Eksotisme Masjid Muhdlor Yaman

Thursday, May 23rd 2013. | Jalan-jalan, Ziarah

Masjid dengan Menara Tanah Liat Tertinggi di Dunia

Tarim adalah salah satu kota di Provinsi Hadlramaut yang kaya akan kekhazanahan, baik kekhazanahan berupa intelelektual, sejarah, peradaban maupun budaya. Bukti kekhasanahan peradaban dan budaya di kota tersebut adalah banyaknya bangunan-bangunan kuno yang menjadi identitas khusus Negeri para habaib, di antaranya adalah Masjid Muhdlor.

Menara dari Tanah Liat

Masjid dengan menara Tanah liat tertinggi di dunia

Masjid dengan menara Tanah liat tertinggi di dunia

Keunikan masjid ini adalah bahan bangunan dan menaranya terbuat dari tanah liat. Tidak Heran jika setiap hari selalu ada peziarah baik domestik maupun ajnabi (foreign) yang datang ke masjid ini. Tidak ada data valid yang menyebutkan tahun pendirian masjid ini, yang jelas masjid yang dibangun oleh syekh Umar Al Muhdlor bin Abdurrahman Assegaf ini tidak melampaui tahun 833 H/1430 M. Dan sejak awal pembangunan, masjid yang menaranya dijadikan sebagai simbol ‘aashimah tsaqofah islamiyah (pusat kebudayaan Islam) pada tahun 2010 M. telah mangalami renovasi berkali-kali seperti perluasan. Pada awal berdirinya, ukuran masjid ini hanyalah 63×93 kaki dan pada saat ini ukurannya menjadi 43×54 persegi.

Jika menziarahi masjid ini, Anda pasti akan terkagum-kagum pada desain dan ornamen-ornamen yang sangat artistik. Simbol ciri khas bangunan model Yaman begitu menonjol pada setiap detail arsitektur masjid ini. Dan yang paling mempesona dari masjid Muhdlor adalah menaranya. Menaranya murni terbuat dari labin, yaitu tanah liat yang dikeringkan tanpa dibakar dengan kerangka batang pohon kurma, tanpa menggunakan besi sedikitpun. Menaranya berbentuk persegi empat, berdiri tegak setinggi 34 meter, dengan lima tingkatan yang semakin ke atas semakin mengecil di setiap tingkatannya. Menara ini dihiasi oleh ornamen-ornamen yang memukau, bercatkan kapur putih bersih membuat menara ini tampak gagah nan indah sehingga menjadi pusat pemandangan angkasa Tarim. Hinga saat ini menara Muhdhor menjadi menara tertinggi di dunia yang terbuat dari tanah.

Ada cerita yang tersebar dari mulut ke mulut di kalangan penduduk Tarim akan menara masjid ini. Konon pada saat pembangunan menara, tukang batu yang di serahi tugas untuk membangun menara tersebut takut karna tidak lazim membuat bangunan dari tanah liat setinggi 40 meter. Kemudian Imam Muhdlor naik ke tiang seraya membawa manguk yang berisi air, lalu mangkuk dijatuhkan dari ketinggian, ajaib! Mangkuk tersebut jatuh sampai ke tanah tanpa menumpahkan isinya walau setetes pun. Lalu beliau berkata kepada tukang batu tersebut: “Ku jamin keselamatanmu seperti air yang ada di dalam mangkuk ini”. Setelah itu, barulah si tukang berani menjalankan tugasnya dengan mantap dan semangat. Meski sudah berusia ratusan tahun, keindahan menara masjid Muhdlor tidaklah luntur, bahkan semakin di makan usia semakin menampakkan keunikannya sebagai salah satu kekhasanahan peradaban umat Islam di kota kecil namun menjadi sumber ilmu para penuntut ilmu dari belahan dunia.

Di masjid ini banyak dilaksanakan agenda rutin yang sudah menjadi tradisi di kota Tarim, seperti maulid nabi yang diperingati pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dan juga khatmil qur’an di hari-hari tertentu bulan Ramadhan dan juga majlis ta’lim. Pada mulanya salat Jumat dulu dilaksanakan di masjid ini, sampai akhirnya dipindah ke masjid Jami’ yang memuat kapasitas orang lebih banyak.

Syekh Umar Al Muhdhor
Tidak lengkap rasanya kalau tidak sedikit bercerita tentang Syekh Umar Muhdhor yang nama masjid tadi dinisbatkan padanya.

Makam Syekh Umar Al Muhdhor

Makam Syekh Umar Al Muhdhor

Beliau adalah seorang toko ulama Tarim yg tak asing, ketika disebutkan namanya tiada lagi selain syekh Umar Muhdhor bin Abdurrahman Asseggaf bin Muhammad Mauladawilah dan seterusnya hingga akhir nasab yang terus bersambung dengan sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. Cucu Rasululllah SAW. Beliau dilahirkan di kota Tarim, hadhromaut. Umar kecil tumbuh di lingkungan yang menonjol sisi keilmuan dan keagamaannya. Sejak kecil sudah tampak kegigihannya dalam beribadah dan mencari ilmu. Sebagaimana banyak dari saadah Ali Ba’alawy yang lain ia memulai pendidikan masa kecilnya dengan menghapal Al-Quran, belajar dan menekuni berbagai macam disiplin ilmu, bahkan beliau sampai menghafal Minhaaj at-Thalibiin, salah satu kitab fiqih fenomenal yang dikarang oleh Imam Nawawi. Syekh Umar Muhdhor tidak cukup belajar di kota Tarim saja, -meski kota Tarim terkenal dengan kota ilmu dan adab- beliau melanjutkan nyantri di berbagai tempat yang lain seperti Haramain dan Syihr. Dedikasinya sangatlah tinggi terhadap kitab Minhaj Imam Nawawi, Ihya’ Imam Ghozali, dan tafsir as-Sulamy hingga seakan-akan setiap ibarat kitab-kitab tersebut hapal di luar kepala. Hal di atas menunjukkan kuatnya dasaran syariah yang dimilikinya sehingga menjadi timbangan di setiap tindakannya.

Disamping keilmuannya yang tinggi, beliau juga sering melakukan mujahadah, riyadhoh dan berusah untuk meninggalkan nafsu syahwat. Dalam hal makanan pun beliau meninggalkan makanan yang diinginkan oleh nafsunya, sampai-sampai beliau tidak makan kurma lebih dari 30 tahun, terkadang beliau mengambil kurma tapi hanya sebatas dibolak-balik dan akhirnya dikasihkan ke orang lain, ketika ditanya akan hal tersebut beliau menjawab: “Kurma adalah makanan yang paling disukai nafsuku, dan aku telah meninggalkannya karena Allah SWT”. Pernah juga beliau satu bulan tidak menelan sesuatu apapun selain air putih. Begitulah beliau berusaha dengan keras untuk memerangi nafsunya hingga terpancarlah cahaya keilmuan di dalam dirinya, lautan ilmu dan hikmah mengalir deras di setiap perkataanya membuat banyak orang berdatangan ingin meneguk telaga ilmu yang mampu menghilangkan dahaga. Di antara muridnya adalah Imam Abdullah bin Abu Bakar al-Idrus (Imam Idrus al-Akbar) dan saudaranya Syekh Ali bin Abu Bakar as-Sakran (pemilik Hizb Sakran).

Di samping perhatiannya yang tinggi terhadap urusan ilmu dan mujahadah, Syekh Umar Muhdhor juga memiliki solidaritas yang tinggi terhadap masyarakat setempat. Ketika ia menjabat sebagai pemimpin kabilah pada saat itu ia mengeluarkan statement yang menjaga kemaslahatan warga Tarim, di antaranya beliau mengajak masyarakat untuk menikahkan perempuan dari keluarga yang kaya dengan pemuda dari keluarga miskin, begitu pula sebaliknya, sehingga terjalin keharmonisan dalam hubungan bermasyarakat. Dan dalam urusan mas kawin beliau menetapkan ukurannya sebanyak 5 uqiyyah saja (sekitar 595 gram) dengan harapan mendapatkan keberkahan di dalam pernikahan, karena mengamalkan hadits nabi أبرك النساء أيسرهن مهورا. Hingga saat ini masih banyak yang mengikuti statement tersebut.

Suasana Shalat berjama'ah

Suasana Shalat berjama’ah

Ketika seorang hamba telah menunaikan seluruh kewajiban dan meninggalkan larangan otomatis dia telah melakukan langkah untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta, bilamana ia menambah ketakwaan dan ibadahnya Allah berikan kepadanya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, yaitu karamah sebagai seorang wali. Bagai matahari di siang bolong, karamahnya Syekh Umar Muhdhor tampak jelas di hadapan masyarakat setempat. Satu ketika beliau bertanya pada seorang tamu: “Makanan apakah yang kamu inginkan sekarang?” Ia menjawab: “Ruthab” (Ruthab: kurma matang yang hanya ada di musim kemarau) sedangkan pada saat itu musim dingin, akhirnya Syekh Umar keluar dan menemui seseorang yang memberikan sejumlah ruthab dan bilang kepadanya: “Ini makan siang tamu Anda”. Ketika Syekh Umar memberikan ruthab tersebut kepada orang yang bertamu seketika itu ia tercengang kaget dan tak mampu mengatakan apapun. Dan beliau mampu berdzikir dengan menyebut nama Allah Yaa Lathiif sebanyak 1000 kali dalam satu nafas.

Tak henti-henti derajatnya bertambah tinggi disisi Allah SWT seiring bertambah usia beliau hingga akhirnya ia harus meninggalkan alam yang sempit ini. Beliau berpulang ke rahmatullah pada hari Senin, tanggal 2 Dzulqa’dah tahun 833 H. dalam keadaan sujud ketika salat Dzuhur. Hal tersebut dikisahkan selesai beliau mendengar adzan Dhuhur beliau langsung bergegas mengambil air wudhu dan mungumandangkan adzan disertai iqamah untuk dirinya sendiri setelah itu beliau bertakbir untuk menunaikan salat Dzuhur. Ketika sujud telah didapati ruhnya sudah keluar dari jasadnya. Dan masih tetap dalam keadaan sujud hingga dimandikan. Diantara kalamnya adalah: “Saya tidak makan sesuatu apapun sampai saya menelannya kecuali saya mengira bahwasannya saya tidak mampu menelannya” (yakni ia selalu mengingat mati). Dan sering kali beliau mengatakan dalam majelisnya: “Andaikan saya mengetahui bahwa sujud saya diterima oleh Allah SWT., saya akan menjamu penduduk kota Tarim dengan gandum dan daging beserta hewan ternaknya”. Nafa’anallahu bih wa bi ‘uluumih

[Agus Muhammad Zahid Hasbullah & Musta’in Romli]
Kontributor Majalah Langitan yang sedang
menempuh pendidikan di Universitas al-Ahgaff Mukalla,
Hadramaut, Yaman

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Eksotisme Masjid Muhdlor Yaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *