Kebahagiaan Santri Baru

Wednesday, August 24th 2016. | Essay

SANTRI BARU SEDANG BERCENGKRAMA BERSAMA TEMAN-TEMANNYA

Kebahagiaan Santri Baru

            Wajah-wajah baru kini banyak mengihiasi Langitan. Wajah dengan penuh semangat meraih cita-cita sembari tetap menjaga rohani agar tetap berjalan sesuai dengan ridlo-Nya. Wajah dengan kepolosan dan ketawadlu’an tapi penuh dengan dedikasi dan integritas. Semuanya datang dan berharap akan ilmu manfaat. Berharap dirinya tidak ikut terkubur dalam keterpurukan zaman dan budaya yang semakin lama terdegradasi oleh fitnah dunia.

Memang, pada tahun ini santri baru yang ada di Langitan naik dari presentase tahun sebelumnya. Dan memang dari tahun ketahun Pondok Pesantren Langitan akan selalu kebanjiran santri baru setiap awal tahunnya. Suasana wajah baru diawal tahun sebenarnya bukan hal baru. Namun, bagaimana jika kita menilik sekilas tentang mereka. Apalagi yang dari jauh hingga menyebranngi samudra.

 

Langitan Itu Menyenangkan

Wajah keceriaan terlihat begitu jelas dimata santri-santri baru itu. Beberapa dari mereka bahkan mungkin sudah lupa kesedihan hari kemarin karena baru saja berpisah dengan kedua orang tua, keluarga, kerabat, dan sahabat yang ada dirumah. Tentusaja karena disini mereka telah menemukan keluarga baru. Keluarga yang selalu menemani mereka dalam senang dan susah. Keluarga yang akan menemani mereka mendapatkan warisan para nabi. Keluarga yang akan menemani mereka menuju jalan bahagia.

Seperti yang dikatakan oleh Taufiqurrahman dan Muhammad Arsyad, kedua santri yang berasal dari Kalimantan ini mengaku sudah betah karena banyak teman yang menemani dipondok. Uniknya, meski dari jauh dari pondok, kedua santri yang masih berumur 11 tahun ini pergi ke Langitan atas kemauan mereka sendiri. Mareka tau Langitan karena memang banyak dari tetangga dan keluarganya ada di Langitan. Kedua santri yang sekarang tinggal di komplek Al-Asy’ari ini mengaku betah dan senang di Langitan karena banyaknya teman dan cara bagaimana mereka bersahabat. Seperti makan bersama dengan menggunakan talam yang dikerubungi dengan bahkan oleh 10 santri, tidur dengan berjejer, belajar bersama sesudah jama’ah maghrib, sekolahnya, dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan layaknya sebuah keluarga.

Beda alasan dengan Muhammad Fadel As’adi, santri yang datang dari Pulau sumatera ini mengaku datang ke Langitan karena tau dari saudaranya yang sudah mondok di Langitan. Dan sekarang, saudaranya telah pulang kerumah. Tapi walaupun begitu, santri yang kini menempati komplek Al-Maliki ini tetap akan berada di Langitan. Ia memantapkan dirinya bahwa ia akan tetap berada di Langitan walaupun saudaranya telah kembali ke desa.

Beda lagi dengan M. Nur Andika Adi Candra. Santri asal Lamongan yang sekarang bertempat di komplek al-Hambali ini mengaku pergi ke Langitan kerena ingin menimba ilmu agama, agar bisa mengerti agama, dan bisa membahagiakan orang tua. Semua keluarganya alumni Langitan hingga ia pun memutuskan untuk pergi ke Langitan. Dengan polos ia menjawab, merasa senang di Langitan karena semuanya baik. Mulai dari teman-temannya, pengurus, dan guru semuanya begitu baik.

Santri yang pernah menimba ilmu di Nganjuk ini mengaku ingin menjadi dokter, karena dengan menjadi dokter ia ingin bisa membahagiakan orang tua, membantu orang banyak dan lain sebagainya.

 

            Pengurus Yang Selalu Menemani Santri

Orang tua tidak perlu risau jika merasa mungkin anaknya ‘tidak diperhatikan’. Selama 24 jam, santri akan terus diawasi oleh pengurus tentang bagaimana perkembangan santri selama menjalani rutinitas dipondok. Dengan sekuat tenaga mereka akan tetap melayani. Saat santri sakit, penguruslah yang akan cepat bertindak mengantarkan mereka ke Puskestren (Pusat Kesehatan Pesantren). Atau jika sakit itu cukup akut, mereka yang akan mengantarkannya ke Rumah Sakit terdekat.

Saat belajar pun semua santri akan dibimbing oleh pengurus yang sudah ditentukan. Seperti belajar setelah jama’ah Maghrib ataupun waktu lainnya. Saat jama’ah akan segera dimulai, para pengurus akan berkeliling pondok dan mengingatkan agar semua santri segera pergi ke Mushola.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ust. Abdul Kafi, pengurus dari ribath Al-Maliki ini mengaku di kompleknya sendiri, santri baru meningkat 3 kali lipat dari tahun sebelumnya. Semuanya al-hamdulillah betah meski prosesnya berbeda-beda, ada yang langsung bertah dan ada yang bertahap. Semuanya dikembalikan dari karekter santri sendiri, apakah ia pandai beradaptasi ataupun tidak.

Dari awal, semua pengurus sudah ikut berpartisipasi. Dimulai dengan sedikit-demi sedikit, santri baru dikenalkan dengan budaya pondok. Mulai dari shalat tahajudnya, sholat shubuh dengan bangun awal, dan lain sebagainya. Semua santripun sedikit demi sedikit diberi inovasi dan pengarahan tentang bagaimana cara bermasyarakat dipondok.

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Kebahagiaan Santri Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *