Dzauq

Wednesday, April 19th 2017. | Refleksi

 

Setelah umat muslim mengalami kemenangan yang agung pada perang badar dan kemenangan kafir quraisy pada perang Uhud. Maka di perang ketiga, umat Islam dan kafir qurasy sama-sama dag dig dug. Akankah mereka yang menang pada perang ketiga atau sebaliknya. Ataukah musuh mereka yang menang atau sebaliknya.

Saat itu, perkumpulan kafir quraisy –plus kaum yahudi- berniat meleyapkan Nabi Muhammaad –berserta ajarannya- dari muka bumi dengan menyerang Madinah. Kabar telah diterima kaum muslimin dan lewat ide cemerlang Salman al-Farisi lah umat islam membuat parit. Untuk mengenang perang ini, para sejarahwan mengatakan sebagai perang parit (khandaq). Dalam pembuatan parit, Rasulullah membuat garis di tanah yang harus digali.

Tapi sayang, di salah satu titik garis itu terdapat batu besar yang sulit dihancurkan. Hingga kemudian sebagian sahabat mengusulkan untuk mengalihkan parit di sebelah batu. Namun sebagaian sahabat lain -terutama yang ahli dzauq– menolak. Para ahli dzauq bersikeras menggali tanah yang sudah digaris oleh Rasulullah.

Setelah tidak terjadi titik temu, maka di-hatur-kanlah permasalahan batu besar -bersamaan dengan perselisihan para sahabat- tersebut kepada Rasulullah. Dengan penuh kearifan, Rasulullah menghormati pendapat ahli dzauq hingga beliau turun langsung menghancurkan batu besar yang tidak mampu dihancurkan para sahabat.

Saat menghancurkan batu tersebut, kemudian terdapatlah mu’jizat Rasulullah. Dalam beberapa pukulan batu, terjadi percikkan api yang ditangkap Rasulullah sebagai reka masa depan daerah-daerah yang akan di buka oleh ummat muslim. Jadi sebab keteguhan dzauq sahabat kemudian muncul mu’jizat.

Begitu pula tradisi dzauq ini telah diwariskan dari sahabat, salafus shaleh hingga saat ini. Berapa banyak pelajar yang patuh kepada gurunya dengan dzauq maka gurunya akan turun dalam permasalahan murid.

Dan Habib Munzir adalah bagian dari ahli dzauq. Ia menetapi apa yang dianjurkan gurunya dengan penuh rasa (dzauq). Sehingga guru-gurunya berdatangan, ‘turun langsung’ dalam gerakannya. Seperti Rasulullah yang kemudian mengeluarkan mu’jizat, maka karomah guru-gurunya muncul mengelilinya.

Semoga kita semua bisa menjaga dzauq atas sunnah Rasulillah dan kepatuhan kepada para guru. Amin.

 

Wallahu a’lam bis shawwab.

Muhammad Hasyim

 

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , ,

Related For Dzauq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *