Islam dan Etos Gotong Royong

Friday, July 27th 2018. | Uncategorized

Gotong royong merupakan salah satu penanda bagi eksistensi orang desa. Beragam kegiatan, baik individu maupun publik, kerap dilandasi dengan semangat bersama. Betapa dalam kehidupan sehari-hari, mereka mengutamakan kepentingan umum melebihi kepentingan pribadi. Mereka mampu mengesampingkan egoisme dalam diri masing-masing demi tercapainya cita-cita komunal. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat perdesaan menginginkan terwujudnya ketentraman, kenyamanan, serta tatanan kehidupan yang lebih baik.

Berdasarkan pandangan Hatta, “tanda-tanda kolektivisme itu tampak pertama kali pada sifat tolong menolong” sebagaimana tampak ketika orang-orang desa mengerjakan pekerjaan berat, sehingga tidak dipikul oleh satu orang. Proklamator kemerdekaan Republik Indonesia tersebut berkata, “Orang desa masih menjangka dirinya sebagai satoe anggota dari pada kaum.” Dengan demikian, kalau ada seseorang yang hendak mendirikan rumah di suatu desa, maka ia dapat mengharapkan bantuan dan pertolongan orang lain.

Demikian pula kalau ia hendak menggarap sawah, memotong padi, mengantar mayat ke kubur, membuat pengairan, dan lain sebagainya, maka semua pekerjaan tersebut bisa dilakukan bersama-sama berdasarkan prinsip gotong royong. Dalam masyarakat semacam ini, tak ada konsep upah-mengupah. Cukuplah usaha dan jerih payah bersama itu diakhiri dengan makan bersama. Hal ini dikarenakan, di antara prinsip yang dipegang oleh mereka yaitu “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sedih sama diderita, dan gembira sama dirasa.” (Anwar Abbas, 2010: 249).

Konsep Ta’awun

Buku Bung Hatta dan Ekonomi Islam: Menangkap Makna Maqâshid al Syarî’ah menyebutkan bahwa semangat tolong-menolong (ta’awun) dalam kehidupan masyarakat desa menumbuhkan dasar-dasar bagi koperasi sosial atau “sosialisme Indonesia, yang bercorak kolektif, yang banyak sedikitnya masih bertahan sampai sekarang.” Konsep ta’awun ini antara lain genap dipraktikkan oleh kaum Muslim Sunda yang lama menetap di Pasundan.

Sebagaimana diketahui, mayoritas orang Sunda memeluk agama Islam. Rumah-rumah peribadatan orang Islam serta lembaga pendidikan Islam banyak terdapat di Jawa Barat. Sebagai gambaran, pada tahun 1969 terdapat 21.038 buah masjid, 655.741 buah langgar, surau atau tajug, 2.767 buah pesantren, dan 5.491 buah madrasah serta sekolah agama. Begitu pula dengan keberadaan sosok-sosok yang dimuliakan dalam Islam. Jumlah Kiai, Ajengan dan Ulama adalah 25.253 orang, guru ngaji di pesantren 4.042 orang, guru agama di madrasah 14.860 orang (Koentjaraningrat, 1970: 316).

Agama Islam yang dianut oleh orang-orang Sunda di Pasundan berpengaruh besar terhadap pola dan corak kehidupan mereka. Tak heran jika di kampung-kampung banyak berdiri tajug atau langgar, semacam “masjid kecil” yang umumnya berbentuk sederhana, bahkan sebagian di antaranya hanya menampung beberapa orang. Di Ciparay dan Garut, bangunan tersebut sering dijumpai di pinggiran jalan desa, tepi sawah atau kebun, di mana didekatnya terletak aliran air jernih atau pancuran yang memudahkan orang untuk berwudlu. (Yetti Herayati, dkk., 1993: 25-26). Sebagian merupakan milik perorangan, sedangkan sebagian lainnya milik bersama. Untuk yang terakhir, pembangunannya melibatkan biaya, tenaga, dan pikiran masyarakat. Sehingga, etos dan prinsip gotong royong senantiasa diwariskan lintas generasi.

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , ,

Related For Islam dan Etos Gotong Royong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *