Hadits Palsu Tujuan dan Cara Mengetahuinya

Tuesday, September 27th 2016. | Essay

download

Hadits Palsu

Tujuan dan Cara Mengetahuinya

Pemalsuan hadits terjadi sejak tahun empat puluh satu Hijriyyah saat pemerintahan islam bergejolak. Setelah Sayyidina Utsman r.a. dibunuh pemberontak, umat islam terpecah menjadi tiga sekte atau golongan. Golongan fanatic Sayyidina Ali atau Syi’ah, Khawarij, dan mayoritas islam sebelumnya.

Sejak saat itulah para Ahli bid’ah mulai bermunculan, mereka membuat hadits-hadits palsu untuk mempropagandakan bid’ahnya. Begitu juga dengan para penganut hawa nafsu, mereka melobi  pengikut-pengikutnya dengan menggunakan hadits palsu.

Pengertian dan Tujuan Hadit Palsu

Hadits Maudlu’(palsu) adalah hadits yang di buat-buat dan di sandarkan pada Rosulullah, atau Sahabat, atau Tabi’in.  kadang pemalsu hadits berbicara, lantas menyatakannya sebagai hadits Nabi, dan kadang kala mengutip kalam ulama’ dan menisbatkannya kepada beliau SAW. Hadits semacam ini tidak boleh diriwayatkan kecuali hanya untuk pembelajaran atau menakut-nakuti. Betapa mengerikan ancaman bagi pelakunya, tiada tempat yang layak baginya selain di neraka.

Ada beberapa orang yang populer sebagai replikator(pemalsu) hadits. Diantara mereka adalah Jabir bin Yazid al-Ju’fi. Abu Dawud al-A’ma. Abu ‘Ismah Nuh bin Abi Maryam.

Nama terakhir adalah seorang alim yang agung. Bahkan karena kealimannya, dia mendapat julukan alJami’ (orang yang mengumpulkan banyak ilmu). Dia termasuk murid dari Imam Abu Hanifah dan Ibnu Abi laila seorang ulama yang terkenal dengan intelektualitasnya. Namun sayang sekali Abu ‘Ismah sering kali melakukan pemalsuan terhadap hadits nabi.

di antara tujuan seseorang berani melakukan pemalsuan hadits yang jelas-jelas orang seperti itu tempat adalah nereka sebagaimana hadits nabi adalah:

  1. Penguat suatu Madzhab. Persaingan di antara madzhab adalah motorik utama pembuatan hadits palsu. Contohnya adalah syi’ah, untuk mengkredibilitaskan madzhabnya, mereka membuat banyak hadits palsu yang terlalu berlebihan menyanjung Sayyidina Ali. Hadits-hadits itu digunakan untuk membantah orang-orang mendebat golongan mereka.
  2. Mencari penghasilan dan rizki. Hal seperti ini acapkali dilakukan oleh pendongeng atau seorang retorika. Melalui cerita-cerita dan kalam Nabawiyyah mereka mencari uang dari masyarakat. Kadang mereka bumbuhi ceritanya dengan kedustaan agar masyarakat tertarik mendengarkanya. Di antara orang yang melakukan hal semacam ini adalah Abu Sa’id al-Madani.
  3. Sebagai argumentasi penolong fatwa kliru. Telah banyak kita jumpai, bagaimana orang-orang yang kelimuannya belum terlalu mumpuni berdiri tegak di atas meja besar untuk dimintai fatwa. Tak jarang jawabannya tidak benar, hingga akhirnya dia membenarkannya dengan menggunakan hadits nabi yang dibuatnya sendiri. Menurut ulama’ diantara orang yang melakukan hal semacam ini adalah abul khattob bin dihyah dan abdul aziz bin harits al-hambali.

Cara mengetahui hadits palsu

            Refleksi kekwatiran ulama’ atas semaraknya hadits palsu dimulai abad enam Hijriyyah. Adalah Husain bin Ibrahim(543 H). seorang ulama dengan predikat Hafidz yang telah mengungkap kepalsuan hadits dengan kitabnya “al-Abatil”.

setelah itu banyak ulama yang menyusun karangan yang senada. Termasuk Al-Hafidz Abul Faroj Ibnu Jauzy(597 H), ibnu hajar al-atsqolani(852 H) yang merevisi kitab al-Abatil menjadi al-Qoul al- Musaddad fid Dzab ‘anil Musnad”, imam suyuti dan terakhir ulama’ suni abad 20, sayyid Muhammad bin alawi al-maliki dengan kitabnya al-Baits al –Hatsits.

Banyak cara untuk mengetahui suatu hadits termasuk hadits maudlu’, diantaranya adalah:

  1. adanya pengakuan pasti dari pemalsu hadits atau yang menempati posisinya. Sebagaimana pemalsu itu mengatakan tanggal lahir gurunya, akan tetapi kenyataannya pada tahun itu gurunya telah menianggal.
  2. Hadits itu tidak sesuai atau bertentangan dengan al-qur’an, sunah, atau ijma’ ulama’ yang tidak dapat di ta’wil lagi.
  3. Mengandung ancaman berlebihan terhadap suatu urusan atau perbuatan sepeleh.

Semua ini hanyalah suatu tanda yang mengindikasikan kepalsuan suatu hadits, Terlepas dari hadits-hadits yang telah mendapat rekomondasi dari para ulama’ spesialis hadits dengan label Shohih atau Hasan. Maka tidak sepatutnya kita ragu terhadapnya dengan berdalih pada tanda-tanda di atas.

 

                     

 

 

 

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Hadits Palsu Tujuan dan Cara Mengetahuinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *