Instrokpeksi Hati dengan Istighfar

Sunday, February 5th 2017. | Tasawuf

Manusia adalah mahluk sosial. Ia tidak bisa mencukupi kebutuhannya tanpa bantuan orang lain. Sayangnya, dewasa ini, kita sering menjumpai seseorang yang memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara, tanpa memperdulikan haram ataupun najis di dalamnya. Yang dipikirkan hanya pemuasan nafsu. Ia lalai dengan iman yang harus senantiasa dipelihara. Sebab, kerusakan iman lebih fatal daripada rusaknya fungsi organ tubuh.

Manusia adalah mahluk yang lemah. Allah lah penentu segalanya. Dia yang memberi, menggerakkan dan menjadikan segala sesuatu. Maka, setiap keberhasilan yang kita raih adalah nikmat yang harus kita syukuri. Adapun kegagalan adalah ujian sekaligus bahan instrospeksi diri: apakah kita telah bersungguh-sungguh meminta kepadaNya atau hanya bermaksud mendapatkan kekayaan dunia, sehingga melupakan Allah Swt.

 

Ridha dengan Taqdir

Allah adalah dzat yang maha bijaksana. Dia memberikan kebahagiaan kepada seluruh hambaNya tanpa memandang amal maupun pengabdiannya. Tiada yang luput dari pembagian kebahagiaan. Yang dimaksud kebahagiaan di sini bukanlah kebahagiaan jiwa yang menimbulkan ketenangan batin, namun kebahagiaan materi yang bersifat semu.

Kebahagiaan jiwa hanya dimiliki seseorang yang mempunyai sifat qana’ah dan tawakkal. Ia menjadikan nikmat sebagai bekal ibadah dan wasilah untuk menggapai ridhoNya. Ia akan selalu ikhlas menerima ketetapan Allah walaupun ketetapan itu tidak baik. Karena, seberapa besar ibadah yang dilakukan tak akan mampu mengimbangi limpahan nikmat Allah.

Manusia mempunyai kehendak untuk melakukan sesuatu, namun ia tak mungkin mengalahkan kehendak Allah Swt. Manusia bisa saja merencanakan dan berusaha sekuat tenaga, tapi hanya Allah yang bisa menentukan keberhasilannya. Salah, ketika kita berfikir bahwa hasil terbaik bisa diraih dengan mengatur jadwal secara rapi dan teratur. Yang perlu kita lakukan setelah berusaha adalah berharap dan berserah diri kepada Allah. Dialah yang lebih tahu mana yang kita butuhkan. Maha benar Allah dengan seluruh keagunganNya.

 

Dunia Bukan Tujuan

Allah tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya. Karena itu, tidak ada masalah yang tidak bisa dilalui. Kita diberi akal untuk bisa memilih. Namun, perlu diingat, setiap pilihan mengandung konsekwensi. Ketika pilihan itu baik maka akan mendapat balasan baik pula. Begitu pula sebaliknya. Jangan sekali-kali keliru menentukan tujuan hidup. Sebab, hakikat diciptakannya manusia adalah melakukan penghambaan kepada Allah.

Dunia adalah tempat pengabdian diri kepada Tuhan, tempat investasi untuk akhirat. Dunia memang sangat indah, namun salah jika kita selalu memimpikan dan merindukannya. Maka, berapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan pada kita, padahal Dia sedikit pun tak membutuhkan amal kita. Juga berapa banyak kita maksiat kepadaNya padahal kita sangat membutuhkan RahmatNya.

 

Nabi Juga Beristighfar

Nabi Muhammad Saw. mendapat predikat mashum. Dosa dan kesalahan beliau, baik yang sudah maupun yang belum dilakukan, telah diampuni. Sebagian ulama berpendapat, predikat ini mempunyai pengertian bahwa Nabi Muhammad senantiasa terjaga dari perbuatan dosa. Namun demikian, beliau tetap memohon ampunan Allah dengan beristighfar 70 kali setiap hari.

Lalu bagaimana dengan manusia biasa yang tak pernah luput dari dosa? Setiap perbuatan selalu dicemari dengan dosa. Padahal, setiap dosa memberikan titik hitam di hati. Jika titik itu menjadi banyak, maka hati akan semakin keras dan tidak mampu merasakan lezatnya beribadah. Sungguh nabi Muhammad Saw. bersabda: “Lalu bagaimana engkau tidak meminta ampun (istighfar)? Padahal aku selalu membacanya 70 kali setiap hari.”

 

Istiqamah dalam Istighfar

Anak merupakan amanah Allah yang harus dijaga. Setiap orang tua dilarang hanya mengkhawatirkan anak dalam masalah dunia saja, namun lalai dengan urusan akhirat. Anak merupakan investasi orangtua kelak ketika di akhirat. Ketika orang tua memiliki anak yang shaleh, walaupun umurnya pendek, akan sama dengan mereka yang umurnya panjang, karena setiap saat dia akan memperoleh kiriman amal dari buah hatinya.

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh Ra. Rasulullah Saw. bersabda: “Allah mengangkat derajat seorang hambaNya dengan masuk surga, kemudian hamba itu bertanya: ‘Ya tuhanku karena apa engkau berikan ini kepadaku. Allah bersabda: ‘Karena anakmu yang meminta ampunan untukmu’.”

 

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Instrokpeksi Hati dengan Istighfar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *