Ja-a Zaidun

Friday, January 22nd 2016. | Cerpen, Dawai

zaid

Ja-a Zaidun

*Adi Ahlu Dzikri

Entah apa yang mendasari nama Zaidun begitu mashur dalam literatur bahasa Arab, terbukti dalam berbagai kesempatan Zaidun selalu dijadikan sebagai percontohan, aji-ajian apa sebenarnya yang digunakan Zaidun sehingga dia begitu popular.

Ah, tentang siapakah Zaidun dengan segala ketenarannya memang selalu menjadi tanda tanya besar sejak aku mengenal Zaidun melalui kitab Matan al Jurumiyah, kitab Nahwu pertama yang telah mendoktrinku, dan hingga kini, saat aku juga berusaha mendoktrinkan Jurumiyah ke dalam mainset mereka, aku masih saja penasaran dengan Zaidun, dan semoga saja kalau aku mati, Zaidun tidak mmebuatku mati penasaran.

Sejak aku mengenal dan hafal betul nama Zaidun, sebenarnya aku punya mimpi besar; suatu saat dapat bertemu Zaidun itu, meski sedikit konyol, tapi itu mimpiku.

***

Ja-a Zaidun…

Tiba-tiba saja ketika aku sedang memberikan contoh pada pelajaran Kalam, pelajaran bab pertama Jurumiyah, seorang bocah dengan sedikit tergesa-gesa mengetuk pintu kelas dan mengucap salam. Nafas bocah itu masih tersengal-sengal, dia segera mencium punggung tanganku, sementara aku masih bengong mengamatinya.

Masmuka?

Ma Ismuka; siapa namamu. Pertanyaanku semakin membuatnya tergugup, mungkin dia tidak faham.

“Siapa namamu?”

Zaidun

Bocah itu berusaha menenangkan diri dengan menarik dalam nafasnya. Dan aku, aku tersenyum kecil begitu mendengar kata Zaidun keluar dari mulutnya. Mungkinkah ini perwujudan Zaidun yang selama ini aku mimpikan, pikirku geli.

Dengan spontan aku pun menjadikan bocah bernama Zaidun ini sebagai alat peraga dari contoh Ja-a Zaidun, yang otomatis mengundang tawa satu kelas.

Zaid, ijlis…duduklah.”

Aku mempersilahkannya mencari bangku yang masih kosong.

***

Kedatangan Zaidun di hari pertama sekolah dalam versi nyata benar-benar seperti jawaban atas mimpi-mimpiku selama ini. Meski entah tidak sama dengan gambaran bayanganku. Zaidun dalam mimpi adalah keturunan Arab dengan postur tinggi besar, hidung lancip ala-ala Timur Tengah, tapi Zaidun yang datang adalah bocah berkulit sawo matang, dengan postur yang mengatakan bahwa dia baru saja menginjak aqil-baligh, sangat Indonesia, Jawa, sedikit pun tidak tercium bau Arabiyan.

Rasa penasaranku akan sosok Zaidun dalam kitab-kitab Nahwu, dan setelah beberapa pengamatanku selama ini coba aku cocokkan dengan karakter Zaid yang ini.

Mulai dari karakter Ja-a Zaidun; Zaid datang. Zaid yang ini memang sangat aktif, meski terbilang baru dibanding teman-temannya yang lain, sekolah, musyawarah, setoran hafalan, pemahaman pelajaran, Zaid yang ini masuk dalam daftar nama anak-anak yang memiliki potensi lebih. Bahkan, Zaid selalu aktif untuk menanyakan apa yang mungkin tidak ia faham, pun dia selalu berkonsultasi tentang kepribadiannya, sehingga aku lebih cepat mengetahui karakter Zaid yang ini.

Tempo hari di kelas Zaid bertanya.

“Ustadz, kenapa dzoroba Zaidun Amron; Zaid selalu memukul Amar? Apa salah Amar?”

Aku tersenyum geli demi mendengar pertanyaan Zaid yang memancing gelak tawa teman-temannya.

“Lah, Zaid, kan yang mukul kamu, kenapa kamu Tanya pak Ustadz,”

Seloroh salah satu anak menanggapi pertanyaan Zaid yang semakin membuat kelas gaduh.

“Begini Zaid,”

Aku coba menenangkan kegaduhan kelas.

“Konon dulu di masa pemerintahan Daulah Ustmaniyah ada seorang menteri bernama Daud Basya, menteri ini mennayakan hal serupa dengan apa yang ditanyakan Zaid,”

Anak-anak fokus berusaha mendengarkan cerita yang akan kusampaikan.

“Akhirnya banyak Ulama’ Nahwu yang didatangkan hanya untuk menjawab pertanyaan sang menteri, namun para Ulama’ Nahwu ini menjawab; bahwa itu hanya contoh saja, untuk memudahkan belajar, jawaban ini sama sekali tidak memuaskan sang menteri, akhirnya para Ulama’ ini pun dipenjara karena dianggap tidak bisa memberikan jawaban yang sesuai,”

Mereka masih menyimak dengan hikmat.

“Kemudian didatangkanlah Ulama’ Nahwu dari Baghdad, setelah dihadapkan dengan pertanyan Daud Basya, ia pun menjawab; bahwa kesalahan Amar adalah dia telah mencuri huruf wawu Daud dan diletakkan di akhir nama Amar,”

Aku sambil menuliskan nama Amar yang selalu ada wawunya, sementara nama Daud hanya dengan satu wawu, padahal seharusnya Daud ditulis dengan dua wawu.

“Oleh karenanya Zaid selalu memukul Amar demi membela anda, menteri Daud Basya.”

Mendengar jawaban itu Daud Basya tersenyum lega, inilah jawaban yang dia harapkan. Akhirnya sebagai hadiah atas jawaban itu, seluruh Ulama’ yang dipenjara pun dilepaskan.

“Bagaimana Zaid? Masih mau memukul Amar?”

Seluruh kelas kembali tertawa.

***

Zaid benar-benar telah menjawab rasa penasaranku atas sosok Zaidun. Dan kini Zaid benar-benar datang, sebagai ekspresi kebahagiaanku bisa bertemu Zaidun, aku pun membuat satu tulisan dengan judul “Ja-a Zaidun; Zaid Telah Datang.”

*Santri Langitan dari lereng gunung Pegat

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Ja-a Zaidun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *