Ibu Umat Islam yang Teguh (Profil Ummu Habibah, Sayidah Ramlah binti Abu Sufyan)

Friday, October 2nd 2015. | Uswatun Hasanah

siluet-gamis-syari

Para sahabat digambarkan oleh Rasulullah saw sebagaimana bintang-bintang, bercahaya dan indah. Tanda dari keimanan mereka yang mempunyai derajat tinggi di sisi Allah, indikasi dari hati-hati mereka yang bening, setiap saat memendar sinar keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hingga pada kehidupannya, generasi pertama Islam (masa Nabi-sahabat) adalah masa panutan, mereka adalah sekelompok manusia mulia yang menjadi tuntunan pada generasi setelahnya, menjadi rujukan akan pelajaran dan keilmuan Islam, hingga sekarang.

Sahabat Nabi, baik yang laki-laki ataupun perempuan, adalah manusia pilihan Allah, seperti lentera yang menerangi perjalanan syariat islamiyah, betapa iman, Islam, dan ihsan dalam hati mereka menakjubkan. Ketika menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya. Salah satu lentera Islam itu adalah Ummul Mukminin, sayidah Ramlah binti Abu Sufyan.

 

Putra Pemuka Quraisy

Ayah beliau adalah seorang pemuka Quraisy dan pimpinan orang-orang musyrik (Abu Sufyan masuk Islam setelah Fathu Makkah). Walupun putri pemuka orang kafir, sayidah Ramlah binti Abu Sufyan memilih beriman kepada Rasulullah saw sekalipun ayahnya memaksa menyembah berhala.

Sayidah Ramlah binti Abu Sufyan pada awalnya menikah dengan Ubaidullah bin Jahsy, yang sama-sama Islam. Ketika kekejaman orang-orang kafir atas kaum Islam makin menjadi, sayidah Ramlah binti Abu Sufyan hijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Di sana, ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Habibah, penamaan anaknya sayidah Ramlah binti Abu Sufyan kemudian familiar dengan sebutan Ummu Habibah.

 

Mimpi Buruk

Menghadapi penyiksaan dari orang-orang musyrik pasti merupakan beban yang luar biasa bagi para sahabat, tak terlebih Ummu Habibah, seorang wanita mulia dari bangsa Quraisy.

Ketika melakukan hijrah, Ummu Habibah bermimpi melihat suaminya dengan bentuk yang sangat buruk dan menakutkan. Ia terperanjat dan terbangun, kemudian berdoa kepada Allah agar dijahui dari segala hal buruk. Ternyata, pagi harinya, Ubaidullah bin Jahsy telah memeluk agama Nasrani.

Selama di tempat jauh itulah, suami sayidah Ummu Habibah tetap tidak mau kembali kepada Islam meninggal.

 

Ujian Keimanan di Tanah Perantauan

Hari terus berlalu, di tanah perantauan (hijrah), sayidah Ummu Habibah berada dalam kondisi sulit, seorang diri tanpa pendamping, jauh dari sanak saudara dan kampung halaman. Keimanan yang kuat dan tulus dalam hatinya memberi keteguhan, teguh akan datangnya karunia Allah kepadanya.

 

Kabar Istimewa

Setalah selesai masa iddah, tiba-tiba ada seorang jariyah (budak wanita) dari Najasyi yang memberitahukan kepada sayidah Ummu Habibah bahwa dirinya telah dipinang oleh Rasulullah saw. Alangkah bahagianya mendengar kabar gembira tersebut. Saking bahagianya, sayidah Ummu Habibah memberikan perhiasan dan gelang kakinya kepada budak yang membawa kabar istimewa.

 

Pinangan dan Syahadat Raja Najasy

Para suatu hari (sore), Raja Najasyi mengumpulkan umat Islam yang berada di Habasyah, kaum muslimin datang dipimpin sahabat Ja’far bin Abi Thalib ra, sepupu Rasulullah saw. Setelah berkumpul, sang Raja menyatakan masuk Islam, betapa bahagianya kaum muslimin.

Yang lebih membahagiakan lagi adalah saat Raja Najash menyampaikan surat Rasulullah saw bahwa Nabi melamar sayidah Ummu Habibah, bahkan Raja membawa serta mahar pernikahan sebanyak 400 dinar.  Dengan penuh keharuan, Khalid bin Sa’id yang menjadi wali dari sayidah Ummu Habibah menerima lamaran Rasulullah saw.

Walimah atau perayaan dilakukan di kerajaan Habasyah untuk menyambut kabar mengembirakan itu.

 

Datang Ke Madinah

Setelah perang Khaibar, rombongan Muhajirin dari Habasyah datang (sekitar tahun 6-7 Hijriyah). Sayidah Ummu Habibah yang saat itu berusia 40 tahun menjadi pendamping Rasulullah saw, berada di jejeran wanita-wanita mulia, Ummul Mukminin.

 

Iman, di Atas Segalanya

Sayidah Ummu Habibah dikenal sebagai wanita yang kuat keimanannya, iman dalam hatinya mengalahkan rasa sayang kepada saudara, termasuk ayahnya (Abu Sufyan) yang belum masuk Islam. Saat Abu Sufyan meminta sayidah Ummu Habibah menjadi perantara dirinya dan Rasulullah guna perubahan perjanjian Hudaibiyah, wanita mulia itu dengan tegas menolak. Dalam diri sayidah Ummu Habibah, akidah (kepercayaan) menempati keutamaan di atas apapun. Termasuk ayahnya.

 

Di Rumah, Sampai Wafat

Sayidah Ummu Habibah sudah tidak diragukan lagi keteguhan imannya, beliau adalah panutan wanita Islam dalam hal sosok yang sabar, teguh, dan kuat dalam memegang prinsip keislaman.

Setelah Rasulullah saw wafat, sayidah Ummu Habibah tidak keluar rumahnya kecuali untuk shalat, dan tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji, hal ini dilakukan hingga wafat pada usia tujuh puluh tahun.

Wanita mulia dari bangsa Quraisy tidak membuat ia silau dan terpana dengan gelimpangan harta, sayidah Ummu Habibah malah memilih kehidupan sulit saat hijrah ke negeri Habasyah. Semangat tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya dibalas oleh Allah kepadanya dengan diberi penghargaan tinggi, ibu para umat muslim, ummul mukminin, semoga Allah meridainya, dan para wanita Islam mencontohnya. Amin.

Umar Faruq

Comments

comments

tags: ,

Related For Ibu Umat Islam yang Teguh (Profil Ummu Habibah, Sayidah Ramlah binti Abu Sufyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *