HARAPAN

Wednesday, March 28th 2018. | Cerpen


Seorang ayah tampak begitu senang melihat anaknya yang baru saja lahir. Sambil menggendong buah hatinya, ia mengatakan kepada orang-oang di sekitar bahwa anaknya akan menjadi orang besar suatu hari nanti. Yah, itulah harapannya terhadap matahari kecil itu. Karenanya, ia memberi nama anaknya dengan nama ‘Harapan’. Berharap ada banyak kemilau cahaya harapan yang akan menerangi cita-cita luhur anaknya kelak, menjadi orang besar.

Demi memenuhi harapannya, sang Ayah menyekolahkan Harapan di SD ternama dan unggulan, ‘ SD Kita Bahagia’. Segala upaya dipenuhi oleh Ayah demi melihat nilai rapot Harapan yang membanggakan, berjejer angka sepuluh. Prestasi Harapanlah yang selalu menjadi penghibur hatinya. Dan benar, semua yang diupayakan memang sesuai dengan harapan. Anak semata wayangnya itu berhasil menjadi murid teladan dengan peringkat nilai yang tak tertandingi di hampir seluruh sekolah se-kabupaten. Ia tak bisa membayangkan betapa kelak anaknya akan jadi orang besar.

Selepas dari SD Kita Bahagia, sang Ayah tak bisa menolak Harapan untuk memilih sekolah yang ia suka. Harapan akhirnya memilih melanjutkan sekolah di ‘SMP Bodoh Ria’. Alasannya adalah karena di sana ada banyak teman-temannya yang juga masuk di sekolah itu. Sang Ayah menurut. Ia hanya menginginkan Harapan menjadi orang besar. Tidak peduli masuk di sekolah mana, yang penting harapannya dapat diwujudkan oleh Harapan.

Di sekolah yang baru itu, Harapan sudah tidak lagi seperti dahulu. Belajar sudah bukan lagi menjadi kegiatan rutinnya. Ia lebih suka kumpul-kumpul bareng teman-temannya. Teman sebangku Harapan yang otaknya hanya seujung korek api, tiap ulangan selalu mendapatkan nilai di atas delapan puluh. Sementara teman satunya lagi yang otaknya kinclong, hanya mendapat nilai di bawahnya. Harapan menganggap itu biasa-biasa saja. Menurutnya, hanya orang yang pandai berbohonglah yang akan dianggap pandai.

Setelah lulus dari SMP Bodoh Ria, Harapan melanjutkan sekolahnya di ‘SMA Gila Bersama’. Ia memilih sekolah tersebut karena dua orang sahabat sejatinya juga sekolah di sana. Dua orang itu bernama Benalu dan Anarki.

Di sekolahnya yang baru, Harapan mulai menemukan dunia baru. Ia bukan lagi seorang anak yang biasa diatur-atur, dinasehati, diperintah, apalagi dimarahi. Guru bukan lagi orang yang dihormati. Mereka para murid lebih suka memberontak daripada menghormatinya.

Sampai suatu hari Benalu mengajak dua temannya, Harapan dan Anarki, untuk keluar pada saat jam pelajaran sekolah. Tanpa pamit dan langsung memacu motor.

Di jalanan, seperti biasa, mereka suka bikin ulah. Membunyikan suara knalpot dengan super bising. Bleyer sana, bleyer sini. Menggangu pengendara lain. Bahkan sering kali kejar-kejaran sama polisi.

Ketika hampir tiba di tengah pertigaan, terlihat tiga motor berhenti berjajar, seolah menunggu kedatangan mereka bertiga. Mereka berhenti. Terjadi perdebatan sengit. Salah satu diantara mereka sudah menyiapkan pukulan. Ada yang bawa senjata tajam. Hanya percakapan beberapa menit sebelum akhirnya berkecamuk. Kerusuhan akhirnya tak terhentikan.

Insiden itu akhirnya menjadi bencana besar. Di kantor Kepala Sekolah, ayah Harapan tidak berhenti mengelus dada. Pak Kepala Sekolah memanggilnya untuk menghadap. Harapan, Benalu dan Anarki hanya bisa berdiri mematung di pojok ruangan di hadapan ayah mereka masing-masing. Harapan menunduk. Ia tahu kalau Ayahnya sedang menangis di dalam hatinya. Menyesalkan, betapa ia gagal mendidik anak semata wayangnya.

Sang Ayah tentu saja terpukul dengan peristiwa itu. Fisiknya yang sudah renta kian hari tidak mampu menahan gejolak di hatinya. Ia jatuh sakit. Seminggu berjalan, ayahnya sudah tidak tertolong. Dia meninggal di rumah sakit. Harapan yang biasa merawatnya kini hidup sebatang kara. Ibunya sudah dahulu menutup usia saat ia berumur dua tahun.

Harapan menjadi sangat galau karena tidak bisa mewujudkan harapan ayahnya. Kedua temannya sudah hilang tanpa kabar. Ia benar-benar dalam keterpurukan. Satu-satunya pilihan hidup yang ia harapkan adalah merantau, mencari harapan baru. Tentu saja, meski seterpuruk apa pun, Harapan masih punya secarik harapan, walaupun baginya itu kecil.

Tahun demi tahun di perantauan, Harapan menyadari betapa terjadi kesalahan dalam hidupnya selama ini. Ia pun kembali ke kampung halaman. Semangat baru kemudian tumbuh perlahan di jiwanya. Harapan itu kembali muncul dan bercahaya.

Yah, sampai di usianya yang kini sudah masuk senja, harapan itu terbukti nyata dan berkilau terang. Harapan tersenyum bahagia.

Di kursi rotan, tempat Harapan menikmati pagi dengan secangkir kopi, seorang pemuda tinggi datang di depan rumahnya. Pemuda bernama Asa itu dengan ta’dzim mencium tangan Harapan. Sudah satu bulan terakhir ia tidak datang ke rumah. Kesibukan mengurusi masyarakat di kota gersang itu membuatnya tidak punya waktu. Harapan memakluminya. Tugas Asa benar-benar mulia. Mengajarkan orang-orang awam itu untuk mengerti hukum-hukum agama, memberi siraman rohani, mengajarkan akhlaq dan budi luhur yang santun. Semua orang menghormatinya.

Harapan membayang, andai saja ayahnya masih hidup, betapa senangnya jika ia melihat Ayah tersenyum sepertinya. Harapan itu benar-benar nyata.

Harapan melihat sosok Asa seperti cahaya matahari. Masa kecilnya selalu dididik dengan baik oleh ibunya. Ia diajarkan doa-doa, dan lidahnya sudah lancar membaca lafadz Arab. Hingga di usianya yang lima tahun, ia sudah hafal puluhan surat al-Qur’an. Ibunya benar-benar mendidiknya dengan benar.

Yah, selepas dari Sekolah Dasar Kita Bahagia, Asa tentu saja ingin memilih meneruskan sekolah yang ia suka. Tapi Harapan menolaknya, ia lebih memilih memasukkan anaknya ke ‘Pesantren Insan Budiman’ di daerah tempat perantauannya dulu. Harapan tak mau kegagalan harapan ayahnya terulang lagi pada Asa. Asa tidak akan lagi salah didik. Harapan ayahnya yang sempat kandas akan diteruskannya kembali pada Asa. Seperti namanya, saat ia lahir, Harapan begitu senang mendengar jerit tangisnya yang keras. Sambil menggendong buah hatinya, ia mengatakan kepada orang-oang di sekitar bahwa anaknya akan menjadi orang besar suatu hari nanti. Yah, itulah harapannya terhadap matahari kecil itu.

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For HARAPAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *