Ikhtiar Menangkal Hoax di Media Sosial

Thursday, August 9th 2018. | Qur'an

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

Artinya: “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (Q.S. An-Nur: 15)

Dalam Sirah Nabawiyah, kita sering mendengar kisah tentang hadits al-ifki (kabar bohong). Berita semacam ini sempat menggemparkan hampir seluruh penduduk kota Madinah, kecuali orang-orang yang dilindungi rahmat Allah Swt.

Bagaimana tidak, istri paling dicintai Rasulallah Saw. dan putri sahabat paling terpadang (Abu Bakar ra.) dikabarkan telah melakukan perbuatan zina. Siti Aisyah ra. diberitakan telah berbuat mesum dengan salah seorang laki-laki dalam suatu perjalanan. Berita itu menyebar dari mulut ke mulut hingga akhirnya didengar oleh hampir seluruh penduduk kota Madinah. Kala itu, orang-orang ramai membicarakan informasi tersebut.

Tak hanya menggemparkan kota Madinah, kabar bohong (hadits al-ifki) itu pun ternyata menggemparkan tujuh langit. Allah Swt. secara khusus telah menurunkan lebih dari sepuluh ayat suci dari langit menanggapi kabar bohong tentang kejadian mesum itu.

Allah Swt telah menurunkan ayat 11 sampai ayat 26 Surat An-Nur yang menjelaskan duduk permasalahan pada waktu itu dan membebaskan Aisyah dari “gosip murahan” yang bersumber dari mulut orang munafik. Ayat ini juga mengecam sikap penduduk kota Madinah yang genap menyebarkan berita bohong tersebut. Allah Swt di mengecam sikap para penyebar kabar bohong (hadits al-ifki) tanpa melakukan klarifikasi dan verifikasi.

Ketika merenungkan ayat-ayat suci terkait tersebarnya kabar berita bohong di atas, kita dapat menentukan langkah-langkah yang seharusnya ditempuh sebelum menyebarkan suatu berita, termasuk saat berselancar di media sosial. Sebelum memindah pesan yang masuk ke HP ke halaman FB, misalnya, kita seharusnya terlebih dahulu mengambil beberapa langkah sebagaimana yang telah ditentukan dalam firman Allah.

Pertama, menggunakan akal sehat dan nurani guna menimbang informasi yang hendak kita sebarkan. Allah Swt berfirman dalam surat An-Nur ayat 12:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Artinya: “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (Q.S. An-Nur: 12)

As-Sya`rawi dalam tafsirnya menjelaskan, bagaimana bisa akal pikiran orang-orang itu membenarkan kabar yang didengar telinganya? Tidakkah mereka berpikir, jika diri mereka tidak pantas melakukan perbuatan mesum itu, apalagi istri Rasulallah Saw, Aisyah ra putri Abu Bakar ra?

Dengan kata lain, nurani dan akal sehat semestinya kita gunakan untuk menakar kebenaran dan kebohongan berita yang kita terima melalui media sosial. Hal ini penting dilakukan sebelum kita mengirimkannya kepada orang lain ataupun memasukkannya dalam group yang akan diterima dan dibaca oleh banyak orang.

Apabila akal sehat dan nurani menolak dan enggan membenarkan berita atau informasi tersebut, maka seharusnya kita tidak menyebarkannya. Kita tidak perlu menginformasikannya kepada orang lain seolah berita itu mengandung kebenaran.

Kedua, berusaha klarifikasi dan mencari bukti. Allah Swt berfirman pada ayat berikutnya:

لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ

Artinya: “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang- orang yang dusta.” (Q.S. An-Nur: 13)

Dari sudut pandang fiqih, para penyebar berita mesum di atas sebenarnya telah melakukan qadzaf  (menuduh Aisyah telah berbuat zina). Bagi orang yang meng-qadzaf disyaratkan untuk mendatangkan empat orang saksi. Dengan kata lain, sebelum menyebarkan suatu berita, setiap orang mesti mencari buktinya terlebih dahulu.

Jangan sampai, tanpa sadar, kita berbuat dosa besar lantaran menyampaikan berita dusta dengan melakukan copy paste atas informasi di akun FB, WA, atau media sosial lainnya. Di sinilah pentingnya melakukan klarifikasi dan mengumpulkan bukti.

Ketiga, menghapus berita atau informasi yang masuk apabila tidak terdapat bukti yang valid tentang kebenarannya. Allah Swt di dalam ayat-ayat itu juga mengingatkan:

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (Q.S. An-Nur: 16)

Sewaktu mendengar atau menerimanya, jangan sampai berita semacam ini berpindah kepada orang lain. Cukuplah berhenti pada kita. Ringkasnya, dengan melakukan tiga langkah di atas, para pembuat berita hoax pasti akan kehilangan peluang untuk memperkeruh suasana serta membuat kegaduhan.

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Ikhtiar Menangkal Hoax di Media Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *