Kearifan Seorang Kiai Pedesaan

Friday, May 3rd 2013. | Jejak Utama, Uswatun Hasanah

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
Rector UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tugas kiai sehari-hari yang dianggap penting adalah berdakwah, mengajarkan dan memberi tauladan tentang hidup yang seharusnya dijalankan menurut ajaran Islam yang dipahjaminya. Amanah itu tidak mudah ditunaikan. Mengajak kebaikan, dan sebaliknya melarang kemungkaran, ternyata tidak selalu mudah ditunaikan. Semua orang tahu, bahwa berjudi, meminum minuman keras, dan lain-lain itu, adalah merugikan dan bahkan menurut aturan pemerintah maupun agama dilarang atau tidak boleh dilakukan. Akan tetapi, toh oleh sementara orang masih dilaksanakan.

Tidak saja kiai di kota yang memiliki banyak tantangan, di pedesaan pun juga demikian, sama. Perilaku menyimpang selalu ada di mana-mana, baik di kota maupun di desa. Dalam kehidupan ini selalu berpasang-pasangan, ada kebaikan dan kejelekan. Ada kejujuran juga ada khianat, ada orang sabar, tetapi ada juga orang yang tidak sabar, dan seterusnya. Semua itu adalah merupakan isi dunia dalam kehidupan ini.

Kiai di pedesaan seringkali menghadapi kebiasaan orang-orang yang melakukan hal tidak semestinya, seperti berjudi, meminum minuman keras, dan lain-lain. Kiai tahu bahwa para pelaku perbuatan itu sebenarnya sudah mengeri bahwa apa yang dilakukannya adalah keliru dan tidak dibolehkan. Akan tetapi mereka tetap saja menjalankannya. Oleh karena itu cara mencegahnya, kiai tidak saja menerangkan kepada mereka bahwa perbuatan itu tidak dibolehkan dan dilarang, baik oleh negara maupun agama. Akan tetapi, para kiai mengubah kebiasaan itu dengan caranya sendiri, yaitu dengan penuh kearifan.

Suatu ketika saya pernah berdialog dengan kiai pedesaan. Lewat dialog itu saya pernah mendapatkan pengalaman tentang cara kiai mendidik masyarakat, yang menurut hemat saya sangat menarik. Kiai sama sekali tidak pernah menggunakan pendekatan kekerasan, dan bahkan secara terus terang melarang perbuatan itu. Bahkan, sangat aneh, kiai tersebut justru pernah memberi peluang kepada para penjudi itu untuk berjudi dan meminum minuman keras.

Menurut kisah yang dituturkan oleh kiai sendiri, bahwa suatu ketika ia diundang ke rumah seseorang untuk memimpin doa. Kiai tahu bahwa, menurut kebiasaan di desa itu, ketika diselenggarakan hajatan, di rumah itu juga diselenggarakan acara minum minuman keras bersama-sama, dan juga judi. Akan tetapi, ketika kiai ada di tempat itu, kebiasaan buruk itu oleh mereka dihentikan sendiri. Dengan cara itu, mereka ingin menghormati kehadiran dan posisi kiai. Seolah-olah, ketika kiai ada di tempat itu, judi dan meminum minuman keras tidak ada.

Umpama kiai terus menerus berada di tempat itu, kegiatan yang dilarang oleh agama tersebut tidak akan dilaksanakan, oleh karena mereka menghormati kiai. Akan tetapi, selesai menunaikan tugasnya, kiai segera meninggalkan tempat itu, agar tidak dianggap sebagai pengganggu mereka, untuk melakukan kegiatan yang sebenarnya dilarang itu. Kiai tahu, bahwa andaikan kegiatan itu dilarang olehnya, mereka akan menjauh. Dan, ketika orang yang menyukai berjudi itu menjauh dari kiai, maka peluang untuk memberikan nasehat dan dakwahnya tidak akan dimiliki lagi.

Menurut pandangan kiai, bahwa yang penting para pelaku kemungkaran itu tetap menghormati dan menghargai posisi para ulama. Dengan cara itu, ia berharap agar para ulama masih dituakan, disegani, dan bahkan dicintai. Kiai memahami betul bahwa sebenarnya, para pelaku kemungkaran itu tahu bahwa apa yang diperbuat adalah salah, atau tidak sesuai dengan panggilan hati nuraninya masing-masing. Hanya saja mereka tidak memiliki kemampuan untuk menjauh dari perbuatan itu. Kiai berpandangan bahwa dalam mendidik orang harus dengan cara mendekat, dan bukan sebaliknya, menjauh. Sepanjang mereka masih mau mendekat kiai, maka masih terdapat peluang mereka kembali kepada ajaran agamanya.
Kiai berpendapat bahwa, sekalipun mereka itu suka berjudi, meminum minuman keras, dan juga melakukan kejahatan lainnya, asalkan masih mau mendekat, menghormati dan menghargai ulama, mereka masih memungkinkan berubah. Sesuatu yang ditakuti oleh kiai adalah ketika mereka itu sudah membenci, dan tidak menghargai serta menghormati posisi kiai. Keadaan seperti itu, akan menjadikan mereka sulit diubah dan dikendalikan.

Mendengar cerita langsung dari kiai itu, saya mencoba bertanya, tentang apa yang menjadi dasar kiai memilih pendekatan berdakwah seperti itu. Ternyata, dengan jelas kiai berargumen, bahwa Rasulullah saja dulu juga pernah dilempari kotoran oleh orang-orang yang membencinya. Akan tetapi Nabi tidak pernah membalas kejelekan itu. Bahkan ketika orang yang membenci itu dikabarkan sakit, nabi justru mendatangi rumahnya untuk menjenguk. Dengan cara itu, hatinya yang keras, dan semula membenci nabi menjadi berbalik, mencintai dan akhirnya mengikuti ajaran Rasulullah.

Ternyata, kiai di pedesaan memiliki kearifan yang tinggi. Mengajak ke jalan kebaikan bukan dengan kekerasan, tetapi sebaliknya justru dengan kelembutan dan kasih sayang. Menurut pandangan kiai, orang yang melakukan penyimpangan, jangan malah dijauhi, tetapi harus didekati dan diberikan perhatian lebih. Dakwah atau mendidik, apalagi terhadap masyarakat yang merasa memiliki otoritas dan kebebasan, harus melalui kasih sayang atau dalam ajaran Islam, lewat bilhikmah. Rupanya memang dalam berdakwah atau mendidik masyarakat di alam demokrasi seperti ini dituntut lebih arif, yang hal itu ternyata telah dijalankan oleh kiai pedesaan sebagaimana kisah di muka. Wallahu a’lam.

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Kearifan Seorang Kiai Pedesaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *