Karyanya Ramai Diperbincangkan di Timur Tengah

Friday, May 26th 2017. | Jejak Utama

 

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menyebutkan bahwa kitab kuning adalah buku bacaan yang dipelajari kalangan pesantren atau masyarakat khususnya di Indonesia. Kitab kuning ditulis dengan bahasa Arab atau Arab pegon baik Melayu, Jawa, Sunda, dan lainnya. Kitab kuning sudah menjadi budaya universal sehingga para penulisnya tidak hanya berasal dari Timur Tengah. Indonesia sendiri memiliki banyak nama yang disebut sebagai tokoh Kitab Kuning. Sebut misalnya, Syaikh Nawawi al-Bantani, Syekh Abdul Shamad al-Palimbani, Syekh Yusuf Makasar, Syaikh Syamsudin Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Syaikh Ihsan al-Jampesi, dan Syaikh Muhammad Mahfudz at-Tirmasi. Mereka adalah ulama salaf yang menjadi panutan dalam berkarya.

Nah, jika berbicara ulama kontemporer yang produktif dalam berkarya, KH. Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz adalah tokohnya. Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, Jawa Tengah ini dikenal sebagai sosok sederhana dengan karya yang mendunia.

Almaghfurlah KH. MA Sahal Mahfud atau yang biasa dikenal dengan Mbah Sahal adalah ulama kharismatik yang disegani banyak pihak, tidak hanya masyarakat Indonesia yang menjadikannya sebagai guru bangsa, tetapi kalangan ilmuan luar negeri juga mengapresiasi lewat karya-karya Mbah Sahal untuk dijadikan referensi.

Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia, Musthafa Ibrahim al-Mubarak sangat kagum terhadap tokoh ini dan mengenalnya sebagai pribadi yang rendah hati, tawadu’, dan tidak banyak berbicara. Kepakaran dan kepiawaiannya dalam bidang ilmu agama, tidak lagi diragukan.

Musthafa bahkan sempat takjub dengan pemikiran-pemikiran Mbah Sahal. Ini setelah Musthafa menelaah secara langsung karya-karya beliau, di antaranya al-Faraidlu al-Ajibah, Intifahu al-Munazharat al-Ulamai al-Hajain, dan Faidhu al-Hijai. “Ini capaian keilmuan yang luar biasa”, sebut Musthafa saat menghadiri tahlilan untuk almarhum Mbah Sahal di Gedung MUI, Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat.

Musthafa juga mengapresiasi semangat belajar almarhum. Beberapa kali Sang Dubes berkunjung ke Maslakul Huda dan menyaksikan langsung ribuan referensi yang terpajang di ruang utama kediaman Mbah Sahal.

 

Karyanya Diminati di Mancanegara

Lebih khusus tentang karya Mbah Sahal yang berjudul Thariqat al-Hushul (Jalan Sukses atau Jalan Menuju Sukses), kitab ini bukanlah buku motivasi berisi tips-tips kesuksesan, namun Thariqat al-Hushul adalah syarah  kitab Ghayat al-Wushul (kitab ushul fiqh yang masyhur di kalangan ulama fiqh dan banyak dikaji di pesantren Indonesia) karangan Abu Zakariya al-Anshari, ulama Syafiiyah abad ke-9 H.

Kitab setebal 600 halaman ini ditulis saat Mbah Sahal mendapat amanah mengajar teman-temannya di Pesantren Sarang, Jawa Tengah. Di pengantar karyanya, Mbah Sahal menulis bahwa sekitar tahun 1380 H (1961 M), ia diminta teman-teman santrinya mengajarkan kitab Ghayat al-Wushul, Mbah Sahal yang saat itu masih berusia 24 tahun memulai mengajar setelah mendapat rida dan izin gurunya, Kiai Zubair bin Dahlan (ayah KH. Maimun Zubair). Waktu mengajar, Mbah Sahal menuliskan banyak catatan penjelasan tentang isi kitab Ghayat al-Wushul. Setelah itu dikumpulkan menjadi sebuah kitab tebal yang dicetak pertama oleh penerbit Dianatama Surabaya pada tahun 2000 M./1421 H.  dengan judul Thariqat al-Hushul ala syarhi Ghayat al-Wushul.

Seperti dilansir dalam NU online, Ketua Pengelola Perpustakaan PBNU, Syatiri Ahmad mengatakan kitab karya Mbah Sahal menjadi sumber referensi utama di salah satu universitas di Timur Tengah. “Selain patut diapresiasi, perihal ini juga dapat mendorong para kiai di Indonesia untuk lebih produktif dalam menulis kitab.” Selain di Sudan, karya Kiai Sahal ini juga ramai diperbincangkan di kawasan timur tengah.

 

Keilmuannya Sejajar dengan para Pendahulu

Kepergian Mbah Sahal tidak hanya berbuah duka mendalam bagi bangsa Indonesia, tapi  juga kehilangan tokoh sekaligus panutan bagi segenap muslim dunia. Kedalaman ilmu dan keteladanan sosok yang disebut “Fuqaha Modern” ini bisa menginspirasi generasi pesantren khususnya dan semua umat Islam umumnya.

  1. Musthafa Bisri (Gus Mus) menyampaikan, Kiai Sahal merupakan kiai terakhir di lingkungan Nahdlatul Ulama yang memiliki keilmuan yang sejajar dengan Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, dan Kiai Bisri Syansuri.

“Bahkan Kiai Sahal satu-satunya faqih (ulama ahli fiqh) yang tidak hanya menguasai ilmu fiqh dan ushul fiqh, beliau juga sangat menguasai ilmu kemasyarakatan. Dengan penguasaan ini, Kiai Sahal mampu membawa kitab yang disusun pada zaman Rasullah, para sahabat dan tabi’in untuk disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini”, tambah Gus Mus. Wallahua’lam.

 

[Umar Faruq]

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , ,

Related For Karyanya Ramai Diperbincangkan di Timur Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *