Kampung Arab di Langitan

Tuesday, December 22nd 2015. | Keluarga

 

antusias. para muhadlir muhadloroh amm yang dilakukan di halaman madrasah

Pukul 03:30 Wib, suara ‘celoteh’ menjalin membangunkan santri yang masih asyik dengan mimpinya. Semua santri diharuskan untuk melaksanakan shalat tahajud. Anggota keamanan dan pengurus ribath berkeliling membangunkan semua santri agar lekas bermunajat kepada Allah. Di samping bertujuan agar kerohanian santri tertata dengan baik, hal ini dilakukan dengan maksud mendo’akan guru, keluarga, sanak, dan terutama orang tua. Dengan demikian, mereka mempunyai ketenangan jiwa, karena setiap hari terbiasa bermunajat.

Pukul 04:00 Wib, halaman madrasah dipenuhi dengan santri berjubah. Menghadap kiblat, mereka terdiam penuh khusyuk. Terdengar untaian dzikir “Ya Lathif… Ya Lathif… dari speaker yang ditaruh di depan asrama. Untaian kalimat itu membuat hati siapa saja yang mendengarnya menjadi tenang, ditumbuhi benih-benih cinta. Setiap lafadzya bagaikan embun yang menyejukkan hati. Mereka mengharapkan ampunan, di saat kebanyakan manusia masih asyik dengan sisa mimpi yang mengambang dalam angan.

Begitu kiranya, awal pagi yang dilewati penduduk Darut Tauhid. Sebuah tempat yang didirikan atas rekomendasi Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani dengan uang beliau sendiri. Tempat yang dikhususkan bagi santri Aliyah Langitan untuk memperdalam bahasa Arab dan mempraktekkan ilmu yang mereka cari selama menempuh pendidikan sebelumnya. Sejak didirikan, Darut Tauhid memang sedikit banyak telah mengubah wajah PP. Langitan. Bahkan Langitan pernah menjadi barometer utama dalam pembelajaran bahasa Arab.

Angggota lajnah berdiri didepan bangunan  Darut Tauhid

Angggota lajnah berdiri didepan bangunan Darut Tauhid

“Kampung Arab”

Berawal dari keinginan Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani untuk membangun sebuah kompleks yang berfungsi sebagai media pembelajaran bahasa Arab, Darut Tauhid (DT) didirikan. Dari sinilah kemudian muncul gagasan untuk menjadikan Langitan sebagai “kampung Arab”. Tepatnya, bahasa Arab wajib menjadi media komunikasi bagi semua penduduk Darut Tauhid pada hari Jum’at sampai Senin. Sedangkan untuk kompleks selain DT, bahasa Arab digunakan khusus pada hari Jum’at.

Terkait dengan hal di atas, Syaikhina Abdullah Faqih rahimahumullah semasa hidupnya telah memberikan dukungan, baik secara lisan, tulisan, maupun tindakan. Tulisan beliau yang menekankan agar santri berbahasa Arab hingga sekarang masih tersimpan dengan baik. Jika santri pada waktu yang ditentukan tidak memakai bahasa Arab (Mujawiz) ketika berbincang atau berkomunikasi, maka akan ditakzir.

Pentakziran bagi santri yang melanggar variatif. Ada yang menghafal mufrodat (kosa kata), membuat insya’ (karangan), dan lain-lain. Semuanya dilakukan agar santri memiliki kesadaran dan semangat untuk bisa berbahasa Arab.

Suasana halaqoh yang dilakukan setelah jama'ah maghrib

Suasana halaqoh yang dilakukan setelah jama’ah maghrib

Metode Penerapan

Lajnah Lughoh dibentuk dalam rangka mengkoordinir semua kegiatan yang berlangsung. Lajnah Lughoh Amm diutamakan untuk mengurusi semua kegiatan lughoh. Sedangkan Lajnah Lughoh Darut Tauhid difokuskan untuk meningkatkan mutu berbahasa Arab santri Aliyah yang bermukim di Darut Tauhid.

Metode yang digunakan memang cukup sederhana; sima’i (mendengar) dan tatbiq (menirukan & mempraktikkan). Dengan 2 metode ini, diadakan juga kegiatan-kegiatan latihan pintar berbahasa Arab selain percakapan setiap hari. Seperti khitobah (pidato) dengan menggunakan bahasa Arab pada hari Selasa, halaqoh (santri membuat lingkaran untuk belajar bahasa Arab bersama), muhawaroh hari Jum’at dimana semua santri Darut Tauhid kembali ke pondok asalnya masing-masing untuk mengajari adik-adiknya bagaimana berbicara bahasa Arab, muhadloroh sebagai bahan latihan bahasa, tarqiah yakni santri kelas 2 MAF mengajari adik-adiknya yang masih duduk dikelas MIF, hingga pemutaran film religi dengan bahasa Arab. Sering juga dari anggota Lajnah memanggil tutor untuk menginspirasi dan menambah pengetahuan santri akan bahasa Arab.

anggota lajnah bersama KH. Abdurrahman Faqih

Anggota lajnah bersama KH. Abdurrahman Faqih

Bahasa Penghuni Surga

Langitan dengan semua keistimewaannya adalah pondok yang lengkap. Dengan prinsip salafnya, Langitan selalu berusaha mempertahankan nilai klasik namun juga tidak anti dengan hal-hal modern. Di sini, diajarkannya bahasa Arab merupakan kelebihan tersendiri. Buktinya, dibangun sebuah kompleks elit bernuansa Arab yang menjadi wajah Langitan.

Bahasa Arab dengan semua keistimewaannya tentu saja wajib dipelajari oleh santri. Bagaimana bisa memahami al-Qur’an tanpa mengerti bahasa Arab. Bagaimana mungkin seseorang bisa memahami hadist Nabi dan kitab-kitab kuning jika tidak memahami bahasa Arab.

Dengan niat ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad Saw., santri Langitan menggunakan bahasa Arab dalam kesehariannya. Harapannya, semoga mereka bisa bersama Nabi bermukim di surga. Sebagaimana diketahui, penduduk surga tidak akan berbicara, kecuali menggunakan bahasa Arab.

fotone dullah

Abdullah (Rais Lajnah Lughoh Amm Langitan)

 

Abdullah (Rais Lajnah Lughoh Amm Langitan)

“Sebenarnya saya sendiri juga tidak menyangka bisa berbicara dengan bahasa Arab. Tapi karena ada sebuah cinta dan niat, lama-lama saya bisa bahasa arab dengan sendirinya walau dengan tatanan bahasa yang masih jauh dari kata sempurna.”

Sekarang, dengan menjadi pengurus Lajnah kami berkeinginan untuk membumikan bahasa Arab di ma’had tercinta. Dengan harapan, semoga bisa seperti dulu dimana Langitan dikenal sebagai markaz lughoh dan menjadi barometer dari pondok-pondok lain dalam sisi bahasanya.

Untuk menjalankan program, yang dibutuhkan adalah kekompakan antara pengurus ribath agar mau membimbing anak-anaknya agar mau berbahasa Arab. Caranya adalah dengan mengenalkan kepada mereka bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang indah dan menyenangkan”.

 

 

fotone jauhar

Abdullah Jauhar (Rais Lajnah Lughoh Darut Tauhid, Langitan)

Abdullah Jauhar (Rais Lajnah Lughoh Darut Tauhid, Langitan)

“Bahasa Arab di Langitan sangat baik karena selain dengan diadakannya latihan di setiap kesempatan, juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik dari Majlis Masyayikh, A’wan, juga terutama Romo Kiai Abdullah Faqih rahimahumullah.

Teman-teman Darut Tauhid dan kompleks lain semuanya mendukung dan ingin agar bisa berbahasa Arab. Tapi kendalanya adalah kurangnya kemampuan, hingga dibentuklah program-program pintar berbahasa Arab agar keinginan mereka bisa terpenuhi dengan baik. Dulu, santri-santri diberi masukan bahwa kita berbicara bahasa arab adalah agar bisa mempelajari Al-Qur’an, Hadist, dan kitab-kitab kuning. Namun sekarang, selain hal yang telah disebutkan sekarang kita lebih menekankan bahwa kita berbicara dengan menggunakan bahasa Arab adalah dengan niat ittiba’ (mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.)”.

 

 

fotone udin. al-farobi (kosi')

Udin Al-Farobi (Anggota Lajnah ‘Arobiyyah Darut Tauhid)

Udin Al-Farobi (Anggota Lajnah ‘Arobiyyah Darut Tauhid)

“Bahasa arab di Langitan selalu menampakkan kesan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan sebenarnya saya juga tidak terlalu mahir untuk berbahasa Arab. Tapi entah, ketika diadakan acara bahasa Arab saya selalu semangat dan selalu memilih untuk duduk didepan. Saya juga heran kenapa sampai bisa menjadi anggota Lajnah. Tapi semua itu saya lakukan saja, dengan niat ihya’us sunnah (menghidupkan sunnah Nabi), dan kepedulian pada bahasa Arab sesuai dengan hadist atau maqolah “Belajarlah bahasa Arab dan ajarkanlah!. Karena bahasa Arab adalah bagian dari agama kalian”.

 

 

fotone m. ali murtadlo

Ali Murtadlo (Penduduk Darut Tuhid)

Ali Murtadlo (Penduduk Darut Tuhid)

 

“Rasanya gugup waktu saya pertama kali mendapat bagian untuk mengajar adik-adik pondok barat. Maklum, dengan kemampuan bahasa Arab saya yang masih campur aduk dengan bahasa Jawa dan Indonesia, saya masih merasa sulit untuk mengungkapkan materi. Semoga saja saya bisa menjadi orang yang pintar bahasa Arab karena bahasa Arab adalah bahasa penghuni surga”.

 

fotone m. lutfi izulhaq

Luthfi Izzulhaq (Santri asal Rembang kelas 2 MIF)

Luthfi Izzulhaq (Santri asal Rembang kelas 2 MIF)

“Bahasa Arab, menurut saya, adalah bahasa yang menyenangkan dan saya cukup senang dengan diadakannya pelatihan disetiap Selasa pagi. Walau sebenarnya agak-agak susah. karena memang pengetahuan saya yang masih sangat kurang. Tapi saya akan tetap berusaha dan semangat”.

 

 

 

fotone ahmad misbahul munir

Ahmad Misbahul Munir (Santri asal Bojonegoro Kompleks as-Syafi’i)

Ahmad Misbahul Munir (Santri asal Bojonegoro Kompleks as-Syafi’i)

“Sangat senang ketika kakak-kakak di Darut Tauhid datang untuk mengajarkan bahasa Arab. Karena selain menambah wawasan, saya juga ingin ketika sudah besar bisa berbicara menggunakan bahasa Arab. Karena bahasa Arab adalah bahasa Nabi Muhammad Saw”.

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Kampung Arab di Langitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *