Hari Raya Kesebelas  

Thursday, February 19th 2015. | Cerpen

hari raya

Sebut saja namaku Ilyas, anak pertama dari empat saudara, aku sangat bahagia bisa memiliki keluarga yang utuh, apalagi Abi (sebutan untuh ayah: Arab) adalah tokoh agama yang dihormati di desaku, Abi menjadi kiai kampung dan memimpin madrasah peninggalan kakek buyut. Seperti budaya Madura pada umumnya, tidak hanya keluargaku, aku juga merasakan penghormatan penduduk. Aku ingat, selalu menenteng kue, makanan ringan, atau uang sampe’ sepuluh ribu lebih (menurutku saat itu jumlahnya gede banget) sepulang sekolah diberi orang-orang yang bertemu denganku.

Aku bisa memegang uang banyak saat hari raya tiba. Semua penduduk dan masyarakat desa sekitar bersilaturahim ke Abi dengan membawa apa saja yang mereka punya, hasil bumi, kue-kue, dan makanan lain berjibun di rumah. Makanan-makanan itu kemudian dibagi-bagikan kembali oleh ibu merata ke tetangga sekitar. Sebelum pulang, tamu-tamu Abi pasti menghampiriku dan anak-anak Abi yang lain sambil memberikan uang, tentu, aku yang lebih tua lebih banyak jumlah uang yang dikasih.

“Kamu sangat beruntung…” begitu kata Samsuri, teman sebangku kelasku. Samsuri juga menyebut bahwa keluargaku sangat sempurna, ayahku yang tokoh agama, ibuku mempunyai stand tekstil besar di pasar kecamatan, dan kakekku adalah salah satu juragan tanah Bangkalan, Madura yang kaya raya. Apalagi, Abi adalah satu-satunya orang yang mempunyai mobil pribadi di desaku. Bahkan, di kecamatan Bangkalan, Madura, tidak banyak yang mempunyai mobil sendiri. Masyarakat Bangkalan, Madura pada waktu itu masih banyak menggunakan delma (dokar: Madura) sebagai transportasi.

Saat aku berumur sepuluh tahun aku ingat waktu itu kelas lima Sekolah Dasar, kakek sakit berkepanjangan, komplikasi ginjal membuatnya sering masuk rumah sakit daerah ketika puskesmas yang ada di kecamatan angkat tangan, satu persatu tanah kepunyaannya dijual oleh nenek sebagai penebus obat dan biaya rawat kakek. Satu bulan kemudian, kakek meninggal dunia. Setelah empat puluh hari selametan meninggalnya kakek, aku mendengar sendiri nenek sambil menangis kalau semua tanah dan harta sudah ludes dijual untuk pengobatan kakek. Kakek hanya mempunyai dua anak, ibu dan pamanku. Dua anak nenek itulah yang sering menguatkan dan menghiburnya.

Dua tahun kemudian, Abiku jatuh sakit. Aku tidak tahu apa penyakitnya, karena ibu tidak menjawab ketika aku menanyainya.

“Doakan Abi cepet sembuh ya Nak..” hanya itu jawaban ibu sambil menagis dan memelukku erat sekali. Yang aku tahu, Abi sering diantar paman berobat, paman hanya bilang kalau tempat berobat Abi di rumah sakit dr. Soetomo Karang Menjangan Surabaya.

Dua minggu setelah abi tidak pulang lima hari dari rumah sakit, ada kabar yang mengagetkanku. Abi meninggal di mobil ambulan saat pulang ke Madura. Aku dan ketiga adikku yang masih kecil hanya bisa menangis dan memegang keranda yang membawa janazah Abi untuk dimakamkan. Mulai saat itu, aku seperti tidak menemukan keceriaan lagi, stand tekstil milik ibu di pasar kecamatan dan mobil L-300 putih dijual, kata ibu untuk menutupi hutang biaya rumah sakit. Pamanku, saudara satu-satunya ibu juga tidak bisa berbuat apa-apa karena paman hanya guru madrasah kampung.

Keinginanku meneruskan sekolah atau mengikuti saudara nyantri di Jawa otomatis sirna karena ibu tidak punya apa-apa lagi untuk membiayai, nenek sudah tua. Apalagi, paman memutuskan ikut istrinya ke Pasuruan ketika tidak ada yang diharapkan lagi di Madura. Aku tidak tahu, siapa yang menyebarkan fitnah bahwa keluargaku sedang mendapatkan “adzab”, karena keluargaku yang dahulu terpandang dan kaya sekarang menjadi miskin dan madrasah milik kakek dipercayakan kepada orang lain. Memelihara jin, tuyul, babi ngepet, dan pesugihan lain sering dikaitkan kepada keluargaku. Ah, waktu itu, aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba masyarakat begitu membenci keluargaku? Padahal beberapa tahun lalu mereka mencium tangan Abi dan memandang keluargaku sebagai keluarga yang terhormat.

Ibu yang tidak lagi mempunyai pekerjaan pontang-panting mencari hutangan ke sana kemari untuk kebutuhan makan kami. Walau pun kadang masih ada beberapa warga yang simpati mengantarkan beras dan makanan ke rumah. Karena tidak kuat dengan keadaan ekonomi, ibu secara mendadak berbicara di depan kami anak-anaknya yang masih kecil kalau ia memutuskan akan mencari peruntungan bekerja sebagai menjadi TKI di Arab Saudi. Aku dan ketiga adikku masih tidak tahu istilah TKI waktu itu hanya ikut menangis saat tangisan nenek meledak dan merangkul ibu yang memandang kami dengan tatapan kosong.

“Tidak ada cara lain Nak?” kata nenekku.

“Tidak ada lagi Bu.. hanya ini, tidak ada lagi yang bisa diharapkan di Madura” ibu dan nenek menangis sambil berpelukan erat, kami anak-anaknya ikut-ikutan menangis sambil mendekat ke arah mereka.

“Yas, sebagai saudara tertua, kamu harus menjaga adik-adikmu nak. Ada nenek juga yang akan merawat kalian. Ingat nak, kamu harus kuat, harus tetap berbaik sangka kepada Allah. Kamu juga harus bisa menjadi contoh yang baik buat adik-adikmu” tidak ada lagi pembicaraan setelah itu, kami semua larut dalam tangis.

Saat berangkat ke luar negeri, kami sekeluarga mengantar ibu ke bandara Juanda, Surabaya, keluargaku bersyukur sekali atas kebaikan Pak Haji Mahmud sahabat Abi yang juga tetangga kami sukarela meminjamkan mobilnya, jadi paman dan nenek hanya mencari hutangan untuk membeli bengsin saja.

“Ingat Nak, Allah itu tidak tidur, Allah Maha Penyayang. Kamu harus sabar Nak.. doakan ibu bisa membahagiakan kalian seperti saat ada abimu dahulu..” tangisku meledak keras dengan ucapan ibu itu, ibu hanya memelukku erat dan menciumi pipi-pipiku yang basah dengan air mata sebelum ibu berangkat.

siluet-muslimah-laut-biru-sore

 

***

Setelah paman kembali ke Pasuruan, nenek menjadi satu-satunya ayah sekaligus ibu bagiku dan ketiga adik-adikku. Aku putuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja sebagai kuli di pasar, kebetulan pasar tidak terlalu jauh hanya setengah kilo meter dari rumah. Nenek melarang rencanaku, tapi aku tetap bersikeras memaksa, akhirnya nenek mengalah sambil menangis tidak tega.

“Kamu masih kecil Ilyas, masih dua belas tahun…” ucap nenek sambil tidak menoleh kepadaku, aku tahu ia menahan air matanya.

Tak penapah mbah, kauleh kuat, kauleh bisa alakoh nekah.. (tidak apa-apa nek.. saya kuat, saya bisa bekerja menjadi kuli)” nenek tidak menjawab, hanya memelukku erat, erat sekali di sela badannya yang bergerak mengiringi tangisnya yang makin menjadi.

Alhamdulillah, ada beberapa penduduk yang dahulu menjadi murid Abi membantu biaya sekolah Arul, adik pertamaku. Ketika mereka menawariku juga, aku tersenyum menolak halus, karena aku tahu mereka keluarga tidak berada.

Di pasar, aku menawarkan jasa sebagai kuli serabutan, mengangkat apa saja yang disuruh atau yang dibutuhkan orang-orang di pasar. Tidak peduli berapa uang dikasih oleh orang-orang yang memakai jasaku, lambat laun aku sudah terbiasa mengangkat barang berat sambil kulit terbakar matahari. Alhamdulillah, sehari kadang mendapat 10 ribu, cukup untuk membeli beras dan lauk untuk nenek dan ketiga adikku.

Kalau musim hujan dan masyarakat banyak menanam padi, aku juga sering menjadi buruh tani di desa atau di kampung tetangga, tergantung siapa yang membutuhkan. Berangkat ke sawah jam 7 pagi dan pulang jam 12 siang. Kadang sehari dapat 20-30 ribu, lebih besar dari menjadi kuli di pasar, mungkin banyak orang di pasar tidak membutuhkan kuli anak-anak sepertiku, di sana sudah ada bebepa bapak-bapak yang menjadi kuli dengan tenaga yang lebih kuat tentunya. Kalau bekerja di sawah, yang paling aku senang adalah sering mendapat makanan gratis dari para petani ketika selesai bekerja siang harinya, aku membungkus makanan desa menu sederhana itu dengan daun pisang untuk dinikmati bersama nenek dan ketiga adikku di rumah.

 

***

Allahu Akbar

Allahu Akbar

Allahu Akbar

Lailahaillahu wallahu akbar

Allahu akbar wa lillahil hamd

Ini hari Idul Fitri kesebelas kalau aku menghitung sejak keputusan ibu bekerja di Arab Saudi. Arul sudah berseragam SMP, Pak Shomad dengan baik hati terus membiayai sekolahnya. Sedangkan Anas sudah kelas tiga SD disekolahkan paman yang sekarang mengajar tingkat SMA di Jawa. Alhamdulillah, Zida juga bisa menikmati pendidikan TK karena aku bisa membiayainya, gaji bekerja di salah satu minimarket yang berdiri di kecamatan cukup.

Walau pun tidak ada baju baru bagiku dan ketiga adik-adikku, lebaran kali ini terasa bahagia karena nenek bilang hutang-hutang ibu sudah lunas, sebelas tahun bekerja selama itu pula kami di Madura tidak pernah merasakan hasil kerja ibu dari Arab Saudi, karena uang kiriman ibu, langsung dibuat melunasi hutang.

Setelah salat Idul Fitri di masjid, aku kaget saat ada mobil di depan rumah. Nenek yang melihat kedatanganku bersama Arul dan Anas berlari memeluk kami sambil menangis.

“Ibu kalian akan pulang, siang ini tiba di Surabaya” kata nenek dengan terbata-bata.

“Benar Nek??” Arul sedikit berteriak aku lihat mata adikku berarir. Nenek mengangguk meyakinkan. Tidak lama paman keluar dari rumah. Aku menghambur dan menangis di pelukannya.

“Iya Nak, ibumu akan pulang” paman menepuk pundakku lembut. Sepanjang jalan ke Surabaya, kami tidak banyak bicara, aku merasa detak jantung ini sudah sangat cepat berdegup, mungkin yang lain demikian, sudah sangat rindu dengan pelukan dan wajah yang sebelas tahun tidak melihatnya, ibu.

Di ruang tunggu bandara, aku melihat sosok berkerudung panjang ungu tersenyum lebar ke arah kami. Aku, Arul, Anas dan Zida secara refleks bersama-sama berlari sekencang mungkin saat melihat siapa yang datang. Kami menangis sejadi-jadinya di dekapan ibu, kami tidak mempedulikan lalu-lalang orang yang melihat kami.

“Ibu pulang Nak, ibu pulang…” aku hanya mendengar kata serak ibu itu lalu menciumi kami satu persatu dengan bertubi-tubi sambil menangis.

Subhanallah, sosok yang setiap malam aku dan adik-adikku merindukannya sekarang duduk dekat sekali bersama kami di bangku tengah mobil. Saat pulang, di dalam mobil ibu hanya selalu merangkul dan menciumi pipi-pipi kami sambil menagis tanpa banyak bicara.

Aku dan ketiga adikku bersorak gembira karena ibu memutuskan tinggal di Madura tidak kembali ke luar negeri lagi. Apalagi, paman juga berkata akan tinggal di Madura karena masyarakat memintanya untuk memegang madrasah Abi. Ternyata ada kesalahfahaman di pengurus madrasah sehingga keluargaku di fitnah, masyarakat sadar dan meminta paman sebagai keluarga Abi untuk memimpin kembali madrasah peninggalan kakek buyut itu.

Semua berucap syukur, ternyata uang kiriman dari ibu selama di Arab Saudi hanya separuh yang diberikan kepada nenek, separuhnya lagi ditabung oleh paman.

“Untuk modal membuka usaha tekstil keluarga kita nantinya” ujar paman menjelaskan di depan kami, nenek dan ibu hanya mengangguk mengiyakan.

Betapa rencana Allah begitu indah pada keluargaku, mungkin ini akan menjadi pelajaran bagiku juga keluargaku untuk selalu bersyukur dan tabah serta gigih bagaimanapun keadaan hidup. Aku sangat yakin bahwa, takdir dan sekenario-Nya akan selalu berputar dengan indah, tinggal bagaimana kita senantiasa memperindah hati di setiap putarannya.

 

[Umar Faruq]

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Hari Raya Kesebelas  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *