Katakan “Tidak” pada Hutang, Hidup akan Bahagia “Probelematika Hutang-Piutang dalam perspektif Islam” [Bagian Kedua]

Tuesday, October 14th 2014. | Fiqih

bayar-utangDunia bagi seorang mukmin adalah arena ujian. Adakalanya ia sukses mengarungi hidup. Sabar atas segala cobaan yang silih berganti menghantam bagaikan badai. Tapi, tak tertutup kemungkinan ia bisa gagal dan jatuh tersakiti.

Ada banyak cobaan hidup. Hutang adalah salah satunya karena, kian hari utang menjadi sesuatu hal yang hampir tak bisa lagi terhindarkan.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam edisi 55 bahwa hutang piutang adalah salah satu bentuk akad yang bertujuan memberikan santunan atau uluran tangan kepada orang yang membutuhkannya. Karenanya, pihak pertama yang berperan sebagai pemberi uluran tangan atau yang biasa disebut dengan kreditur tidak dibenarkan untuk mengeruk keuntungan dari uluran tangan. Kreditur hanya dibenarkan mencari keuntungan dari balasan Allah; berupa pahala, keberkahan hidup, dan keridhaan-Nya. Bahkan bila pihak kedua belum mampu membayar hutang, maka Anda sebagai kreditur berkewajiban untuk menundanya hingga ia berkelapangan, sehingga mampu menunaikan kewajibannya:

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ

“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan…” (QS. al-Baqarah: 280)

Berikut ini kami ulas kembali beberapa hal yang berkaitan dengan akad hutang-puitang sebagai penyambung tulisan pada edisi sebelumnya

 

Hutang petani atas penjual pupuk

Hampir di setiap daerah, petani yang berhutang pupuk atau benih kepada seseorang, ketika panen ia harus menjual hasil panennya kepada orang tersebut. Penjualannya pun beragam. Ada yang berharga lebih murah dari standar umum, ada yang setara dengan umumnya. Dalam akad perhutangan juga bervariasi. Ada yang secara suka rela menginginkan imbal jasa kepada penjual yang telah menghutanginya, ada yang dengan jelas menyaratkan agar panennya di jual kepada yang menghutangi.

Permasalahan ini hampir sama dengan masalah kedua (Antara riba dan pembayaran melebihi nominal). Semua hutang yang menyaratkan adanya manfaat maka di hukumi riba. Namun jika syarat tersebut tidak dalam akad maka hukumya makruh. Apabila pihak yang berhutang merelakan hasil panen dibeli murah tanpa terikat syarat maka juga tidak apa-apa (toh sunah memberi kelebihan dalam membayar). Adat masyarakat yang banyak menjual hasil panennya kepada penjual pupuk tidak di anggap sebagai syarat yang bisa membatalkan akad. (Ianah at-Thalibin [3]: 65, Asybah wa an-Nadza’ir: 96, Is’ad ar-Rafiq [1]: 144)

 

Barang gadaian dan penyitaannya

Barang gadaian ialah sesuatu yang dijadikan alat kepercayaan atas hutang seseorang karena tidak sedikit orang berhutang namun lari dari tanggung jawab untuk membayarnya. Terkadang, ‘kenakalan’ juga dilakukan pihak yang menghutangi, karena penghutang belum bisa membayar sesusai tempo. Akhirnya ia menyita barang gadaian yang selanjutnya barang tersebut di miliki pihak pegadaian sebagai ganti dari hutangya.

Hukum menyerahkan barang untuk dijadikan kepercayaan atas sebuah hutang itu diperbolehkan, meskipun barang gadaian tersebut bukan milik pribadi atau pinjaman, karena barang tersebut sekedar jaminan bukan dijual. Adapun syarat: “Apabila jatuh tempo pembayaran belum dibayar maka penghutang harus menjual barang gadaiannya senilai uang yang dipinjam”, maka kasus ini dianggap tidak sah karena ada pembatasan waktu akad gadai serta menggantungkan akad jual beli. Atau dalam artian dengan mengkaitkan akad satu dengan akad yang lain. (Mughni al-Muhtaj [3]: 53, Hasyiyata Qulyubi wa Umairah [3]: 82)

 

‘Mampu’ sebelum waktuya bayar hutang

Banyak orang mencari pinjaman untuk memajukan bidang usahanya. Andaikan janji waktu yang ditentukan adalah setahun untuk membayar hutang, dan belum genap setahun orang tersebut sudah kaya, apakah penundaan pembayaran yang semacam ini termasuk zalim? S ebagaimana hadis Nabi, “Penundaan orang yang sudah mampu atas hutangnya adalah zalim.”

Arti penundaan hadis tersebut adalah adalah menolak membayar hutang saat jatuh tempo. Maka tidak termasuk “penundaan” apabila belum masuk temponya meskipun dia sudah mampu. Hal itu jika tempo pembayaran disepakati waktunya, apabila tidak ada batas waktunya maka adat/kebiasaan umum masyarakat yang di jadikan standar. Toh demikian, alangkah baiknya sesegera mungkin membayar hutang jika sudah mampu meski belum jatuh tempo karena hasrat manusia selalu bergelora, tiada batasnya. Bukankah Rasulullah bersabda: “Sedikitkanlah hutang maka kamu akan hidup merdeka.” Artinya hidup jadi lebih bahagia. (Al-Muntaqa [5]: 67)

 

[Abdul Mubdi]

Comments

comments

tags: ,

Related For Katakan “Tidak” pada Hutang, Hidup akan Bahagia “Probelematika Hutang-Piutang dalam perspektif Islam” [Bagian Kedua]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *