Ghanimah (Harta Jarahan) Umat Terdahulu

Sunday, October 29th 2017. | Fiqih

Mengutus seorang nabi sebagai wasilah tersebarnya agama samawi kepada manusia sudah menjadi titah Dzat Yang Maha Kuasa. Termasuk titahnya yang lain yaitu memerintahkan nabi agar mengajak para pengikutnya untuk terus menyebarkan agama yang dibawa. Demikian merupakan hal yang lumrah, karena tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah sesuai dengan undang-undang-nya. Beribadah (menyembah) kepada selain-Nya berarti kesesatan yang menjerumuskan mereka dalam kehancuran. Diutusnya nabi adalah bentuk kasih sayang Allah agar mereka kembali pada jalan kebenaran. Allah Swt. berfirman:

هَٰذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ ۚ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Artinya: “Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Luqman: 11).

Perjuangan ekspansi syariat tidak semudah membalik telapak tangan. Aral dan rintangan menjadi hal yang lazim bagi pejuang Allah. Dimusuhi, dicela, dan diancam adalah hal yang harus siap dihadapi. Karena sebagaimana tabi’atnya, manusia akan marah bila “diatur-atur” orang lain, apalagi diajak beralih dari keyakinannya.

Sejak zaman dahulu, jihad sudah diserukan oleh para nabi sebelum nabi Muhammad Saw. Sejak zaman dahulu pula banyak sekali penentangnya. Solusi terakhir bagi mereka adalah berjihad dengan berperang. Tak mengherankan jika pada zaman nabi Muhammad, meletus 27 peperangan yang hanya berlangsung dalam rentang waktu 13 tahun.

Dalam peperangan tersebut terkadang mereka mengalami kekalahan sehingga mereka  terpuruk, atau kemenangan sehingga berjaya dan memperoleh harta jarahan dari musuh. Naas bagi umat terdahulu, ketika mereka mengalami kemenangan dan di depan mereka sudah tampak begitu banyak harta jarahan,  namun mereka tidak dapat mengambil atau memakainya untuk keperluan sehari-hari. Mereka hanya mengumpulkannya sambil menunggu turunnya api yang akan menghanguskan semua jarahan itu. Demikian sebagai bukti diterimanya perang yang mereka lakukan. Karena hanya dengan begitulah Allah menerima perjuangan dan pengakuan mereka. Sebagaimana firman Allah Swt.

حَتَّىٰ يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ ۗ

Artinya: “Sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api.  (Q.S. Ali Imron: 183)

Maksud dari qurban adalah setiap perkara yang dibuat seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, seperti ibadah, shadaqah, dan amal shalih. Qurban serta ghonimah tidak halal bagi Bani Isra’il. Ketika mereka ber-qurban atau memperoleh qhonimah (harta rampasan perang) maka mereka kumpulkan semuanya, dan dari langit keluar api putih yang tidak berasap. Terdengar suara guntur, lalu api itu menghanguskannya sebagai tanda diterimanya amal. Suasana akan hening bila dalam berperang tujuan mereka bukan karena Allah Swt.

Comments

comments

Related For Ghanimah (Harta Jarahan) Umat Terdahulu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *