Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf, Solo “Bermula dari Shimt ad-Durar”

Tuesday, January 7th 2014. | Tokoh
Habib Syech bersama Ust. Solmet pada acara Haul 43 Masyayikh Langitan

Habib Syech bersama Ust. Solmet pada acara Haul 43 Masyayikh Langitan

Jadwalnya sangat padat. Hampir setiap malam, menggemakan shalawat dari kota ke kota. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei bahkan Hongkong. Setiap kali Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf tampil dengan lantunan shalawatnya, ribuan bahkan puluhan ribu jamaah hadir. Tak terkecuali para “penggemar”nya yang menamakan diri Syechermania.

Alhamdulillah, bertepatan dengan perayaan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 2013, Majalah Langitan diterima Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, dini hari. Meski baru saja tampil dalam acara “Surabaya Bershalawat’ di Tugu Pahlawan, Surabaya, habib asal Solo yang dikenal dengan jamaah Ahbabul Musthofa ini tetap semangat menjawab pertanyaan kami.

 

Siapakah tokoh yang menginspirasi Habib Syech dalam berdakwah?

Sebenarnya banyak tokoh yang membuat saya untuk giat berdakwah. Namun jika boleh mengatakan, tokoh yang paling menginspirasi adalah ayah saya sendiri (Habib Abdul Qadir Assegaf). Beliau adalah guru utama saya. Beliaulah yang telah mencetak saya hingga bisa seperti ini.

Saya tidak pernah bermukim di sebuah pondok, karena pondok saya adalah ayah saya sendiri. Pondok saya adalah majelis atau masjid –tepatnya- di Masjid Assegaf, Wiropaten, Pasar Kliwon, Solo, dimana ayah menjadi imam. Setiap selesai Maghrib sampai menjelang jamaah Isya’, ayah selalu mengajak saya untuk mengikuti halaqah keilmuan, belajar al-Qur’an, membaca aurad (wirid-wirid) yang selalu menjadi keistiqamahan beliau. Di Masjid Assegaf itu pula, saya ikut berkhidmah membersihkan masjid seperti menyapu atau mengepel. Dan itu saya lakukan sejak duduk di bangku SD.

Sejak kecil, Allah mengaruniai saya “suara”. Dan ayah senang sekali dengan suara saya. Lantas, beliau menyuruh untuk selalu mengumandangkan adzan dan iqamah setiap kali mau melaksanakan shalat berjamaah. Kadang juga beliau menyuruh saya untuk menjadi bilal khutbah Jumat.

habib syech web2

PENUH BERKAH: Habib Syech bersama jam’iyah shalawat Ahbabul Musthafa

Ayah saya bukanlah orang yang masyhur, tapi beliau sangat khusyuk dan cinta mati dengan masjid. Apapun sakitnya, bagaimanapun kondisinya, selagi masih bisa berdiri maka beliau tetap mengimami. “Masjid adalah istriku yang pertama,” itulah yang diujarkan sang ayah dalam menunjukkan kecintaan beliau pada masjid. Hingga akhirnya, Allah memberi hadiah dengan mengambil nyawanya saat sujud dalam shalat Jumat terakhir. Saat itu beliau juga menjadi imam.

Ayah inilah inspirator bagi saya. Sosok yang tidak dikenal dan mengenal siapa-siapa, hanya para fakir dan miskin. Bagi beliau, kaya atau miskin, tua atau muda, laki atau perempuan hakikatnya mempunyai kedudukan yang sama. Riwayat hidupnya –masyaAllah- luar biasa (melarat) menurut saya. Namun sungguh nikmat menurut beliau. Sesuai dengan dawuh bahwa semua yang dihadirkan oleh Allah di bumi ini akan menjadi nikmat selama kita arahkan kepada Allah. Lain halnya jika semuanya kita arahkan kepada dunia.

 

Adakah tokoh lain yang mejadi inspirator Habib Syech dalam berdakwah, selain sang ayah?

Tokoh lain tentu saja ibu saya. Sadar, bahwa saya bukan orang pandai, bukan seorang alim, tapi beliaulah yang selalu memotivasi hingga diri ini mempunyai keinginan yang kuat dalam berdakwah.

Selanjutnya, ada nama Habib Anis Solo. Beliau ibarat rumah baru bagi saya. Sosok satu ini dikenal sebagai ahli dzauq (rasa) sekaligus guru dalam akhlak, tidak ada duanya.

Dalam satu mimpi, sewaktu ta’ziyah ke adik ipar di Madiun, saya diperintah ayah untuk mengumandangkan iqamah untuk salat Ashar. Hadir juga disitu Habib Anis. Ayah berkata: “Wahai Anis, masuklah kamu jadi imam dan saya menjadi makmum.”

Mimpi tersebut, menurut saya, adalah isyarat agar mengikuti (belajar) ke majelis Habib Anis di masjid Riyadh, Solo. Karena disaat itu pula saya merasa kebingungan setelah kehilangan sosok panutan (sang ayah) sewaktu saya berada di Arab Saudi.

Bersama Ustadz Najib bin Thoha, saya menghadiri majelis beliau setiap siang sekitar pukul 11 sampai setengah satu siang di Masjid Riyadh. Ustadz Najib inilah yang juga ikut berperan mengajak saya belajar ke Habib Anis.

Satu lagi figur yang telah berjasa dalam melatih mental saya adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman, paman saya dari Hadramaut. Pendidikan yang telah diberikan kepada saya sungguh luar biasa. Hampir setiap saat saya dicaci, disalahkan, selalu disalahkan meski saya tidak salah. Saya juga tidak tahu mengapa beliau menyalahkan saya, hampir saya tidak kuat menerima.

Setelah kedatangan paman ke indoneisa untuk kesekian kalinya, saya baru menyadari bahwa cacian, hinaan, tekanan dari sang paman adalah sebuah pembelajaran agar saya menjadi orang yang kuat, tahan terhadap berbagai cacian, hinaan, umpatan dan seterusnya. Hal itu terungkap setelah saya menghubungi salah satu teman yang mendampingi kedatangan beliau ke Indonesia. Teman tersebut mengatakan bahwa Habib Ahmad bin Abdurrahman adalah orang yang cinta dan kagum dengan pribadi saya.

 

Bagaimana proses hingga Habib Syech sekarang menjadi masyhur dengan dakwah menggunakan shalawat?

Sebenarnya saya sejak kecil sudah suka dengan shalawat. Hanya saja tidak ada yang kenal dan mau dengar suara saya. Kecuali hanya ayah. Jika ada tamu datang ke rumah, ayah akan memanggil saya untuk membaca shalawat dan qashidah. Hanya dua lagu saja yang saya baca, siapapun tamu yang datang.

Kemudian, sewaktu ke Indonesia, Habib Ahmad bin Abdurrahman (paman) mengatakan: “Kamu itu punya “suara”, Shimt ad-Durar ini antum baca dan istiqamahkan, jangan hanya mengandalkan ceramah, nanti kamu akan didatangi banyak orang.”

Setelah Shimt ad-Durar saya baca terus, alhamdulillah mulailah berduyun-duyun jamaah mendatangi majelis ta’lim dan shalawat saya. Kebetulan juga saya sedikit bisa dan mau mempelajari bahasa Jawa sehingga hal ini memudahkan penyampaian di depan jamaah yang notabenenya adalah ahli Jawa.

Lambat laun, muncul sebuah inisiatif bahwa untuk menarik simpati masyarakat, ada baiknya shalawat ini dikolaborasikan dengan lagu-lagu atau syair-syair Jawa. Seperti yang pernah dilakukan oleh Wali Songo. Semua orang jadi merasa heran, ada orang Arab yang mahir dalam bertutur Jawa, bisa lagu lir-ilir, ling-iling siro manungso.

Padahal saya ini asli kelahiran Solo. Hanya saja –mungkin- wajah yang mirip orang Arab karena ayah juga asli Arab. Ibu sendiri juga kelahiran solo.

 

Ketika disebut nama Habib Syech, maka yang muncul adalah “shalawat” bukan “dakwah”. Bagaimana pandangan habib tengang hal ini?

Ada beberapa model dakwah yang dinilai pas -menurut si da’i- tapi kurang diterima oleh semua elemen. Nah, saya tidak demikian. Shalawat ini terus saya tekuni dan saya kembangkan dengan berbagai aransemen ulang dan kolaborasi syair-syair Jawa agar semua golongan bisa menerima.

Sebetulnya, tidak ada juga istilah dakwah dengan shalawat. Karena shalawat sendiri mengadung dakwah. Dalam satu shalawat ada kalimat: ‘ala bidzikrillahi tathmainu al-qulub, berarti shalawat ini mengajak kita untuk selalu mengingat Allah. Ada lagi shalawat karya Kiai Idris Lirboyo yang mengandung do’a kepada diri, orang tua dan para guru. Nah, di jamiyyah saya sendiri, model shalawat kita buat dengan sisipan bait-bait Jawa agar semua orang mudah menerima dan mengingat seperti sepeti Padhang Bulan, Shalli wa Sallim, Hayat ar-Rasul, lagu yang dikenal dengan lagunya Gus Dur, dan sebagainya. Ada juga syair tentang Nahdlatul Ulama (NU), supaya mereka paham dengan NU. Ironis tentunya jika mengaku orang NU tapi tidak paham apa itu syuriah? Apa itu tanfidziyah?

Kita selingi juga dengan taushiyah para habib atau kiai yang hadir agar porsinya seimbang. Memang benar, ketika saya tampil seolah yang dominan adalah shalawatan. Sehingga saya berinisiatif untuk memberi dan mempersilakan habaib atau kiai untuk memberikan taushiyah di tengah acara agar tidak buyar.

Andaikan mereka pulang dulu, maka kita tidak bisa menyalahkan mereka (jamaah yang hadir) karena maunya seperti itu. Paling tidak untuk saat itu mereka menjadi orang “waras” karena mau bershalawat.

 

Apakah kaum muda menjadi target khusus dalam dakwah Habib sampai kerap melantunkan syair mengingatkan anak muda?

Semua kalangan menjadi target dakwah kami. Dan syair yang Anda maksud sebenarnya adalah sentuhan kepada mereka (pemuda) agar mereka sadar. Lagu tersebut sebenarnya campur-campur. Asal-muasalnya adalah shalawata dari Mbah Kyai Musthofa, Tuban.

 

Bagaimana dengan Syechermania?

Sebenarnya Syecher ini terbentuk secara alami. Saya coba untuk mencegah namun tak kuasa sehingga terbentuklah suatu komunitas. Saya hanya berpesan kepada mereka: “Kedepankanlah akhlak, kalau lagi bershalawat maka niatkan membuat gembira Nabi Muhammad, silakan gembira dengan cara bagaimanapun namun jangan terlalu over. Namun, dalam setiap kali bershalawat ada saja yang berjoget dan berdandan aneh.

Saya pun pasrah. Saya pikir di saat itu mereka berada dalam wadah rahmat. Siapa tahu, di saat seperti itu rahmat Allah turun. Bak kisah kisah Nabi Muhammad ketika bersandar di rumah Yahudi. Jibril berkata: “Wahai Muhammad, di dalam rumah itu adalah adalah Yahudi yang membeci kamu. Ia adalah orang yang  tidak ingin melihat wajahmu.” Setelah beberapa langkah Nabi menyingkir, Jibril berkata: “Kembalilah Muhammad karena dia telah mendapat rahmat Allah karena bekas tempat dudukmu.

Nah, siapa tahu dengan sekian ribu umat yang bershalawat, yakinlah bahwa hadir juga didalamnya waliyullah, yang dengan doanya Allah mengampuni kita. Saya khusnuddzon saja, dengan terus mengingatkan mereka tentunya.

 

[Abdullah Mufid Mubarok, Muhammad Hasyim & Mohammad Sholeh]

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf, Solo “Bermula dari Shimt ad-Durar”

10 responses to “Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf, Solo “Bermula dari Shimt ad-Durar””

  1. Kaiz says:

    Subhanalloh.. 🙂

  2. yuni says:

    Subkhanalloh…sejak mendengar sholawatan Habib Syech setiap hari saya liat you tube biarpun sambil kerja. Saya berharap suatu saat saya bisa betemu langsung dengan Habib. Saya merasa damai, karena jiwa saya sedang hampa Dan jauh dari Alloh. Terima kasih.

  3. unany says:

    subhanallah…luar bias mampu membuat hati saya menangis saat pertama kali saya mendengar sholawat habib syech…

    saat saya tahu dan akhirnya ingin mendalami dan lebih mengetahui..sekarang saya suka dan sangat mengagumi beliau..

    terima kasih..

  4. hendrik says:

    Subhanallah

  5. samsul says:

    kajiannya mohon untuk diberi link shar ke Fb atau media sosial lainnya agar lebih banyak yg tahu Majalah Langitan, dan banyak yg mempublikasikan dng cara share di FB dll.

    • Admin says:

      ya, mas, makasih perhatian dan sarannya. dalam waktu dekat akan kami pasang ling share-nya. Kami biasanya memposting rubrik-rubrik majalah yang sudah kami terbitkan. Dan semoga banyak juga yang ingin membeli majalah Langitan.

  6. juned says:

    assalamu’alaikum habib, saya junaedi saya benar benar btuh sekali pencerahan petunjuk habib…..saya takut terjerumus terlalu jauh karena permasalahan yang menimpa saya, istri saya mita cerai gara2 saya banyak hutang tu juga karena ngobati istriku yang ga sembuh2 karena di guna2 bib….saya bingung harus curhat sma siapa lagi…tolong beri pencerahan bib saya sudah mentog bingung mo berbuat pa lagi…sekarang yang ada di pikiran saya hanya mati saja…mungikin tu jalan terbaik sekarang bib…saya mohon sekali pencerahanya bib….

  7. hamba Allah says:

    Assalaamu’alaikum wr.wb
    Alhamdulillah atas ramhat Allah SWT kita masih di beri nikmat iman taufiq dan hidayahnya dan sholawat senantiasa kita haturkan kepada baginda nabi Muhammad SAW. Ijinkan saya menanyakan unek2 yg ada dalam hati saya yang selalu mengganjal hati saya.. Semoga jawaban dari pertanyaan saya dapat menjawab hati saya.. Yang saya ingin tanyakan adalah dalam beberapa bulan yang lalu habib syaikh mengucapkan kata KAFIR kepada salah seorang kiyai (Gus Nuril) kalo tidak salah.. Mengapa habib syaikh begitu?? Padahal baginda Nabi Muhammad selama hidupnya tidak pernah mengucapkan kata2 KAFIR kepada orang muslim apalagi orang tersebut masih mengucapkan kalimat syahadat dan melakukan sholat?? Tolong di jawab.. Menurut saya anda sudah melampaui batas seperti tingkahnya orang2 wahabi yang selalu getol mengkafir-kafirkan orang muslim..itu yang mengganjal di hati saya. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih.
    Wassalaamu’alaikum wr. wb

  8. Ardi Mas says:

    صلو على النبي محمد،،،،

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *