Dua Manusia yang Berbeda

Monday, April 30th 2018. | Cerpen

Ini adalah secuplik cerita tentang apa yang telah kusaksikan di tanah rantau. Baiklah, akan kuceritakan gambaran kehidupan yang saling berlawanan antara dua manusia di dua tempat yang berbeda. Aku bisa merekam segala kisah yang tidak mereka ketahui satu sama lain. Aku dapat terbang ke sana dan kemari sesukaku. Aku hinggap di suatu tempat lalu beranjak ke tempat lain semauku. Tentu saja, di tempat-tempat persinggahan selalu ada kisah menarik.

Aku bukanlah manusia yang memiliki kesempurnaan dan banyak kelebihan dibanding makhluk lain. Aku hanya seekor burung, yang tak mempunyai akal seperti mereka. Meskipun demikian, aku akan mengisahkan kehidupan manusia, bukan kehidupanku sendiri.

Mataku menatap tajam sejumlah orang saat aku bertengger di suatu tempat, di sebuah pohon di samping bangunan sekolah. Aku melihat beberapa dari mereka yang bercanda, tertawa, dan usil satu sama lain saat gurunya menerangkan. Satu anak berdiri di depan. Kena hukuman guru. Tapi tak ada gurat rasa bersalah pada wajahnya.

Aku mengetahui bahwa sehari sebelumnya anak itu juga berperilaku serupa. Saat berjalan di depan guru, tak ada sopan santun sama sekali. Pernah suatu ketika anak itu bersama teman-teman lainnya berdiri di atas meja guru tanpa rasa hormat. Layaknya menari di atas panggung. Saat itu memang sedang tidak ada pelajaran, sehingga mereka mengungkapkan rasa benci terhadap gurunya dengan prilaku yang tak kenal etika. Dan anak itulah yang sekarang menerima hukuman (berdiri di depan kelas) sebab ulahnya yang akhirnya ketahuan.

Kau mungkin berpikir bahwa aku menilai semua manusia berperilaku demikan. Bukan. Aku hanya menangkap apa yang bisa kusaksikan. Tanpa ada anggapan apapun tentang itu. Aku hanya terbang untuk mencari makan dan menyaksikan kejadian yang terjadi di sekitar. Tak lebih. Oh ya, akan kuceritakan pula manusia lain yang pernah kujumpai di tempat lain, saat berhenti di sebuah pohon yang rindang. Aku memang suka berpindah tempat, meski keesokan harinya, aku kembali ke tempat yang sama. Tentu saja, aku punya insting mencari tempat mana yang menyediakan banyak makanan.

Seperti biasanya, aku mematukkan paruhku ke seekor mangsa. Lalu diam-diam aku menangkap kesan yang unik. Mataku memandang ke tempat yang tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Sekolah. Hanya saja anak-anak yang kulihat ternyata memakai sarung. Tak bersepatu. Meskipun demikian, penampilan mereka sangat rapi. Saat gurunya masuk kelas, para murid berdiri sebagai tanda penghormatan. Prosens belajar-mengajar pun berlangsung khidmat. Saat gurunya hendak keluar kelas, seorang anak berdiri menghampirinya lalu membawakan tas dan kitab-kitabnya.

Aku memperhatikan salah satu anak, yang sebelumnya menampakkan sikap yang sama di sekolah. Saat di lain hari aku bertengger di sebuah pohon di samping mushalla, masih satu kawasan dengan sekolah yang tadi. Di sana,  banyak pemuda tengah duduk bersila. Memakai sarung dan peci. Tak lama kemudian, seorang laki-laki tua keluar membawa kitab dari sebuah rumah. Anak tersebut beranjak menghampiri lelaki tua itu. Oh, iya, orang tersebut dipanggil kiai. Anak itu lalu meminta izin membawakan kitab sang kiai. Sesampai di mushalla, ia menatakan sandal kiai.

Berbeda sekali bukan dengan apa yang kusaksikan di tempat sebelumnya? Aku menyaksikan segala peristiwa yang terjadi di tempat-tempat yang kusinggahi, yang tak diketahui secara langsung oleh manusia satu sama lain. Aku hanya melihat dan tak memberi penilaian terhadap hal-hal yang kulihat. Mungkin kau akan bertanya, kenapa aku menceritakan kedua anak itu? Kenapa bukan yang lain? Baiklah, aku tidak akan mengatakan alasan karena mereka berlawanan arah. Tidak.

Kau tahu? Setahun silam, mereka berdua hidup satu atap. Satu rumah. Yap, mereka adalah kakak-adik. Dan aku dulu adalah hewan peliharaan si adik. Orang tua mereka melarang memeliharaku karena waktu itu banyak isu tentang virus dari bangsaku. Dan oleh sang kakak, sebelum ia berangkat merantau ke lingkungan orang-orang yang bersarung, diam-diam ia melepaskanku.

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Dua Manusia yang Berbeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *