Jilbab Merah Muda Purabaya

Monday, May 22nd 2017. | Cerpen

 

Setelah berdiri selama satu jam di bus, Faris bersama adik perempuannya memutuskan untuk beristirahat melepas lelah di bangku ruang tunggu terminal. Bangunan baru ruang tunggu terminal berfasilitas lengkap membuat keduanya tampak nyaman.

“Ayo dek..” ajak Faris beberapa saat kemudian. Ia membawa tas besar adiknya, berjalan menuju tempat parkir bus.

Sesekali Faris menoleh ke samping, memastikan adiknya aman di sampingnya. Faris kemudian menggandeng adik perempuannya. Ia harus melindungi adiknya dari para awak bus (entah kondektur atau calo bus) yang tidak segan-segan menarik tangan atau menyeret dengan sedikit memaksa untuk masuk bus mereka. Para petugas berseragam biru tampaknya tidak melakukan apa-apa menyaksikan hal itu.

Purabaya adalah terminal type A yang ada di provinsi Jawa Timur. Terminal ini juga dikenal juga dengan nama Bungurasih, merupakan pengembangan dari Terminal Joyoboyo yang kapasitasnya sudah tidak memadai serta berada dipusat kota yang tidak memungkinkan dilakukan perluasan. Purabaya direncanakan tahun 1982 berdasarkan surat Persetujuan Gubernur Jawa Timur, baru dibangunan pada 1989 dan diresmikan pengoperasiannya oleh Menteri Perhubungan RI tahun 1991 dengan alamat Jl. Letjen Soetoyo KM Sby 13 (Komplek Terminal Bungurasih) Waru Sidoarjo.

Terminal terbesar di Surabaya itu (selain Osowolangon dan Joyoboyo) seolah primadona yang dikelilingi hutan beton metropolitan, siang itu matahari angkuh membakar di tengah langit.

“Pasuruan pak…” jawab Faris singkat, kepada laki-laki tidak berpakaian seragam layaknya seorang awak bus terus menerus bertanya arah tujuannya. Mungkin Faris tahu kalau pemuda sawo matang itu bukan karyawan PO bus. Ia calo bus.

“Alhamdulillah..” kata Faris setelah mendapatkan tempat duduk, ia memastikan kalau adik perempuan yang nyantri di salah satu pesantren terkenal Bangil itu berada di samping jendela, jadi ia akan aman tanpa tersentuh laki-laki yang bukan muhrimnya.

Lalu-lalang padat dan udara panas memang menjadi pandangan khas terminal yang menjadi pusat transportasi antarkota dan antar propinsi yang terletak di Desa Bungurasih, Waru, Kabupaten Sidoarjo dengan luas ± 12 Ha. Hal ini pula yang menjadikan terminal ini lebih banyak di kenal dengan nama terminal Bungurasih. Tapi secara administratif terminal ini dikelola oleh Pemerintah Surabaya berdasarkan perjanjian kerjasama (MOU) antara Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dengan Pemerintah Kota Surabaya.

Letak terminal ini sangat strategis, hanya 20 menit dari Airport Juanda Internasional dan dekat dengan jalan tol Surabaya-Gempol. Akses yang sangat baik sebagai pintu masuk dan keluar dari atau ke kota Surabaya, serta berada pada jalur keluar kota Surabaya arah timur selatan dan barat.

****

 

“Mungkin menunggu penumpang penuh” tebak Faris sambil tersenyum menjawab pertanyaan adik perempuannya yang berpakaian baju dan jilbab putih serta rok ungu sebagai seragam yang wajib ia kenakan saat kembali ke pesantren Salafiyah Bangil.

“Yang sabar ya..” tambah Faris, pemuda itu merasa adik ceweknya mungkin tidak sabar menunggu lama dengan panas dan pengap udara bus ekonomi. Faris menawari adiknya membaca Al-Qur’an dari aplikasi handphone adroidnya. Gadis itu kemudian larut dalam tilawah dengan suara samar, tapi terdengar merdu di telinga Faris.

“Assalamualaikum… Maaf, berkenan dengan air aqua dingin ini mas?” seorang ibu muda menawari lembut Faris dengan senyuman sopan. Sejenak Faris tertegun dengan pemandangan di depannya, subhanallah, betapa santun pedagang ini. Tidak seperti pedagang asongan pada umumnya. Ibu ini menyapanya dengan salam dan menawarkan barang jualannya dengan sangat sopan, apakah mungkin karena Faris memakai kopyah putih sehingga ibu itu mengucapkan salam dan berlaku santun kepadanya?. Ah, Faris menepisnya, mungkin terlalu jauh berspekulasi atau melihat pemandangan tidak biasa dari sikap penjual asongan di terminal seperti ibu itu.

“Waalaikumsalam bu.. maaf, saya sudah beli tadi.. terimakasih..” jawab Faris lembut.

“Oh, iya, terimakasih dan permisi mas..” ibu itu meninggalkan Faris yang mengangguk dan membalas senyumnya. Nyaris, Faris tidak menemukan gurat kecewa di wajah ibu itu karena jualannya tidak laku. Hebat.

“Sopan sekali ya kak” Faris menoleh pada Mimi adiknya.

“Benar..” Faris makin yakin dengan perasaannya, bahwa ibu berjilbab panjang merah muda itu memang memiliki pribadi yang baik. Dari pakaiannya yang menutup aurat, menjadi indikasi bahwa ia menjaga kehormatan dirinya dalam kemuliaan syariat Islam, bagaimanapun kondisi ekonomi dan dimanapun ia berada. Menjadi kontras dengan suasana dan keberadaan ibu itu di terminal kota metropolitan, Faris tidak memvonis bahwa orang-orang yang berada di fasilitas-fasilitas umum seperti stasiun dan terminal selalu dibenarkan menjadi tempat kriminal atau hal tidak baik lainnya. Walaupun banyak kasuistik tindak kejahatan terjadi di sana. Tapi, sosok wanita itu menjadi “langka” terlihat di sana.

Melihat ibu itu, Faris teringat pada wanita-wanita mulia pada permulaan sejarah Islam di tanah Arab, seperti Siti Khadijah putri Khuwailid seorang bangsawan Arab Quraisy di Mekah. Seorang wanita cerdas, teguh dan berperangai luhur dijuluki At Thahirah (bersih dan suci). Atau Siti Aisyah putri Abu Bakar As Shiddiq seorang perempuan luas keilmuannya dan berakhlakul karimah yang menjadi referensi para ahli Hadits, istri Rasulullah yang sangat dicintai Nabi setelah Siti Khadijah. Juga pada sosok Asma` binti Yazid bin Sakan al-Anshariyyah, seorang ahli hadis yang mulia, seorang mujahidah agung, memiliki kecerdasan, dien yang bagus dan tata bicara yang baik, sehingga ia dijuluki sebagai “juru bicara wanita” di zaman Rasulullah.

“Mungkin ia mutiara di tempat ini, yang menjadi ibrah kepada kita” kata Faris kemudian kepada adiknya. Mimi hanya mengangguk kemudian melanjutkan bacaan Al-Qur’annya dimulai dengan ucapan basmalah..

****

 

Sebelum bus berangkat, Faris melihat dari kaca jendela bus ibu yang menawarinya minuman itu tampak duduk di pembatas parkir antar bus yang menunggu penumpang. Masih terlihat sama, ibu itu sangat sopan menyapa dan menawarkan dagangan yang ditaruh rapi di atas pembatas berpaving kepada orang-orang yang melintas di depannya, dari jajanan ringan, aneka minuman, dan rokok. Orang-orang yang lewat memberi respon bermacam-macam padanya. Ada yang membalas dengan senyuman, ada yang melambaikan tangan, ada menjawab dengan ucapan ‘tidak, terima kasih’ dan bahkan ada yang melengos tak acuh padanya. Ekspresi wajah ibu itu tetap, tersenyum.

Wajah ibu itu mengingatkan siapa saja yang memandang dengan wajah bersahaja Raden Adjeng Kartini. Tokoh wanita Pahlawan Indonesia keturunan jawa Jepara yang terkenal lewat buku kumpulan suratnya, Door Duisternis tot Licht, yang pada tahun 1992 oleh Balai Pustaka diterjemahkan dengan judul, Habis Gelap, Terbitlah Terang. Perjuangannya membela wanita pribumi menginspirasi banyak tokoh kebangkitan nasional Indonesia, seperti W.R. Soepratman yang menciptakan lagu, Ibu Kita Kartini. Bagi Faris, ibu berjilbab merah muda panjang itu adalah lanskap indah menyejukkan di terminal Purabaya, seiring dengan akhlak dan moral kota metropolitan berada di titik dekadensi.

Tanpa di sengaja, saat bus jurusan Probolinggo yang ditumpangi Faris perlahan-lahan bergerak, ibu itu melihat Faris yang terus memperhatikannya, pandangan mereka bertemu. Ibu berkerudung panjang itu kemudian tersenyum sambil mengangguk kearah Faris, begitu juga sebaliknya, pemuda itu melakukan hal yang sama.

“Engkau adalah wanita istimewa bu..” bisik Faris dalam hatinya. Biarpun tidak tahu begaimana latar belakang wanita yang dilihatnya, Faris yakin bahwa ibu itu bekerja keras sebagai pedagang asongan di terminal untuk anak-anaknya, bahwa ibu itu sosok tangguh bersahaja, bahwa ibu itu tampil “perkasa” di tengah keterbatasan, atau bahkan bahwa ibu itu wanita luar biasa bagi keluarga dan negerinya. Faris berharap, keberadaan ibu itu menginspirasi banyak orang di terminal Bungurasih. Pasti, juga bagi anak-anaknya.

“Bangsa ini, harus belajar ikhlas darimu ibu..” ucap Faris bersyukur bangga. Pemuda senang karena siang itu ia mendapatkan pelajaran berharga dari sosok teduh wajah ibu itu. Ada satu ledakan bahagia memenuhi hatinya saat menemukan satu cermin kehidupan yang ditunjukkan Allah padanya lewat karakter indah ibu itu.

 

 

 

  1. R. Umar Faruq

Bungurasih, 17 Januari 2014

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Jilbab Merah Muda Purabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *