Guru-guru TPQ Itu…

Wednesday, May 11th 2016. | Cerpen

images (1)

Guru-guru TPQ Itu…

*Adzikro al_Aqsho

Siang itu Kang Badrun seperti biasa mengantarkan anak perempuannya ke Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) untuk mengaji. Masih pukul dua belas lebih lima puluh lima menit, itu berarti masih lima menit lagi jam masuk kelas. Kang Badrun sengaja tidak langsung pulang, dia ingin memastikan anaknya masuk kelas terlebih dulu.

Tak lama bel tanda masuk yang cukup memekakkan telinga dibunyikan, tanpa dikomando, dengan sendirinya puluhan murid TPQ yang rata-rata berusia di bawah tujuh tahun itu pun membuat barisan lima berbanjar yang memanjang. Mereka yang datang terlambat menyusul barisan di belakangnya, membuat barisan itu semakin panjang.

Di antara murid-murid itu, para guru berdiri di depan, belakang, samping kiri, kanan bahkan di tengah untuk memastikan murid-muridnya kondusif. Setelah barisan dirasa rapi, salah seorang guru yang ada di depan pun memberikan komando kepada murid-muridnya untuk membaca hafalan do’a-do’a harian; do’a akan makan, setelah makan, mau tidur, bangun tidur, naik kendaraan, bercermin dan lain sebagainya. Selesai membaca do’a harian, para guru kemudian mengomando untuk melantunkan asmaul husna;  Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya malik, Ya Quddus…….

Apapun bacaan yang dikomando para guru, murid-murid dengan serentak melafalkannya di luar kepala. Sementara itu, guru-guru yang berdiri di sekitar mereka pun ikut melafalkannya, ini untuk membantu mereka yang belum hafal atau masih baru belajar di sana.

Kang Badrun sangat menikmati pemandangan itu, dan diam-diam ternyata Kang Badrun juga mengikuti bacaan yang dilafalkan itu meski dengan suara yang sangat lirih. Pandangan Kang Badrun terus berputar di antara para murid dan guru-guru TPQ itu, dia memperhatikan bagaimana bibir-bibir guru-guru mereka yang begitu lemes dan luwes membentuk gerakan terbuka lebar, meringis, dan maju mencucu menyesuaikan cara-cara pengucapan masing-masing huruf Hijaiyah. Tipisnya huruf sin, tebalnya huruf syin dan ro’ saat dibaca fathah, penuhnya rongga mulut saat membaca huruf dhad, meringisnya bibir saat mengucap huruf ya’ mati yang ada di belakang harakat fathah, dan mencucunya huruf wawu mati yang ada di belakang harakat fathah, semuanya begitu lancar dilafalkan. Hal itu membuat Kang Badrun semakin mantab, bahwa Al Qur’an diajarkan dengan baik dan benar kepada anak didik mereka di TPQ ini.

Hal ini membawa memori Kang Badrun ke belasan tahun silam saat dia belajar mengaji di pondok, bagaimana dia harus menghabiskan waktu satu bulan lebih untuk benar-benar dianggap sempurna melafalkan bacaan basmalah saja kepada sang guru. Makanya, Kang Badrun dan istrinya memiliki cita-cita besar agar anak-anaknya kelak bisa menjadi anak-anak yang fasih dalam membaca al Qur’an dan bisa mengamalkan isi dari al Qur’an itu, bahkan Kang Badrun mewajibkan anak-anaknya untuk bisa mengaji al Qur’an sebelum mereka mempelajari ilmu-ilmu yang lain.

Kang Badrun semakin hanyut, bibirnya masih saja reflex mengikuti bacaan-bacaan yang dilafalkan hingga tiba-tiba dia terdiam. Bibirnya mengatup, hatinya bergejolak dan jiwanya bergetar, saat dia mendengar aba-aba dari guru-guru TPQ itu, “Do’a untuk ustadz dan ustadzah!”.

Kang Badrun berpikir keras, yang bagaimanakah bunyi do’a untuk ustadz dan ustadzah itu? Dalam sepersekian detik, Kang Badrun mencoba memutar memori ingatannya, membuka-buka file hafalan do’a yang pernah dipelajarinya di pondok dulu, nihil, Kang Badrun tidak menemukannya, dia semakin penasaran bagaimana bunyi do’a yang sama sekali belum pernah dipelajarinya itu.

Allahummaghfir lil mu’allimin, wa baarik lahum fi kasfibihm wa ma’aasyihim, wa adzillahum tahta dzillik, fainnahum yu’allimuna kitabaka al munzal.

Menyimak do’a itu, otak Kang Badrun langsung refleks menerjemahkannya; Ya Allah, ampuni dosa para guru kami, berkahilah usaha dan penghidupan mereka, naungilah mereka di bawah naunganMu, karena mereka mengajarkan kitab suciMu yang diturunkan.

Kang Badrun limbung, dia tak lagi mengikuti bacaan-bacaan yang dilafalkan. Hatinya tertohok dan membayang angan. Betapa mulianya mereka yang mengajar. Betapa bahagianya hidup dan kehidupan mereka. Setiap hari, puluhan anak-anak yang tak berdosa dengan penuh kegembiraan dan keceriaan itu memohonkan ampun bagi dosa-dosa mereka. Seakan tak tersisa lagi noda hitam. Bibir mungil itu telah menghapusnya, tiap hari, bahkan tiap waktu saat mereka menghafalnya rengeng-rengeng sambil bermain di pelataran rumah, sebagaimana yang biasa didengar Kang Badrun dari anaknya.

Wa baarik lahum fi kasbihim wa ma’aasyihim. Berkahi usaha dan penghidupan mereka. Sebuah permintaan yang tiada bandingannya, jika dikabulkan, siapa pun akan lebih kaya dari siapa pun yang kaya. Keberkahan, ya, keberkahan. Arti cukup, semakin bertambah dengan syukur, itulah keberkahan.

Wa adzillahum tahta dzillik.. seakan guru-guru TPQ itu sudah tidak perlu cemas lagi, karena do’a dari bibir-bibir suci itu selalu memintakan agar dia mendapat naungan, bukan hanya naungan dunia, tapi lebih dari itu, naungan di hari tiada naungan selain naunganNya. Pantas saja wajah mereka terlihat begitu cerah, tenang, bersahaja, teduh, mungkin itu adalah do’a dari murid-muridnya, dan juga karena ketulusan mereka.

Fainnahum yu’allimuna kitabaka al munzal. Karena mereka telah mengajarkan kitabMu yang diturunkan. Bocah-bocah itu meminta dengan paksa agar Allah mengabulkan permintaannya demi orang-orang yang telah mengajarkan mereka mukjizat paling agung utusanNya. Ah, enak sekali mereka guru-guru TPQ itu, ketulusan mereka dalam mendidik murid-muridnya sungguh berarti mulia.

Mata Kang Badrun nanar. Air matanya hampir-hampir berlinang. Kembali pada dirinya. Hatinya berkata; Tak inginkah kau dido’akan bibir-bibir suci itu? Atau pernahkah saat bibirmu masih suci, sekali saja melantunkan do’a keberkahan itu bagi para pengajarmu? Ah, maafkan aku, para guruku. Kuakui sekali saja bibir ini tak pernah memintakan keberkahan bagimu. Kini setelah aku mengenal do;a itu, ingin rasanya melantunkannya bagimu. Meski aku ragu, karena hati dan kedua bibir ini tak lagi suci. Begitu banyak kotoran berlumur syubhat dan kemunafikan.

Kang Badrun pun masih terpaku saat satu per satu murid-murid TPQ itu masuk ke kelasnya amsing-masing.

Langitan, 03 Februari 2015

*Guru-guru TPQ, kalian adalah juru dakwahnya.

*Terinspirasi dari buku “Kang Sodrun Merayu Tuhan”

 

 

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Guru-guru TPQ Itu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *