Eksotisme Masjid Tiban Pasuruan Sejarah peradaban yang mulai terlupakan

Friday, May 13th 2016. | Cakrawala

IMG_0004 [Lebar Max 2400 Tinggi Max 1800]

Eksotisme Masjid Tiban Pasuruan

Sejarah peradaban yang mulai terlupakan

Setelah mengalami perjalanan yang sedikit melelahkan, akhirnya kami tiba di kota Pasuruan yang dikenal dengan kota ‘macan’ karena banyaknya kiai disetiap lorong jalannya. Kota ini juga biasa disebut sebagai kota santri karena banyaknya pondok pesantren yang berdiri. Setelah sejenak singgah di salah satu pondok pesantren yang ada disana yakni Pondok Pesantren Salafiyah, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Masjid yang sederhana, namun penuh corak warna. Namanya adalah Masjid Tiban.

Sesuai dengan namanya, ‘Tiban’ yang berarti tidak ada yang tahu dari mana,Masjid ini memang dikenal sebagai Masjid yang muncul sendiri dengan tanpa ada seorang pun yang membangun. Dan Alhamdulillah, kami juga diperkenankan untuk bias sowan sekaligus bertanya kepada pengasuh Pondok Pesantren Annur Assalafy, KH. Muhammad Irsyad,yang juga selaku sesepuh desa, tentang beberapa hal dari sejarah Masjid tersebut.

Jadi Tanpa Pembuat

Bertempat didataran Tumpang, Pacar Keling, Kejayan, Pasuruan, Masjid ini memang jadi dengan sendirinya, tapi hanya satu setengah meter. Sebelumnya tidak ada Masjid. Kemudian diatas Masjid yang bertinggikan hanya satu setengah meter tersebut dibangun hingga benar-benar menjadi Masjid seutuhnya. Ketika masjid ini jadi, 3 kecamatan meliputi Kejayan, Keraton, dan Wonorejo, semuanya jum’atan disini karena langkanya Masjid pada saat itu.

Sekitar tahun 1984, Masjid ini mengalami perombakan total karena mengalami kemiringan sekitar 25 cm jika dilihat dari atas. Secara logika, masjid ini pastilah sudah roboh. Setelah dipugar, Masjid ini ingin dibuatkan pondasi dan dikuatkan dengan cakar bumi. Maka tepat persis dipengimaman, tanahnya digali. Tiba-tiba tanah disana runtuh dan membentuk sebuah lubang, atau lebih mirip dengan gua.

Semua orang pun lari berhamburan menuju Kiai Irsyad menghindari lubang tersebut. Akhirnya lubang itu didatangi oleh Kiai Irsyad dan ternyata, lubang tersebut memang lebar dan dalam. Dengan membawa senter, Kiai Irsyad menyuruh seseorang untuk turun namun tidak ada satu pun yang berani. Setelah diteliti, ternyata lubang tersebut menyerupai Masjid yang diatasnya. Jadi, dibawah Masjid yang sedang dibangun itu, ada Masjid lagi. Ada pengimaman, tempat shalat untuk makmum, dan memang benar-benar menyerupai Masjid.

Masjid Temuan Itu Ditutup

Setelah itu, orang-orang disana bertanya kepada Kiai Irsyad akan apa yang harus dilakukan pada Masjid tersebut. Ditutup, atau dibongkar. Kiai Irsyad menjawab, “Saya takut kalau ini tempatnya malaikat atau jin”. Karena untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan nantinya, akhirnya lubang tersebut ditutup kembali dengan semen. Dan kalau saja digali lagi maka lubang tersebut pasti masih ada, sampai sekarang.

Kiai Irsyad kemudian mendatangkan arsitek untuk mengetahui bahan Masjid tersebut apakah dari semen, atau dari batu. Namun, dari mereka tidak ada yang tahu. Kesimpulan terakhir mereka adalah, Masjid didalam tanah tersebut terbuat dari tanah yang mengkristal.

Sampai sekarang, Masjid Tiban telah mengalami banyak perubahan dengan ditambahi menara, pagar, dan lain-lain. Disamping Masjid dan dibawah menara, juga terdapat makam yang terlihat. Konon, terlihatnya makam tersebut adalah karena salah penempatan pagar, guna menyesuaikan ukuran masjid agar lebih pantas.

Jika ditanya kapan masjid ini dibangun, semua orang tentulah tidak ada yang tahu. Bahkan mbah-mbah (kakek-kakek) dari Kiai Irsyadpun tidak ada yang mengetahui. Mungkin memang karena sudah terlalu lamanya Masjid tersebut.

KH. Muhammad Irsyad saat menemui readaktur Majalah Langitan [Lebar Max 2400 Tinggi Max 1800]

Perawat Masjid

Dulu, perawat masjid ini, orang-orang biasa menyebutnya dengan Mbah Tuan Betawi. Dinamakan begitu karena beliau berasal dari Jakarta hingga penduduk sekitar menyebutnya begitu. Beliau adalah pembabat desa yang sebelumnya berupa hutan. Sekian lama orang-orang tidak tahu nama asli dari Mbah Tuan Betawi, hingga suatu ketika Kiai Abdul Hamid dating kesana dan mengatakan bahwa nama aslinya adalah Sayyid Abdurrahman. “Oh, ini Sayyid Abdurrahman” kata Kiai Irsyad menirukan ucapan Kiai Hamid pada waktu itu.

Mbah Tuan Betawi kesini dengan membawa dua santrinya; Mudzakir dan Nur Jamal. Menurut cerita, Mudzakir memonopoli Nur Jamal untuk terjun ke Masjid dengan tidak memberinya waktu khutbah, imam, dan lain-lain. Mudzakir pun ditegur oleh Mbah Tuan Betawi untuk memberiNur Jamal waktu. Namun Mudzakir malah sakit hati dan pindah ke Desa Sromo Kulon. Ia wafat disana dengan cepat sesuai dengan janji gurunya, sesaat setelah ia mambangun Masjid didaerah tersebut.

Setelah ditinggal oleh temannya, Nur Jamal akhirnya membangun pondok. Namun sayang, pondok tersebut tidak bertahan lama setelah ia wafat disebabkan tidak ada generasi yang meneruskan kepengasuhan. Hingga sekarang, sisa-sisa dari pondok Kiai Nur Jamal masih ada. Ditutupi oleh semak belukar yang lebat, jika dilihat dari luar, sisa pondok tersebut akan menyerupai hutan.

Lokasi pondok tersebut tidaklah jauh dari bangunan Masjid, begitu pula makam Kiai Nur Jamal. Untuk makam Sayyid Abdurrahman atau biasa dikenal sebagai Mbah Tuan betawi, letaknya berada didepan Masjid, dan untuk pesarean Kiai Mudzakir, letaknya berada didaerah yang beliau pindahi. Semuanya masih ada sebagai saksi bisu dari sejarah.

Masjid Tertua di JawaTimur

Masjid ini juga merupakan Masjid tertua di JawaTimur.Hal itu sesuai dengan ikhtiar KH. Makhrus Ali dalam mencari Masjid tertua di Jawa Timur, untuk melaksanakan istighosah pertama NU dalam rangka istighosah keliling Jawa Timur. Saat masjid tersebut belum dipugar, dan saat sedang gencar-gencarnya persaingan politik antara partai PPP, Golkar, dan PDI, sekitar tahun 1977 M.

(Muhammad Ichsan)

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Eksotisme Masjid Tiban Pasuruan Sejarah peradaban yang mulai terlupakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *