau masuknya VOC ke Cirebon.

Pelabuhan Pusat Perdagangan

Warisan Syarif Hidayatullah yang pernah menjadi jalur sutra perdagangan dunia internasional adalah pelabuhan. Pelabuhan Cirebon diduga berdiri seiring dengan kelahiran Cirebon pada 1371. Sebagai kota pantai, Cirebon merupakan pusat perdagangan untuk daerah sekitarnya. Selain itu, kota Cirebon juga menjadi alternatif kota pelabuhan terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta dan Semarang.

Pelabuhan Cirebon merupakan Pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Syarif Hidayatullah masih berkuasa. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara, pernah meramaikan pelabuhan ini. Pemandangan itu pun masih kita temui hingga saat ini. Bila kita berjalan-jalan di sore hari, maka akan kita saksikan puluhan kapalkapal besar tengah bersandar di dermaga.

Perkembangan pelabuhan paling pesat pada abad ke-19, bersamaan dengan era kolonialisme. Menurut Singgih Tri Sulistiono, pada saat penyebaran Islam ke daerah Babadan, Kuningan (Selatan Cirebon), Indramayu, dan Karawang, terjadi dengan damai dan tanpa kekerasan, mungkin fenomena ini bisa ditafsirkan sebagai upaya Cirebon untuk memperbesar posisinya di bidang perdagangan dan pelayaran dengan cara menguasai daerah pedalaman yang menjadi sumber penghasil komoditas perdagangan seperti beras dan kayu, serta sekaligus tempat mensuplai barang-barang dari luar.

Lebih-lebih pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah, penduduk kota pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon sudah lebih banyak. Saat ini, pelabuhan Cirebon mempunyai status pelabuhan internasional, pelabuhan samudra dan pelabuhan ekspor impor, yang berarti pelabuhan Cirebon terbuka bagi kegiatan bongkar muat barang dari dan ke luar negeri atau barang ekspor dan impor.

Adapun pelabuhan Cirebon dikelola oleh BUMN yang keberadaannya di bawah manajemen PT (Persero). Melalui pelabuhan Cirebon inilah sebagai salah satu sumber ekonomi terbesar di Kraton Cirebon sehingga dapat memenuhi kehidupan masyarakatnya. Tidak berlebihan dikatakan, jika pelabuhan tersebut kurang dimanfaatkan, maka kejayaan Cirebon juga sudah mulai tenggelam.

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Kejayaan Islam Cirebon pada Masa Sunan Gunung Jati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *