Jual Beli Kebohongan

Saturday, March 31st 2018. | Uncategorized

Massifnya penggunaan teknologi komunikasi dan informasi telah menimbulkan permasalahan baru, salah satunya maraknya penyebaran informasi dan pesan-pesan bohong (hoax). Yang paling ironis, informasi bohong telah sampai dalam urusan agama. Kita mungkin pernah mendapatkan informasi dari laman media sosial, yang menyuruh kita untuk membagikannya dengan imbalan surga. Atau jika kita mengabaikannya maka akan mendapat kesulitan hidup.

Di zaman di mana semua orang mempunyai akses terhadap ponsel dan komputer, beragam informasi semakin riuh sesak mewarnai media sosial. Bukan saja dari pihak media, perputaran informasi justru semakin deras di tangan pengguna internet, mulai dari orang dewasa sampai dengan anak-anak. Bahkan sebesar 25 persen anak-anak mengaku percaya dengan informasi yang mereka dapat dari media sosial tersebut. Apalagi media sosial menempati peringkat tertinggi sebagai tempat mencari sumber berita preferensi remaja dan anak-anak.

Dengan jumlah pengakses hingga lebih dari 1,74 miliar di seluruh dunia, tak pelak media sosial ikut terseret menjadi alat untuk penebar kebohongan. Kebohongan menjelma menjadi sebuah industri. Masyarakat dipaksa untuk terlibat aktif dalam pertukaran informasi hoax, tanpa mau berpikir panjang mengenai kebenaran suatu informasi.

Berita hoax menjelma menjadi komoditi yang dikonsumsi dan didistribusikan oleh masyarakat di dunia maya. Transaksi informasi hoax telah sampai pada kondisi yang mencemaskan. Korbannya tidak tanggung-tanggung, mulai dari rakyat biasa sampai para pejabat. Termasuk para santri. Siapa yang mendapatkan keuntungan besar dalam industri ini? pertama adalah produsen. Dan kedua adalah pemesan yang boleh jadi dilakukan oleh politisi atau pebisnis. Tujuannya jelas. Yakni untuk menghancurkan nama baik lawannya.

Hakikatnya, media sosial diciptakan untuk mempererat hubungan, mempersatukan, menjalin hubungan dengan masyarakat global, serta yang paling penting memperteguh kesatuan dan persatuan bangsa. Media sosial telah mencairkan sekat ruang dan waktu yang selama ini membatasi ruang gerak manusia modern. Seolah tidak ada lagi batasan suku, etnis, agama, negara, bahkan gender.

Dengan karakteristik yang menghubungkan (interconnectivity) masyarakat seluruh dunia, media sosial sangat mampu mempengaruhi dengan cepat opini masyarakat terhadap suatu informasi. Alih-alih melakukan tabayun terhadap kebenaran suatu informasi, pengakses justru dengan suka rela menyukai (like) dan membagikan (share) berbagai informasi yang mereka dapatkan tanpa perlu pusing mencari tahu kebenaran informasi.

Di sisi lain, ia telah memecah belah masyarakat. Perdebatan dan provokasi dalam media sosial menjadi pemicu lahirnya tindakan intoleransi yang berakibat lahirnya perpecahan masyarakat di dunia nyata. Dalam kepungan informasi, membedakan antara yang benar dan yang bohong (hoax) adalah sebuah kerumitan.

Kebohongan boleh jadi telah menjadi candu. Ia telah masuk dalam alam bawah sadar kita dan dengan perlahan tapi pasti membuat kita akan bekerja untuk mereka. Jika dulu kita hanya liking dan sharing informasi palsu, maka suatu saat kita akan ikut memproduksi informasi palsu tersebut. Namun, kecerdasan bermedia akan membendung segalanya. Kecintaan kita pada nilai-nilai moral dan etika akan membuat berita bohong tidak mendapat tempat. Maka oleh karenanya, jujur dan benarlah sejak dalam pikiran.

Pesan-pesan hoax diproduksi setiap detik, menit, dan jam. Lantas informasi bohong itu disebar melalui kanal-kanal sosial media seperti Facebook, Twitter, dan grup WhatsApp. Sekali berita bohong diproduksi, maka serta-merta ia akan mempengaruhi diskursus publik untuk selanjutnya mempengaruhi opini publik.

Pernahkah Anda menyebarkan foto seorang anak yang dikabarkan dari Irak, atau Pakistan, atau Palestina, atau Suriah yang ternyata merupakan foto lama dari anak yang merupakan korban ledakan di tempat yang lain? Foto bencana alam yang kemudian diduga menjadi foto pembantaian umat muslim oleh umat Budha di Rohingya? Sentimen kelompok dan politik identitas yang ditambah kebencian rasial membuat orang dapat menyebarkan kebohongan tanpa peduli akan kebenaran.

Ketika ada kabar buruk atau kabar tragedi seseorang merasa punya tanggung jawab moral untuk berbagi. Tanpa peduli apakah itu hoax atau tidak. Di media sosial, orang merasa punya beban untuk berbagi penderitaan agar bisa merasa lebih baik. Juga pandangan bahwa jika tak menyebarkan berita duka tersebut, orang yang tak menyebar akan mengalami nasib buruk. Menyebarkan kabar tragedi, seperti penderitaan anak di Suriah, meski belum terkonfirmasi kebenaranya terasa lebih baik daripada hanya diam saja.

Solusi Melawan Hoax

Tingkat literasi bermedia sosial masyarakat Indonesia belum membanggakan. Hal ini menjadi penyumbang bagi semakin merekahnya kebohongan di media sosial. Oleh karenanya, satu tawaran bagi jalan keluar menghadapi hoax di media sosial adalah apa yang diusulkan oleh Barry Duncan (1989) sebagai literasi media (media literacy). Literasi media dimaknasi sebagai kemampuan individu untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi isi media. Secara sederhana literasi media dapat berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi individu saat bermedia sehingga mampu memilah dan memilih mana informasi yang layak dipercaya dan dibagikan serta mana yang tidak layak dipercaya.

Meskipun dalam tahap awal perkembangannya literasi media hanya berfokus pada kecerdasan masyarakat dalam mengakses media mainstream (surat kabar, radio, dan televisi). Namun, di era masyarakat informasi ini, teori ini dapat diperluas menjadi kecerdasan masyarakat dalam bermedia sosial. Literasi media memiliki peran penting bagi masyarakat. Di tengah hiruk-pikuk politik saat ini, aneka ragam informasi berseliweran mengepung ruang publik (public sphere). Tanpa literasi media, kita akan menjadi gagap dan terjebak dalam distorsi kebohongan.

Pemandangan pagi hari dengan duduk-duduk di beranda ditemani secangkir kopi dan koran telah berganti. Kini, orang-bangun pagi membuka smartphone mereka, membuka pesan dan berita. Bukan di situs-situs berita, melainkan pada ragam aplikasi media sosial, lewat timeline Twitter, Facebook, Instagram, bahkan Youtube.

Mengapa kita menyukai hoax atau kabar bohong? Riset yang dilakukan oleh Robert Feldman, psikolog dari University of Massachusetts menunjukkan bahwa kebohongan memiliki keterkaitan dengan kepercayaan diri. Saat kepercayaan diri kita terancam seseorang akan dengan mudah berbohong. Riset Feldman ini dimuat dalam Journal of basic and Applied Psychology. Setidaknya 60 persen dari orang yang diriset oleh Feldman ini berbohong dalam setiap perbincangan yang dilakukan. Hal serupa juga terjadi pada internet, kita kerap menambahi kabar yang belum pasti dengan kebohongan sehingga menghasilkan hoax berantai.

Feldman menyebut orang kerap berbohong secara refleks ketika berbicara, mirip dengan perilaku membual. Kita bisa menemukannya dalam praktik hidup sehari-hari, terutama pada kabar-kabar yang menurut kita menarik. Dalam broadcast BBM atau WhatsApp, atau postingan berita di media sosial, komentar adalah sikap personal yang kadang ditelan sebagai kebenaran. Menambahkan detail yang tidak ia ketahui supaya dianggap paham atau mengerti sebuah subjek berita.

Kebohongan, menurut Feldman, lahir karena banyak orang yang ingin diterima dan membuat orang lain terkesima pada diri kita. Kita membuat dan menyebar kebohongan agar diterima dan membuat orang lain menjadi suka. Sayangnya penelitian Feldman ini hanya terbatas pada 121 pasangan responden dan tak bisa menjadi representasi populasi masyarakat saat ini. Namun kolumnis The Daily Dot, Cabell Gathman punya pendapat lain kenapa di era media sosial kita gemar menyebarkan kebohongan.

Menurut Cabell, saat ini banyak orang di media sosial tak lagi membaca konten yang mereka bagikan. Orang-orang di media sosial kerap hanya membaca judul yang mereka pikir benar. Ini bisa dilihat dari beberapa berita yang kadang judul dan isinya tak berkaitan, tetapi ketika dibagikan orang cenderung berkomentar tentang judulnya saja. Pada peristiwa perseteruan Ahok dan Risma beberapa waktu lalu, orang banyak yang menyebarkan berita miring tentang komentar Ahok yang dianggap menghina Surabaya, padahal isi berita itu bertentangan dengan peristiwa sebenarnya.

Kemalasan orang untuk melakukan verifikasi, atau tabayun, atau berbaik sangka, banyak digunakan oleh para pemburu klik untuk menulis judul bombastis, berita bohong, atau konten yang asal agar disebarkan di media sosial. Ini yang kemudian membuat banyak media yang tak kredibel mendapatkan porsi penyebaran atau sharing yang tinggi di media sosial. Banyak dari netizen yang menyebarkan berita dari situs media yang tidak kredibel, tidak patuh etika jurnalistik, atau punya integritas dalam menyebarkan berita. Padahal menurut Cabell, untuk mencegah hoax, hal sederhana yang bisa dilakukan adalah melihat legitimasi dari sumber berita.

Beberapa kabar hoax beredar di media sosial besar seperti Twitter dan Facebook. Bisa berupa postingan mandiri berupa foto dari akun individu atau tautan dari blog atau media yang tak kredibel. Sejauh ini banyak orang yang memperlakukan Facebook seperti Google dan menjadikan segala isinya sebagai kebenaran. Dr. Pamela Rutledge, director of the Media Psychology Research Center, menyebut bahwa gejala ini terjadi karena orang rentan terhadap paparan informasi. Berita yang banyak bertubi membuat orang malas memverifikasi dan mencari kebenaran. Mereka merasa tak berdaya, dan mereka takut.

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , ,

Related For Jual Beli Kebohongan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *