Keajaiban Bayi – Psikologi dan Intelegensi Bayi

Wednesday, July 25th 2018. | Keajaiban

Betapa senangnya pasangan suami-istri (pasutri) yang sebentar lagi dianugerahi bayi. Pun sebaliknya, betapa merananya pasutri yang kerap berdoa mengharapkan bayi, namun belum mendapat ‘jawaban’ dari Sang Pencipta. Bagaimanapun, bahtera rumah tangga terasa kurang lengkap tanpa buah hati. Itulah mengapa, banyak suami bersuka cita ketika menerima kabar dari dokter bahwa istrinya sedang hamil. Bahkan, menurut perspektif kalangan tertentu, banyaknya anak menunjukkan melimpahnya rezeki. Tak heran jika sebagian orang berlomba ‘menambah’ anak guna memancing datangnya karunia Tuhan.

Bahan Refleksi

Bagi orang-orang yang beriman, kehadiran bayi dalam kehidupan rumah tangga tentu menjadi ‘ibrah dan bahan refleksi. Betapa Allah telah menunjukkan kebesaran dan keagunganNya melalui ciptaanNya. ‘Hasil kreasi’ Tuhan terlebih sekarang dapat ditelisik menggunakan peralatan modern. Jika pada zaman dahulu, seorang ibu tidak mungkin melihat kondisi janin dalam perutnya, maka kini ia bisa mengetahui keadaan calon bayi dengan bantuan sarana medis yang canggih dan akurat.

Dengan memperhatikan gerak-gerik bayi, seseorang akan meyakini bahwa Allah Swt. telah menganugerahkan beragam kompetensi, potensi, bahkan keistimewaan bagi makhluk hidup. Dari kegiatan ini, akan timbul pemikiran bahwa keberadaan manusia tak terlepas dari proses penciptaannya. Eksistensi alam rahim menggambarkan bahwa sebelum lahir ke dunia, bayi mesti melewati berbagai tahap. Mengenai hal ini, Allah Swt. berfirman dalam Surat al-Mu’minun ayat 12-14, yang artinya:

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik.”

Adapun dalam Surat Fatir ayat 11 disebutkan, yang artinya: “Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.”

Bagi para ilmuwan, hal-hal yang berkaitan dengan janin dalam kandungan memantik mereka untuk melakuan riset dan kajian mendalam. Itulah mengapa, dalam jagat keilmuan lahir embriologi, cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari perkembangan embrio dalam rahim ibu. Dalam perkembangannya, embriologi berusaha menelusuri “bagaimana sel tunggal membelah dan berubah selama perkembangan untuk membentuk organisme multiseluler”.

Hasil Penelitian

Berdasarkan film What Babies Wants tentang ibu hamil dan bayi dalam kandungan, David Chamberlain berkata, “Bayi telah memiliki kesadaran jauh sebelum dilahirkan. Di dalam rahim, bayi mendengarkan suara tawa ibunya, janin juga ikut merasakan emosi ibu. Bisa dibayangkan jika ibu dan ayah bertengkar, bayi di dalam kandungan ikut mengalaminya.”

Psikolog yang memusatkan diri pada penelitian psikologi pralahir dan psikologi keluarga itu juga menjelaskan bahwa pada waktu dilahirkan ke dunia, bayi ingin diperlakukan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, dihargai serta diterima oleh ibu dan lingkungan sekitarnya. Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 1997 menunjukkan kematian anak usia 5-17 tahun merupakan akibat bunuh diri. Fakta tersebut tentu membuat siapa pun dilanda kesedihan. Para peneliti menemukan keterkaitan antara data ini dengan penelantaran psikologis yang dialami oleh anak sejak berada dalam kandungan hingga tumbuh besar. (Marzyda Amalyah, 2014: 50).

Mengutip buku Hypno-Birthing: Hadiah Cinta dari Langit, film What Babies Wants juga mengungkap bahwa kehamilan membawa seluruh karunia Tuhan ke bumi. Dengan demikian, secara intuitif, biasanya seorang ibu mampu menjalin komunikasi dengan janin dan menghargai kehadiran bayi. Film ini merupakan dokumentasi bidang edukasi melalui pendekatan holistik terhadap kehamilan dan persalinan yang dikaitkan secara cermat oleh kaum peneliti. Lebih lanjut, film ini juga memuat fenomena psikologis dan sosial di kalangan anak dan remaja.

Dalam taraf tertentu, bayi mempunyai kecerdasan luar biasa. Menurut Alison Gopnik, Andrew N. Meltzoff, dan Patricia K. Kuhl (1999: 266-267), bayi dan balita mampu menggunakan aktivitas tiruan guna mempelajari hal-hal baru tentang bagaimana dunia fisik bekerja. Bayi yang menyaksikan orang dewasa memakai sebuah alat dengan cara tertentu akan mempelajari fungsi alat tersebut dengan baik. Bagi bayi, imitasi merupakan mekanisme bawaan dalam rangka mempelajari apa yang dikerjakan oleh orang dewasa.

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , ,

Related For Keajaiban Bayi – Psikologi dan Intelegensi Bayi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *