Harta hanya di Tangan, bukan di Hati

Saturday, September 21st 2013. | Kajian, Tasawuf

Harta hanya di Tangan, bukan di Hati

 (Kajian Tasawuf)

Hidup memang sebuah ujian, hanya orang-orang yang benar-benar teguh iman saja yang dapat melewati ujian ini dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang tidak tertipu oleh kilau nikmat dunia yang begitu menggoda. Jika bisa diibaratkan, dunia seperti seorang wanita tua renta yang memakai perhiasan yang begitu indah. Saat orang-orang melihat dhohir wanita tersebut bisa dipastikan mereka akan terpesona dan mengira bahwa wanita itu memang benar-benar cantik. Namun ketika wujud asli wanita tua itu terbuka dan kejelekannya telah tampak, maka para lelaki akan sengat menyesal dan malu karena merasa telah tertipu oleh kecantikan dhohir yang palsu.

Begitulah dunia. Dia memang diciptakan untuk menguji seberapa kuatkah iman seseorang. Ketika seseorang dituntut untuk melakukan ibadah kepada Sang Kholik, dunia yang telah dimodifikasi sedemikian rupa oleh iblis la’natullah datang dengan berbagai macam nikmat dan kesenangan yang sifatnya hanya sementara. Iblis akan terus berusaha hingga akhirnya manusia terperangkap dalam jurang kenikmatan duniawi dan lupa bahwa tugas awal diciptakannya seorang hamba adalah beribadah kepada Sang Kholik.

Adalah Orang-orang yang memahami hakikat kehidupan dunia ini sesuai dengan apa yang telah Allah dan rasul-Nya ajarkan yang bisa selamat dari tipu daya syetan. Mereka memandang dunia dan isinya tak lebih dari sebuah permainan yang seringkali melalaikan, mereka tidak berbangga hati dan sombong dengan harta kekayaan yang dimiliki. Jika dalam diri mereka telah tertanam sifat tersebut, maka mereka bisa disebut dengan zuhud.

Zuhud merupakan sifat yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang mengaku  dirinya sebagai mukmin. Zuhud juga hendaknya menjadi gaya hidup umat muslim kapanpun dan di manapun ia berada. Zuhud bukan berarti meninggalkan kenikmatan dunia sama sekali, bukan pula mengenakan pakaian-pakaian yang lusuh dan bukan berarti miskin.

Bahwa sebenarnya, zuhud adalah kemampuan kita dalam menjaga hati dari godaan serta tipu daya kemewahan dunia tanpa meninggalkanya. Lebih spesifik zuhud merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi. Mereka tetap berusaha dan bekerja, namun kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan hati dan tidak membuatnya meninggalkan Allah sedetik pun. Kita beramal shalih, memakmurkan bumi dan bermu’amalah, namun di saat yang sama hati kita tidak tertipu. Kita meyakini sepenuhnya, bahwa kehidupan akhiratlah yang menjadi tujuan utama.

Di zaman yang seperti ini, zaman yang penuh dengan hal yang serba modern dan tersedianya suguhan berbagai macam nikmat duniawi, mencari seorang zahid sejati sangatlah sulit. Ibarat mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. Karena jarang sekali orang yang dapat menahan dirinya dari dahsyatnya godaan dunia. Namun jika seseorang mempunyai  kemauan yang kuat dan berusaha mengikuti semua aturan sebagaimana yang telah dijelaskan Ulama, maka bukanlah hal yang mustahil bila dia akan berhasil mencapai maqom (kedudukan) seorang zahid sejati.

Selain itu yang terpenting lagi adalah urusan hati. Sebagaimana keterangan di atas, walaupun seseorang mempunyai harta yang melimpah namun dalam hatinya tak pernah  sedikitpun terbesit rasa senang terhadap harta itulah yang dinamakan zuhud yang sebenarnya. Sebaliknya, ketika seorang tidak mempunyai harta sama sekali tapi hatinya selalu berangan dan bermimpi bisa memilikinya. Hal tersebut tidaklah bisa dikatakan sebagai zuhud, sebab inti dari sifat zuhud adalah hati yang bersih dari kecondongan terhadap kesenangan duniawi.

Seorang Ulama di zaman tabi’in pernah berkata bahwa makna meninggalkan dunia yang sebenarnya adalah dari hati dan pikiran. Suatu pekerjaan bisa bernilai amal duniawi atau ukhrowi tinggal bagaimana niat seseorang. Jika seseorang makan dengan niat agar badannya kuat menjalani ibadah, maka pekerjaan tersebut akan benilai ibadah. Begitu juga sebaliknya.

Oleh karenanya merupakan hal yang sangat penting bagi kita untuk sadar dan menyadarkan kembali diri sendiri beserta saudara-saudara kita tentang hakikat dunia dan akhirat. Iman terhadap hari akhir merupakan prinsip yang harus terus menerus diingatkan dan ditanamkan dalam hati kita, sehingga motivasi dan tujuan hidup kita sesuai dengan nilai-nilai Islam dan dapat memupuk sikap zuhud kita terhadap kehidupan duniawi.

Semakin kuat keimanan seseorang terhadap hari akhir, maka semakin tenanglah ia memandang kehidupan. Sebaliknya, semakin lemah iman seseorang terhadap hari pembalasan, otomatis akan menjadikan ia manusia yang rakus dan mudah tertipu oleh gemerlap keindahan yang ditawarkan oleh dunia. wallahu a’lam bishawab. (sumber : Ihya’ Ulumudin).

 

Ikram Najibuddin

Redaktur Majalah Langitan

Allah & Muhammad

Comments

comments

tags: , ,

Related For Harta hanya di Tangan, bukan di Hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *