Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf “Bershalawat Hingga Negeri Jiran”

Tuesday, January 7th 2014. | Tokoh

habib syeh 3PANGGUNG megah nan indah berdiri gagah di Dataran Perbadanan, Precint 3, Putrajaya, Malaysia. Ribuan pria mengenakan busana muslim lengkap dengan surban dan imamah, duduk rapi. Kamis malam itu, 7 Nopember 2013, mereka larut dalam lantunan indah shalawat yang dikumandangkan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf.

Malam itu, kerinduan publik Malaysia terhadap Habib Syech terobati. Bersama pria kelahiran Solo, 20 September 1961, dan jamiyah Ahbabul Musthofa asal Solo, Jawa Tengah, tidak ada sekat pemisah meski berasal dari dua negara berbeda. Oleh kekuatan shalawat, mereka kompak melantunkan kalimat pujian kepada Rasulullah SAW.

Acara bertajuk “Love Prophet Night” atau “Malam Cinta Rasul” itu termasuk rangkaian Putrajaya International Islamic Arts and Culture Festival (PIIACUF) 2103. Bukan pertama kali ini Habib Syech tampil di Malaysia. Tapi sudah berulangkali. Bahkan, Pebruari hingga Maret 2013, Habib Syech menggelar tour ke berbagai kota di negeri jiran tersebut. Juga ke Singapura.

Ratusan ribu manusia di sejumlah kota yang didatangi Habib Syech, hadir dari berbagai kalangan melantunkan shalawat. Mereka berharap syafaat Rasul di hari kiamat. Dilaporkan 130 ribu jamaah menghadiri “Malam Cinta Rasul Bersama Habib Syech” tanggal 23 Maret 2013 di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur.

Acara tersebut juga dihadiri Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak. Stasiun TV Al-Hijrah, Malaysia, menyiarkan secara live (langsung) suasana “Malam Cinta Rasul Bersama Habib Syech” itu. Tampak suasana dimana Indonesia dan Malaysia yang belakangan acapkali bersitegang, bersatu dalam shalawat. Tidak ada saling menghujat. Tidak ada saling baku hantam.

Habib Syech populer di Malaysia dengan qasidah bertajuk “Ya Hanana” dan “Madzad”. Namun, publik Malaysia juga menyukai syair-syair lain yang dibawakan Habib Syech, termasuk yang berbahasa Jawa seperti Lir Ilir dan Padhang Bulan. Mereka bahkan antusias melantunkannya. Meskipun mereka tak mengerti artinya.

“Saya baru kali nie tengok Habib Syech langsung tapi saya dah langsung sukakan dia. Bila dia datang balik, saya pasti akan datang lagi untuk tengok walaupun saya tak tau apa erti dari syair bahasa Jawa yang dibawakan (ilir ilir dan padang rembulane) saya suka,” ucap Nil (19), warga Ampang, Kuala Lumpur.

Selain Malaysia dan Singapura, Habib Syech juga beberapa kali diundang masyarakat Brunei Darussalam dan Hongkong. Jika di Malaysia, Singapura, dan Brunei pengundangnya adalah masyarakat setempat, beda halnya dengan di Hongkong. Di kota bisnis terkemuka dunia ini, Habib Syech diundang berdakwah oleh para buruh migran asal Indonesia.

Awal Juli lalu, Habib Syech menggelar pengajian dan shalawat memenuhi undangan Majelis Dzikir (MDz) Ilham Shatin di Seaview Building Leader Dance Sheung Wan, Hongkong. Berbeda dengan di tempat lain, Habib Syech juga menjawab pertanyaan seputar fiqih dari para buruh migran alias tenaga kerja Indonesia di Hongkong yang mayoritas perempuan.

Padatnya jadwal Habib Syech tentu saja bukan hanya berdakwah di luar negeri. Melainkan juga di tanah air. Jika melihat agenda yang telah terjadwal, hampir tiap dua hari sekali Habib Syech tampil berpindah dari kota ke kota. Bahkan, jika lokasinya berdekatan, seringkali tampil tiap malam. Ini mengharuskan Habib Syech dan jamiyah Ahbabul Musthofa yang menyertainya harus pintar menjaga fisik dan stamina.

“Sebenarnya saya tidak menggunakan resep untuk menjaga stamina. Hanya, saya mempunyai keyakinan, kalau rasa cinta tertanam di hati kepada Baginda Rasul Muhammad SAW, segala rasa lelah akan sirna,” tutur Habib Syech. Kelelahan fisik akan terbenam dengan kelezatan nikmat dari syafaat Muhammad.

Diakui Habib Syech, rasa malas dan lelah memang seringkali muncul dan mengganggu. Saat hal itu muncul, ia teringat pada Habib Salim asy Syathiri, pengasuh Rubath Tarim, Yaman. “Habib Salim yang sudah sepuh dan duduk di kursi roda saja sangat semangat berdakwah, keluar masuk kampung. Lha saya yang masih muda masak harus malas. Ini yang diantaranya juga menyemangati saya,” katanya.

 

Suara Nan Indah

Salah satu daya tarik yang khas dari Habib Syech adalah suaranya yang syahdu dan menggetarkan hati. Setiap pengajian yang dihadirinya, jamaah membludak. Bahkan, seringkali yang hadir didorong keinginan melihat dan mendengarkan secara langsung indahnya suara Habib Syech. “Saya tidak mempunyai resep apa-apa untuk merawat suara. Ini karunia Allah,” tegasnya.

Meskipun kesehariannya disibukkan dengan jadwal pengajian, namun Habib Syech tidak meninggalkan tanggungjawab duniawi. Disela-sela kesibukannya, ia menyempatkan diri untuk bekerja. “Di rumah, saya mempunyai usaha kecil-kecilan. Berdagang surban dan baju muslim. Saya juga menjual kaset,” jelasnya.

Berdagang juga diteladani Habib Syech dari Rasulullah. “Baginda Rasul mengajari kita untuk bekerja, selain amar ma’ruf nahi ‘anil munkar. Agar kehidupan dunia dan akhirat seimbang dan terhindar dari sifat tama’,” imbuhnya.

Habib Syech bersama H. Agus Machsoem

Habib Syech bersama H. Agus Machsoem

Beberapa tahun silam, Habib Syech memang dikenal sebagai pengusaha. Ia berdagang batik setelah pulang dari merantau di Arab Saudi selama 10 tahun. Sembari berdagang, ia selalu meluangkan waktu untuk berdakwah. Dengan menumpang sepeda pancal, Habib Syech berkeliling dan menemui masyarakat di Solo dan sekitarnya.

Perjalanannya sebagai pendakwah kala itu, dilalui penuh perjuangan. Bahkan ia sering diejek sebagai orang yang tidak punya pekerjaan tetap, bahkan dicap sebagai habib jadi-jadian. Namun Habib Syech tidak pernah marah atau mendendam kepada orang-orang yang mengejeknya. Justru sebaliknya, ia tetap tersenyum malah kerap berderma (memberi sesuatu) kepada para pengejeknya.

Dakwah yang dilakukan juga lintas batas. Orang-orang yang nongkrong di warung didatanginya. Ia melibatkan diri dalam obrolan di warung-warung. Saat waktu shalat tiba, Habib Syech mengajaknya ke masjid atau musholla untuk shalat berjamaah. Awalnya orang-orang enggan dan menolak. Namun akhirnya, mereka tergerak hatinya sehingga mengikuti ajakan Habib Syech untuk shalat.

Meski berdakwah dalam kondisi pas-pasan, namun tidak jarang Habib Syech tetap mengusahakan minimal nasi bungkus untuk dibagi-bagikan kepada jamaahnya di pelosok-pelosok kampung. Taklimnya saat awal-awal itu dilakukan di seputar Solo dan Jawa Tengah. Pada tahun 1998, berawal dari Majelis Rotibul Haddad, Burdah dan Maulid Simthut Duror, Habib Syech mendirikan Jamiyah Ahbabul Musthofa di Kampung Mertodranan, Solo.

Kini, Habib Syech secara rutin menggelar pengajian di Gedung Bustanul Asyiqin di Pasar Kliwon, Semanggi Kidul, Solo, tiap malam Kamis Kliwon. Di luar rutinan itulah, putra Habib Abdul Qadir da Syarifah Bustan al Qadiri ini berkeliling memenuhi undangan jamaahnya di berbagai daerah di tanah air dan juga luar negeri.

 

Abdullah Mufid M.

 

Nama               : Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf

Lahir                : Solo, 20 September 1961

Pendidikan       : SD Ronogoro Surakarta

SMP Ronogoro Surakarta

SMA Islam Ronogoro

Istri                  : Sayyidah binti Hasan al Habsyi

Anak                : 1. Fathimatah az Zahro

2. Muh. Al Baqir

3. Umar

4. Abu Bakar

5. Toha

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , ,

Related For Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf “Bershalawat Hingga Negeri Jiran”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *