Intlektual Muda Dari Pesantren

Thursday, September 1st 2016. | Wawancara

IMG_5364

Intlektual Muda Dari Pesantren

 

  1. Nur Mufid bin Ali adalah salah satu santri Pondok Pesantren Langitan yang dalam kesehariannya, beliau memilih menjadi pribadi yang sederhana. Ia telah mengarang kitab terjemah yang telah banyak dijadikan rujukan, dan dinamai oleh beliau dengan nama terjemah Mufid.

Kitab terjemah yang lumayan tebal ini telah banyak menjadi rujukan bagi kaum santri ataupun intlektual yang ingin memahami terjemah bahasa Arab kedalam bahasa Indonesia yang baku dan dengan bahasa moderen. Dengan kamus seperti ini, orang yang mempelajarinya sedikit-demi sedikit digiring untuk memahami bahasa modern dengan baik.

Beliau lahir dari keluarga bahagia Kiai Ali bin Ahmad Hambali dan Ibu Nailil Muna binti Thoha dan lahir pada tanggal 20 Juni 1964 M. Menikah dengan Nyai Maslamah dan memiliki 8 anak (4 laki-laki dan 4 perempuan). Sekarang, beliau tinggl di Krembangan, Taman, Sidoarjo.

 

Alasan Sederhana

Langitan itu pondok bagus. Bagus itu tidak bisa dirumuskan, karena memang pada waktu itu saya masih kecil. Bagus itu ngaji. Kesan saya pada waktu itu, Langitan itu pondok sederhana, tapi tidak melawan arus kesederhanaan. Dan saya memang ingin yang sederhana”. Begitu mungkin alasan beliau yang beliau sebut dengan alasan sederhana. Pergi ke Pondok Pesantren Langitan adalah pilihan hidup beliau waktu itu. Beliau memandang Langitan sebagai pondok yang mempertahankan kesedarhanaan. Begitu pun ketika beliau berada dipondok, melihat rumah kiai yang sederhana dan hanya terbuat dari bambu yang di anyam.

Beliau mengetahui Langitan dari seorang teman yang dulunya mondok posoan di Langitan. Datang pada tahun 1979 M. dan langsung masuk kelas 3 MTsf. Pada awalnya, beliau dilarang oleh guru beliau, KH. Masbukhin Faqih, dan disarankan untuk masuk kelas 2. Namun beliau tetap ingin masuk kelas 3 dan akhirnya dibolehkan dengan syarat Alfiyah harus khatam pada saat Hari Raya Idul Adha.

Lulusan kelas 1 SMP, pergi ke pondok dengan tidak mengetahui seluk-beluk ilmu, langsung masuk kelas 3, dan terlambat masuk sekolah selama 3 mingggu tentu saja harus melewati perjuangan berat. Beliau berusaha untuk melewati teman-teman lainnya dengan tetap tekun belajar dan serius. Bahkan untuk mengejar ketertinggalan tersebut, pada bulan ke 3 atau 4 umur beliau di Langitan, beliau menggagas adanya musyawaroh Fathul Qorib diluar tatanan aktifitas pondok bersama 6 teman lainnya.

Beliau datang ke Langitan saat baru dicanangkannya program bisa bahasa Arab untuk guru dan pengurus. Saat itu, yang mengajar adalah Habib Hasan Baharun yang menjadi Muassis pondok DALWA (Daarullughoh wadda’wah). Meski masih berstatus santri baru, beliau tetap ingin ikut dan diperbolehkan setelah sowan kepada kiai.

 

Cita-Cita Membangun Pondok

Sejak kecil, beliau mengaku sudah ingin membuat pondok. Bahkan, pada saat santri-santri masih mandi di Bengawan Solo, beliau sering dipinggiran bengawan itu, mengangan-angankan bahwa diatas sepetak tanah yang beliau miliki akan dibangun pondok.

Total empat tahun Kiai Mufid mengabdikan dirinya untuk belajar di Langitan. Yaitu sejak tahun 1979 M. sampai tahun 1982 M. Setelah keluar dari Langitan, ia memendam cita-cita tersebut dan memilih untuk berdagang. Impiannya, ingin menjadi kaya dulu sebelum membangun pondok agar pondok itu bisa ditempati dengan fasilitas gratis, nol rupiah. Pergilah beliau ke Jakarta untuk berdagang. Izin kepada Kiai dan mendapatkannya setelah sowan sampai 3 kali.

Tiga bulan terlewati disana, beliau kuliah di UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta). Namun hanya beliau jalani selama satu semester dan memilih kembali berdagang roti milik seorang teman alumnus Langitan dari Lamongan. Teman beliau melarang, akhirnya beliau kembali ingin kuliah di UNAS (Universitas Nasional). Tapi niat itu beliau urungkan karena biaya yang terlalu mahal.

Hingga ada seorang teman yang mengajaknya Kuliah ke IAIN Ciputat. Teman itulah yang membiayai seluruh akomodasi dan pendaftaran beliau, dengan harapan beliau bisa menemani kegiatan belajar selama kuliah disana. Saat itu, beliau mengaku sudah tidak semangat untuk kuliah. Namun, beliau tetap lulus bahkan teman beliau yang saat itu membiayai seluruh kebutuhan kuliah beliau yang tidak lulus.

 

Kiai yang Jurnalis (Kiai Wartawan)

Tercatat, Kiai ramah ini pernah menjadi wartawan Jawa Pos selama 2 tahun. Setelah lulus dari kuliah, beliau mendaftarkan dirinya untuk menjadi wartawan disana. Banyak sekali persaingan yang ada dari kampus-kampus bergengsi pada saat itu dan beliau adalah satu-satunya pendaftar yang lulusan IAIN. Secara materi, sebenarnya beliau tidak lulus karena kurang menguasai kemampuan bahasa Inggris. Namun beliau tetap diterima karena kemahiran bahasa Arab beliau. “Oh, ini mewakili kiai. Ini wartawan yang kiai” begitu beliau menceritakan komentar pengetes waktu itu.

Tes kedua, beliau disuruh untuk membuat esay dalam bahasa Indonesia dan kembali lulus karena dianggap mahir dalam bahasa Arab dan bisa bahasa Persia yang beliau pelajari waktu kuliah di Ciputat. Yang mengetes beliau pada waktu itu adalah mas Joko Susilo (wartawan senior yang tinggal di Amerika) yang tertarik dengan kemampuan bahasa Persia beliau. “Nah ini menarik ada wartawan lulusan IAIN, wartawan kiai (bahasa mereka menyebut beliau begitu), satu-satunya wartawan kita yang bisa bahasa persia. Nanti kalau kita mau kirim keluar negri bisa mengirimnya” kata mas Joko Susilo pada waktu itu. Beliau diterima dengan catatan harus bisa bahasa inggris dalam tempo 3 bulan. Beliau menyetujuinya dan mengikuti kursus, kemudian dikirim ke surabaya. Seminggu setelahnya, kemudian dikirim ke Jakarata untuk menjadi wartawan Politik dan Umum selama satu tahun.

 

Menimba Ilmu Ke Luar Negeri

Pada tahun 1989 M., saat diadakan MUNAS Nahdlatul Ulama’ di Jombang, beliau diterjunkan untuk meliput acara tersebut dan kemudian aktif menjadi wartawan disana sampai menjadi kepala giro. Hingga kemudian beliau mendapatkan beasiswa keluar negeri dari Ciputat dalam rangka program pembibitan dosen. Melewati tes yang begitu ketat dan bersaing dengan mahasiswa lain, beliau lulus dan masuk kedalam 10 besar.

Dari beberapa negara yang di ajukan kepada beliau untuk menjadi tempat menimba ilmu, yakni Ausrtalia, Amerika, Jerman, Kanada, dan Inggris, beliau memilih Inggris. Kemudian beliau dikursus Bahasa Inggris di Jakarta selama 6 bulan.

Tes kembali diadakan. Beliau kembali lulus dengan nilai sangat tipis, 05,5. Padahal, dalam aturan mereka standar minimal nilai adalah 06. “Sebenarnya kamu tidak lulus. Tapi sekarang pulanglah ke Surabaya dan kamu lulus” kata guru bule yang mengajar Bahasa Inggris. Beliau pun pulang walau pengumuman kelulusan belum di keluarkan dan akhirnya berangkat ke Inggris.

Karena keberangkatan itu terikat dengan harus menjadi dosen, setelah pulang ke Indonesia beliau langsung jadi dosen. Dari perjalanan menjadi dosen inilah beliau menjadi resah melihat pendidikan yang tidak tertata dengan baik. Dan satu-satunya lembaga yang bisa diandalkan sekarang adalah Pondok Pesantren. Entah itu Pondok Pesantren Salaf atau Modern ataupun yang lainnya, hanya Pondok Pesantren yang bisa mengawal bangsa ini.

 

Mewujudkan Cita-Cita

Dari perjalanan yang luar biasa, beliau tetap memendam keinginan untuk bisa membangun pondok. Akhirnya, pada tahun 2000 M. beliau mulai membuka pengajian hingga kemudian pada tahun 2003 M. beliau resmi mendirikan lembaga Pondok Pesantren dengan nama Pondok Pesantren MAS.

Hingga sekarang pondok tersebut telah bekembang sedemikian rupa. Jumlah santri hingga sekarang telah mencapai total 180 santri. Dengan jumlah 10 komplek untuk putra dan 6 komplek untuk putri. Pondok ini juga telah memiliki 6 ruang Madrasah dengan 3 lantai, ditambah dengan 2 kantor Madrasah.

 

Konsistensi Pada Kesantrian

Santri dengan segala keunikan dan sesederhanaannya haruslah tetap menjaga kesantriannya hingga akhir hidup. Langitan adalah pondok yang paling kuat untuk hal tersebut. Istilah pondok ada yang merumuskannya dengan untuk membentengi moral, sebagai benteng ahlusunnah wal jama’ah, menjaga tradisi dan khazanah Islam, dan banyak sekali yang lainnya. Maka santri harus bisa menjaga nilai-nilai tersebut baik ketika masih ada di pondok ataupun sudah berada di luar.

Pondok itu kelompok kecil (thoifah qolilah). Maka kelompok kecil itulah yangharus dipertahankan. Selama konsisten ketika dipondoknya, tidak mungkin seorang santri akan terlunta dan terlantar. Santri atau alumni yang resah dan tidak jelas tujuan hidupnya adalah mereka yang ketika dipondoknya tidak konsisten. Ketika dipondok bagus, jama’ah bagus, ngajinya bagus, akhlaknya bagus, tapi ketika dirumah shubuhnya qodlo’, sudah lupa dengan ngajinya, maka bagaimana tidak rusak? Maka orang lain akan mengatakan bahwa mondoknya tidak sukses. Beberapa orang akan berkomentar bahwa mondok hanya begitu-begitu saja malah menjadi pemalas.

Termasuk konsistensi yang sudah dilakukan di Langitan adalah kesederhanaan, moralitas, dan spiritualitas. Semuanya diajarkan lengkap di Langitan.

[Ichsan/Ahmad]

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , ,

Related For Intlektual Muda Dari Pesantren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *