HAUL

Tuesday, March 10th 2015. | Cerpen

Lukisan cerpenHaul  sudah datang lagi. Maka nestapa demi nestapa itu akan membayang lagi.

Adalah Kang Qosim, pandangan matanya masih nanar menatap setiap jengkal kehidupannya. Dia merasa masih tetap terkungkung dengan kehidupan yang begini-begini saja. Sebenarnya tak ada yang salah dengan Kang Qosim, bahkan dia terlihat lebih tangguh, lebih hebat, ya, semua orang berpendapat seperti itu tentang Kang Qosim.

Entah ini sudah Haul  yang ke berapa. Kang Qosim melewatinya dengan perasaan yang semakin lama semakin terasa berat, menyesakkan. Padahal seharusnya Haul  bagi kebanyakan orang, terutama santri dan alumni adalah momen berharga untuk bisa kembali bersilaturrahim, bertemu kawan lama, bernostalgia masa-masa mondok dulu. Tapi tidak dengan Kang Qosim, di tengah gempita Haul, di antara kenangan-kenangan yang diurai, di sudut itu Kang Qosim dalam kehampaan yang mengungkungnya.

***

“Ini Om Qosim, le…ayo salim dulu.”

Dua bocah berusia 8 dan 5 tahun mencium tangan Kang Qosim setelah ayah mereka menyuruh.

Wajah Kang Qosim masih dalam segenap ekspresi tak percaya. Ini kan teman sekelasnya dulu, apa iya dua bocah ini anaknya. Demi rasa penasarannya, Kang Qosim pun bertanya.

“Loh, ini kedua anakmu ta?”

Anggukan dari teman lamanya itu seketika meluruhkan rasa penasaran Kang Qosim yang sekaligus menambah setitik nestapanya. Maklum sajalah, terakhir bertemu ketika temannya ini meminta Kang Qosim untuk menemaninya sowan kepada Kiai sepuh, mohon restu untuk menikah, dan itu 9 tahun yang lalu.

***

Ini adalah periode ketiga Kang Qosim menjadi lurah pondok dan setiap menjelang akhir jabatannya, Kang Qosim selalu sowan kepada Kiai, mengutarakan keinginan hatinya, menikah, pulang dan boyong. Tapi Sang Kiai tampaknya belum menghendaki Kang Qosim untuk meninggalkan pondok, masalah jodoh, menikah, Sang Kiai sudah merencanakan sesuatu yang besar untuk Kang Qosim.

Sadar sebagai santri, Kang Qosim selalu berusaha untuk sam’an wa to’atan, manut, nurut apa saja yang dikehendaki Sang Kiai. Meski sering Kang Qosim ini merasa berat menjalaninya, tapi keyakinan Kang Qosim akan barokah dari seorang guru mengalahkan semuanya, membuat Kang Qosim tetap tenang.

Kang Qosim kembali menangguhkan keinginannya. Untuk membunuh setiap rasa ingin yang bergejolak di dada, Kang Qosim menenggelamkan diri dengan kesibukan-kesibukan mengurus pondok, bahkan sama sekali Kang Qosim tidak menyisihkan waktu untuk dirinya sendiri. Kang Qosim tak mau memberi kesempatan hatinya untuk terus memikirkan segala keinginannya, dia tak mau terjerumus dalam perasaan menyalahkan siapa pun.

Bagi kang Qosim mengisi setiap penantiannya dengan sesuatu yang bermanfaat itu lebih baik dari pada hanya menunggu dan menunggu tanpa kepastian, sehingga paling tidak, jika apa yang sudah diannti itu tak kunjung tiba, Kang Qosim sudah mendapat kebaikan dari masa penantian yang tidak dilewatkan hanya dengan kesia-siaan.

***

Dari tahun ke tahun, Kang Qosim yang hampir memasuki usia kepala empat merasakan ini semua semakin berat. Masa nyantri Kang Qosim yang tidak sebentar, hampir 25 tahun, sejak usia 14 tahun membuatnya dalam frase yang sulit untuk dijelaskan. Sementara teman-teman satu angkatannya di pondok sudah sama berkeluarga, bahkan memiliki anak. Dan Haul selalu menjadi nestapa baginya.

Bagaimana tidak, Reuni tahunan bersama teman-teman satu angkatannya di pondok setiap kali peringatan Haul membuatnya sesak, iba dengan teman-temannya. Mereka datang bersama keluarganya, bercerita tentang istri, anak dan santri-santrinya, maklum sajalah, teman-teman Kang Qosim banyak yang sudah mendirikan lembaga pendidikan, TPQ, Madrasah, bahkan pesantren, sementara Kang Qosim masih sama, masih di pondok.

Belum lagi gojlokan dari mereka, Kang Qosim hanya bisa tersenyum, demi semua kenyataan hidupnya yang masih hampa, dirinya yang mungkin perjaka tua.

Jauh dari itu, Kang Qosim dalam hatinya memiliki keyakinan kuat akan adanya barokah yang membuatnya bertahan selama ini. Rasa cintanya kepada Sang Kiai, kepada pesantrenlah yang membuat Kang Qosim kuat.

Dalam setiap sujudnya, Kang Qosim hanya meminta agar diberikan kesabaran dan keikhlasan. Sabar, menerima dan legowo terhadap jalan hidupnya, ikhlas dengan apa yang telah diberikan padanya. Mungkin Allah masih menginginkan Kang Qosim belajar lebih, mempersiapkan bekal yang cukup untuk masa depannya.

***

Di tengah gejolak hatinya, di antara ruang lamunannya, salah seorang khadim Kiai tergopoh-gopoh menyampaikan bahwa Kang Qosim ditimbali Kiai di ndalem.

Dengan segera kang Qosim pun menuju kediaman Kiai.

“Sim, sebenarnya Abah dari dulu sudah memilihkan jodoh untuk kamu sebelum beliau wafat. Dan bukannya apa-apa, saya hanya menunggu jodoh kamu itu pas. Kamu tahu Aisyah? Anakku yang pertama, itu jodoh yang dipilihkan Abah buat kamu. Setelah Haul  nanti, kamu bawa orang tuamu ke sini.”

Betapa Kang Qosim pun seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Mungkin ini rencana besar yang dikatakan Kiai sepuh tempo hari sebelum beliau wafat. Tapi kang Qosim merasa dirinya tidak pantas jika harus bersanding dengan cucu Kiai sepuh, Ning Aisyah, siapalah Kang Qosim.

“Waktu Abah mengatakan ingin menjodohkan Aisyah denganmu, waktu itu Aisyah baru 8 tahun, jadi setelah sekarang umur Aisyah 17 tahun, saya rasa sudah waktunya.”

Kang Qosim di balik rasa tidak percayanya, di balik kebahagiaan yang tidak bisa ditutupinya, Kang Qosim bergumam “Mungkin ini yang dinamakan barokah.

*Adzikro al Aqsho

Langitan, 07 Desember 2014

*Santri Langitan dari lereng gunung Pegat.

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For HAUL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *