Kedudukan Qiyas dalam Pandangan Ulama Ushul

Wednesday, March 30th 2016. | Pemikiran

kitab-kuning

Kedudukan Qiyas dalam Pandangan Ulama Ushul

 

Dalam memutuskan suatu hukum, kita mengenal empat sumber hukum yang telah ditentukan, yaitu al-Qur’an, sunnah, ijma’, dan qiyas. Tingkat kekuatannya sebagaimana tangga nomor urutnya.

Al-Quran yang merupakan qonun yang langsung dari Allah tentunya menjadi sumber utama. Karenanya, bila terdapat suatu permasalahan, maka referensi utama yang harus diruju’ adalah al-Quran. Karena al-Quran masih bersifat global, bila kita tidak menemukan rujukan didalamnya, maka rujuk’an kedua adalah sunnah yang menjadi penjelasnya.

Bila dalam sunnah tidak ditemukan, maka melalui ijma’ ulama yang merupakan hasil analisa ulama terhadap al-Quran dan sunah. Baru kemudian mengikuti qiyas para mujtahid. Dari sahabat Mu’adz ra. Ia berkata, ketika Rasulullah mengutusnya ke Yaman, maka Rasulullah bertanya, ”Bagaimana kamu akan memutuskan perkara saat tampak kepadamu sebuah ketentuan?” Ia menjawab, ”Saya akan menentukan dengan kitab Allah.”

Rasul kembali bertanya, ”Bila tidak kau jumpai dalam kitab Allah?” Ia menjawab, ”Dengan sunah Rasulullah.” Rasul berkata, ”Bila tidak kamu jumpai dalam kitab dan sunah Rasulullah?” Ia berkata, ”Saya akan berijtihad dengan pendapat saya dan tidak akan kembali.” Mu’adz berkata, ”Maka Rasulullah memukul dadaku, kemudian berkata, ”Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Allah dengan apa yang Dia ridloi.” {HR.Ahmad,Abu Dawud,At-Turmudzi}

 

Pengertian Qiyas

Menurut bahasa, qiyas berasal dari masdar qaasa-yaqiisu, yang berarti ukuran. Sedangkan menurut istilah qiyas adalah menetapkan hukum suatu masalah furu’ (masalah yang tidak ada dalil nashnya) atas suatu masalah asal (masalah yang ada dalil nashnya). Penetapan hukum qiyas tidak boleh dilakukan sesukanya. Karena qiyas menempati nomor urut keempat sumber hukum, maka mujtahid yang melakukan qiyas harus terlebih dahulu melihat apakah suatu masalah terdapat dalam al-Quran, sunnah, dan ijma’ atau tidak.

Qiyas mempunyai empat rukun:

  1. Al-ashl, yaitu masalah yang hukumnya telah ditetapkan dalam al-Qur’an atau sunah. Masalah ini sekaligus menjadi sumber penqiyasan atau biasa disebut dengan musyabah bih atau maqis alaih.
  2. Furu’, yaitu masalah yang belum ditetapkan hukumnya dan menjadi masalah yang diqiyaskan.
  3. Hukum ashl, yaitu hukum yang ada pada masalah asal.
  4. Illat, yaitu sebab masalah atau keadaan yang dipakai sebagai penqiyasan pada pada masalah asal. Dengan syarat ‘illat tidak boleh berlawanan dengan nash.

Setiap rukun qiyas masing-masing mempunyai syarat :

  1. Ashl dan furu’. Sebagaimana pengertiannya, ashl disyaratkan harus berupa hukum terdapat dalam nash sedangkan furu’ tidak ada. Adapun furu’ tidak boleh mendahului ashl.
  2. Hukum ashl disyaratkan berupa hukum syara’ amali yang bisa dijangkau oleh akal dan bukan hukum yang dikecualikan.
  3. Illat, memiliki beberapa syarat :
  4. Berupa sifat yang jelas.
  5. Memiliki kekuatan, tidak terpengaruh oleh satu kejadian.
  6. Ada hubungan antara ‘illat dengan sifat yang menjadi ‘illat.
  7. Sifat yang menjadi ‘illat tidak dinyatakan batal.

Contoh hukum yang ditetapkan melalui qiyas adalah zakat fitrah menggunakan beras. Dalam al-qur’an atau hadits tidak ada ketetapan akan diperbolehkannya beras sebagai zakat fitrah. Namun, karena beras merupakan makanan pokok, sehingga ulama memperbolehkannya digunakan zakat sebagaimana gandum yang sudah tertera dalam hadits. Keduanya memiliki ‘illat yang sama yaitu berupa makanan pokok.

 

Pandangan Ulama

Jumhur ulama berpendapat bahwa qiyas termasuk empat mashodirul ahkam. Namun, ada sebagian ulama yang enggan menggunakan qiyas. seperti Imam Dawud bin Ali ad-Dzohiri yang hanya berpedoman pada dlohirnya al-Quran dan sunnah. Sementara itu, Imam Muhammad bin Hasan lebih senang melakukan istinbath menggunakan istihsan. Banyak riwayat yang mengatakan bahwa Imam Muhammad berkata, “aku melakukan istihsan dan meninggalkan qiyas.”

Terkadang istihsannya merujuk pada atsar yang tidak sesuai dengan ketetapan qiyas, terkadang pula merujuk pada asal ammah. Istihsan adalah meninggalkan suatu hokum yang telah ditetapkan pada hukum lainnya, sebab terdapat dalil yang mengharuskannya.

Selanjutnya, Imam Nidzom, ulama Syi’ah, dan sebagian Mu’tazilah Baghdad tidak menganggap bahwa qiyas termasuk jalan untuk menghukumi permasalahan syari’at. Sebagian ulama hanafiyyah juga mengatakan bahwa qiyas tidak berlaku untuk menetapkan had-had, kafarat, dan ukuran.

Berbeda dengan Imam Abu Hanifah yang lebih berpegang pada qiyas dalam berijtihad. Bila beliau tidak mendapati masalah dalam al-Qur’an, sunnah, dan perkataan sahabat, maka beliau menghubungkannya pada masalah yang terdapat nashnya dengan memperhatikan illatnya.

Dalam madzhab Hanafi, metode ini disebut dengan qiyas jali, kebalikan dari qiyas khofi atau istihsan. Memang Imam hanafi terkenal dengan  kehati-hatiannya dalam menerima hadits-hadits shohih. Beliau tidak sembarangan dalam menerima hadits sebagai dalil. Sehingga beliau mengambil illat permasalahan yang sudah jelas ada nashnya untuk menentukan suatu hukum masalah yang tidak ada nashnya.

 

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Kedudukan Qiyas dalam Pandangan Ulama Ushul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *