Kabar Gembira dari Sang Guru (Kisah Dakwah Habib Munzir bin Fuad al-Musawa)

Sunday, March 23rd 2014. | Jejak Utama, Tokoh

Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz berada di makam Habib Munzir

Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz berada di makam Habib Munzir

Berita duka itu datang begitu cepat. Begitu menghentak. Beliau masih seusia Rasulallah ketika pertama kali menerima wahyu. Empat bulan setelah wafatnya Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa (15/9), namun rasa kehilangan dan duka cita belum juga hapus di benak jutaan murid dan pengagumnya: Jamaah Majlis Rasulullah. Nama beliau masih sering digumamkan dalam setiap pertemuan. Gambarnya tertempel di dinding-dinding rumah, juga makbarahnya masih ramai dikunjungi orang-orang. Semula dai yang bercita-cita membumikan sunnah Rasulullah ini sempat dilanda rasa kecewa dan hampir frustasi. Beliau memulai berdakwa dari segelintir jamaah hingga jutaan di Asia Tenggara.

Anak yang Dimanja

Munzir bin Fuad Al-Musawa atau lebih dikenal dengan Habib Munzir lahir di Cipanas, CianjurJawa Barat23 Februari 1973. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses lulusan New York University, Amerika Serikat. Pernah juga nyantri selama 10 tahun kepada al-Allamah al-Habib Alwi al-Malikiy (ayah dari al-Allamah as-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Malikiy), Makkah Mukarromah.

Habib Munzir dibesarkan dengan didikan yang lembut dan penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Beliau diberi kebebasan seluas-luasnya untuk menentukan sendiri jalan hidup macam apa yang akan beliau tempuh di masa depan.

 “Saya adalah seorang anak yang sangat dimanja Ayah saya,” demikian pengakuan beliau dalam salah satu milisnya.

wasiat habib munzir

Penuh Hormat: Habib Munzir bersama Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz, Hadramaut, Yaman

Kebebasan itu membuat beliau jadi seenaknya sendiri. Ketika kakak-kakaknya telah lulus dan diwisuda beliau justru memilih drop out dan hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian. Beliau juga sempat menjadi penjaga losmen milik ayahnya. Duduk di tempat yang sama sekali tidak menarik dan begadang setiap malam.

Ayah beliau yang merasa prihatin atas keadaan anaknya kemudian menegurnya, “Kau ini mau jadi apa? Tentukan, jika ingin belajar agama, maka lakukanlah dengan serius, jika ingin kuliah maka selesaikan dan bila perlu sampai ke luar negeri. Namun saranku tuntutlah ilmu agama. Aku sudah mendalami keduanya, dan aku tak menemukan kebanggaan apapun dari orang-orang yang menyanjung negeri barat. Meskipun aku lulusan universitas bergengsi, aku tetap tidak bisa sukses dalam bisnis kecuali dengan kelicikan, saling sikut dalam kerakusan jabatan, dan aku menghindari itu.”

 

Kabar Gembira dari Rasulullah Saw

Dalam masa-masa prihatin itu, Habib Munzir kemudian melakukan berbagai peningkatan spiritual diri dengan berpuasa dawud as, dan melanggengkan pembacaan shalawat 1000 kali di siang dan malam. Juga sering hadir di pengajian Habib Husain bin Abdullah bin Muhsin Alattas dengan materi kitab Fathul Bari.

Dengan amalan-amalan tersebut beliau jadi kerap mimpi bertemu Rasulullah Saw. Setiap kali ketika sedang gundah, Rasulullah hadir dalam mimpi dan menghiburnya. Suatu ketika, beliau bermimpi bersimpuh dan memeluk Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku rindu padamu, jangan tinggalkan aku lagi. Butakan mataku ini asal bisa jumpa denganmu. Atau matikan aku sekarang, aku tersiksa di dunia ini.”

Rasulullah Saw menepuk bahunya berkata, “Munzir, tenanglah, sebelum usiamu empat puluh tahun, engkau akan berjumpa denganku.”

Selain itu, dalam masa keprihatinan, Munzir juga sering berdoa, semoga ia dapat dipertemukan dengan pendidik (murabbi) yang dapat menghantarkannya kepada jalan menuju Allah Saw. hingga kemudian ia belajar di pesantren Al-Habib Naqib bin Syaikh bin Syaikh Abu Bakar, Bekasi Timur. Dan di tempat ini pula, ia bertemu dengan Guru Mulia Al-Musnid al-Allamah am-Habib Umar bin Hafidz, Hadramaut, Yaman lewat suatu kunjungan. Tanpa disangka sebelumnya, ternyata Sang Guru Mulia telah tertarik untuk menjadikannya sebagai murid.

Membuka lembaran baru

Yaman adalah harapan baru. Setelah di Indonesia mengalami ‘keterasingan’ dalam pendidikan dan jati diri. Munzir muda telah memasuki babak baru dalam kehidupannya. Belajar di negeri para wali di bawah bimbingan guru yang sufi.

Pada masa itu, nama Habib Umar bin Hafidz belum sebesar dan setenar sekarang. Ma’had Darul Musthofa belum di bangun dan belajar di kediaman sang guru dengan peralatan seadanya. Semua masih permulaan dan banyak kekurangan. Apalagi saat perang Yaman utara dan selatan berkecambuk. Kondisi semakin memburuk. Pasokan makanan berkurang, listrik mati, BBM langka dan lain sebagainya. Bahkan untuk mengaji bersama sang guru yang biasanya naik mobil akhirnya menjadi jalan kaki sepanjang 3-4 km karena pasokan BBM sangat minim.

Namun semua itu dilakukan dengan penuh kesabaran dan rasa cinta.  Dan di tengah perjalan yang penuh melelahkan itu, ada bisyarah (kabar gembira) yang keluar bibir mulia sang guru. Suatu hari beliau dilirik oleh sang gur dan berkata, “Namamu Munzir (artinya: pemberi peringatan)?”.

Beliau mengangguk. Lalu sang guru meneruskan, “Kau akan memberi peringatan pada jama’ahmu kelak!”.

Beliau tercengang mendengarnya dan sejak itu ucapan sang guru selalu terngiang dan bergelayut  di hatinya.

 

Majelis Rasulullah Saw.

Habib Munzir Al-Musawa kembali ke Indonesia pada tahun 1998. Mulai berdakwah dengan mengunjungi rumah-rumah, bercengkerama dengan mereka, memberi mereka jalan keluar dalam segala permasalahan. Awal berdakwah, Habib Munzir memakai kendaraan umum. Turun naik bus, menggunakan jubah dan surban, serta membawa kitab-kitab. Tak jarang Habib Munzir mendapat cemoohan dari orang-orang sekitar. Ia bahkan pernah tidur di emperan toko ketika mencari murid dan berdakwah.

Dengan penuh kesabaran, masa-masa pahit itu ia lalui. Lalu atas permintaan mereka, maka mulailah Habib Munzir membuka majelis. Jumlah hadirin awalnya sekitar 6 orang, ia terus berdakwah dengan meyebarkan cinta dan kasih sayang kepada Allah SWT.

“Kalau dia ahli politik, maka ia ahli politik yang Nabawiy. Kalau konglomerat, maka dia konglomerat yang Nabawiy. Pejabat yang Nabawiy, pedagang yang Nabawiy, petani yang Nabawiy, betapa indahnya keadaan ummat apabila seluruh lapisan masyarakat adalah terwarnai dengan kenabawian, sehingga antara golongan miskin, golongan kaya, partai politik, pejabat pemerintahan terjalin persatuan dalam kenabawiyan,” demikian yang sering disampaikan Habib Munzir dalam beberapa majelisnya.

“Inilah Dakwah Nabi Muhammad Saw yang hakiki. Masing-masing dengan kesibukannya. Tapi hati mereka bergabung dengan satu kemuliaan. Inilah tujuan Nabi saw diutus, untuk membawa rahmat bagi sekalian alam.” tambahnya.

Dari dakwah yang santun dan lembut itulah, akhirnya dakwahnya disukai banyak kalangan. Hingga kemudian, lahirlah  ‘Majelis Rasulullah SAW’, agar apa-apa yang dicita-citakan oleh majelis taklim ini tercapai. Sebab ia berharap, semua jemaahnya bisa meniru dan mencontoh Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai panutan hidup. Kini jamaah Majelis Rasulullah Saw sudah jutaan. Tersebar di Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Mataram, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Singapura, Malaysia, bahkan Jepang.

Habib Munzir meninggal dunia pada usia empat puluh tahun, tepat sebagaimana “kabar gembira” yang disampaikan Rasulallah Saw dalam mimpinya. Selamat jalan peminum cawan cinta Rasulullah Saw.

Muhammad Hasyim

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Kabar Gembira dari Sang Guru (Kisah Dakwah Habib Munzir bin Fuad al-Musawa)

7 responses to “Kabar Gembira dari Sang Guru (Kisah Dakwah Habib Munzir bin Fuad al-Musawa)”

  1. didik Santoso says:

    Asswrwb. Saya ingin menyampaikan tanggapan atas suara yg menyatakan sebagai berikut: Bukankah habib munzir bercerita bahwa beliau bermimpi bertemu Rasulullah saw. dan di dalam mimpinya itu beliau menerangkan bahwa Rasulullah menenangkan dirinya dengan mengatakan bahwa sebelum umur 40 tahun engkau akan menemuiku. Ternyata beliau meninggal lebih dari 40 tahun. Yaitu 40 tahun 7 bulan menurut hitungan masehi dan 40 tahun 11 bulan menurut hitungan hijriyah. Maka siapa disini yg berdusta? Habib munzir atau Rasulullah saw? Jelas tidak mungkin Rasulullah saw. berdusta.

    Saudara2ku yg beriman n terkasih, ini adalah suara dari mereka yg tidak pernah mengikuti majelisrasulullah yg dirintis habib munzir. Ketika usia beliau mendekati 40 tahun, seluruh jamaah bersedih karena mengetahui bahwa habib akan pergi meninggalkan kami. Namun dengan senyumnya beliau menenangkan kami dan tetap aktif berdakwah. Ketika lewat usia beliau 40 tahun hijrah kami lega beliau masih tetap bersama kami. Usia 40 tahun masehi kami lbh gembira bahwa beliau terus dipanjangkan umur oleh Allah swt. Kami terus betdoa semoga Allah memanjangkan umur beliau dan kami dapat menikmati keberkahan umur beliau. Namun beliau menceritakan suatu perumpamaan. Ada seorang anak kecil yg sangat rindu untuk bertemu dengan ibunya. Demikian pula sang ibu. Dan sang ibu mengetahui suatu permainan yg sangat disenangi oleh sang anak yang dgn permainan itu tertunda pertemuannya dengan sang ibu. Sungguh yg sangat kusenangi adalah berkumpulnya para pemuda menunjukkan kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah. Yang sangat kusenangi adalah melihat air mata taubat menetes di pipi para pemuda yg berubah menjadi pecinta Allah dan Rasulullah.
    Semoga menjadi penyadaran bagi mereka yg belum mencintai habib munzir. Amin. Wasswrwb.

    • qqrebel says:

      pantau seluruh anggotanya. banyaknya yang masih belum bisa mencintai diri sendiri,bagaimana bisa mencintai allah swt yg sempurna dan rasullah muhammad saw yg mulia? menghadiri perkumpulan dgn menaiki motor tanpa helm,berbahaya..tdk menjaga diri. dan juga sambil merokok, berbahaya..merusak kesehatan,bodoh karena sudah faham itu racun tapi tetap dikonsumsi. itu adalah hal sepele yang mempunyai filosofi besar untuk menilai seseoranga.

      • Admin says:

        Masalah anggota yang merokok atau tidak memakai helm, insya Allah itu akan menjadi catatan pribadi masing-masing anggota. Dan juga sebagai orang berilmu harusnya kita tidak menilai seseorang hanya dari penampilan semata, lebih dari itu, jika kita ingin mengingatkan alangkah baiknya kita mengingatkan sebagai teman yang merangkul bukan bernada menggurui dan menghakimi, karena cara dakwah yang kedua itu agaknya kurang relevan jika disamaratakan kepada semua sifat pribadi yang berbeda-beda. Terima kasih perhatiannya, kami akan berusaha menjadi agen muslim yang baik.

    • Admin says:

      amiin, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diberikan petunjuk

  2. rahmat nugraha says:

    Membaca ceritanya habib munzir sudah cukup akan meneteskan air mata ….. Aalagi bila sempat bertemu dengan beliau …….. ” ____ ya nabi ..memang benar engkau tiada pernah wafat “

  3. Sebab Habib Munzirlah saya menjadi lebih cinta kepada Alloh dan Rosulnya….Subhanallooh

  4. Muhamad Soleh says:

    Setiap kali hamba pendosa ini membaca dan melihat gambar dan cuplikan Yang Mulia Almaghfiroh Habibana Habib Munzir bin Fuad Almusawa tak terasa air mata ini mengalir deras seakan tak pernah terhenti hingga dapat berjumpa kembali dengan Alarif billah Sulthony Kalbu, Ingin hamba meninggalkan dan menghempaskan kehidupan dunia ini dan memeluk beliau, namun perjuangan dan jihad belum selesai cita-cita beliau haruslah kita teruskan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *