Disiplin Pada Peraturan dan Tegas dalam Berprinsip -Jejak Utama kedua

Friday, April 27th 2018. | Jejak Utama, Pemikiran

 

Ditemui Penulis di rumahnya di komplek Pesantren Asrama Perguruan Islam (API), Tegalrejo, Magelang, Gus Ahmad Izzuddin yang akrab disapa Gus Din ini, bercerita tentang pengalamannya meneladani kepribadian Mbah Dur, ayah sekaligus kiainya. Penulis sebut demikian karena sebagaimana tulisan sebelumya, keluarga ndalem Pesantren API sendiri harus tabarrukan dengan menjadi santri. Tak heran jika pikiran, perasaan dan tingkah laku keluarga besar Pesantren API tidak jauh berbeda dengan pendiri pertamanya, yang tak lain adalah KH. Chudlori

Gus Din banyak berkisah tentang cara pandang Mbah Dur selama mengemban amanah menjadi pengasuh Pesantren API, “Di mata keluarga, beliau adalah seorang kiai yang betul-betul memperhatikan santrinya. Hampir semua waktunya didedikasikan untuk mengajar santri di mushalla. Sehingga kita akan sulit bertemu beliau dalam keadaan lenggang. Bahkan di sela-sela mengajar beliau menyempatkan menghadiri undangan ceramah di luar, satu hari bisa sampai dua sampai tiga kali. Setelahnya beliau balik mengajar lagi. Sehingga itu menjadi catatan penting bagi keluarga agar banyak memperhatikan dan mendidik santri untuk keberlangsungan pesantren.” kata Gus Din.

 

Warisan dari Si Mbah

Sudah sejak masa kepemimpinan KH. Chudlori, Pesantren API tidak menerima bantuan dari pemerintah. Berkali-kali tawaran bantuan datang namun dengan santun  dan tawadhu keluarga pesantren menolaknya. Keadaan itu berlangsung sampai sekarang. Pengembangan, pembangunan dan bentuk kemajuan lainnya kebanyakan berasal dari simpati alumni dan masyarakat sekitar sebagai satu kesatuan komponen Pesantren API.

Kepribadian di atas tentulah bukan serta merta datang begitu saja. Semua itu hasil dari pola pendidikan pesantren yang dikembangkan sejak zaman Kiai Chudlori. Kedisiplinan serta keikhlasan kiai pada santrinya dalam mengajar, dengan jam tayang 8 jam perhari, setiap santri dari semua tingkatan bisa bertemu dengan kiai pada pelajaran khusus setiap hari di kelasnya masing-masing. Kiai Chudlori memberikan peran yang signifikan pada kesadaran serta taalluq bathiniyah santri, sehingga dengan ikhlas mereka mendermakan harta dan tenaga untuk pesantren. Demikian pula masyarakat sekitar.

 

Pelajaran tentang Kesederhanaan

Kesederhanaan adalah salah satu cara untuk menciptakan ruang berfikir lebih dalam atas makna kehidupan. Dengannya seseorang akan mampu melihat keindahan di setiap hal yang tidak mewah. Juga ia akan bijaksana menyikapi hartanya. Sekaya apapun dia. Lebih dalam, seseorang akan mampu mensyukuri sekecil apapun nikmat-Nya, karena ia akan merasa cukup ketika kebutuhannya terpenuhi. Bukan gaya hidup yang ingin ia penuhi.

Setidaknya, itulah yang diinginkan Mbah Dur kepada putra-putrinya. Perhatian yang beliau berikan kepada putra-putrinya, tidak memandang status sosial mereka. Sebagaimana penuturan Gus Din kepada kami tentang kedisiplinan ayahnya dalam bentuk ketegasan, “Tentunya di balik kesibukan beliau yang begitu padat, beliau masih memperhatikan keluarga. Terhadap putra-putrinya beliau juga sangat disiplin. Misalnya, ketika kami belum berangkat ngaji, padahal ngaji sudah mulai, maka selalu diingatkan. Beliau sangat disiplin sekali dalam kaitan ta’lim wa at-ta’allum. ketika kami tidak ikut ngaji, tidak kelihatan di mushalla, maka dari mushalla dipanggil lewat kang-kang, kalo bawa HP lagsung dipanggil. Walaupun nantinya hanya di dukani ‘Keno opo ra ngaji, (kenapa tidak mengaji)’ tapi kami sudah tidak bisa jawab dan berkutik apa-apa lagi. Kedisiplinan itu yang berkesan bagi keluarga, sekarang kami baru bisa merasakan.” Ujar Gus Din.

“Jika di pesantren belum waktunya libur tapi kami pulang, maka tidak diajak bicara sama beliau. Mulai awal di pesantren tidak boleh beli makan. Jadi harus masak. Tidak boleh di kost juga. Hal-hal semacam itu yang menjadi penting bagi kami tentang arti berproses. Hal lain seperti kiriman di pesantren, kita nggak dibebaskan dalam masalah uang, jadi disamakan dengan wajarnya santri-santri lain. Jika minta tambah walaupun sepuluh ribu akan ditanyakan untuk apa, dan lain sebagainya.” Tambah Gus Din.

 

Niatkan untuk Ibadah

Salah satu kepribadian luhur Mbah Dur sebagaimana yang disampaikan Gus Izzuddin waktu itu adalah menjadikan semua aktifitasnya menjadi estafet ibadah. Gus Izzuddin menggambarkan, “Semua kegiatan pesantren, baik itu dalam hal ngopeni santri, membuat sekolah, orientasinya juga untuk ibadah. Keinginan beliau bagaimana anak-anak (bukan santri beliau/red) bisa membaca Alquran dengan baik, bisa mengetahui akhlak yang baik dan bisa memahami kultur pesantren. Bahkan di politik latar belakangnya adalah untuk ibadah. Sehingga di dalamnya juga beliau dawuh, kita ini berjuang lewat jalan politik dan di situ kita nderekno para kiai sepuh, karena itu menjadi hal yang penting. Dan semua itu sangat terlihat ketika beliau aktif di politik dan di pesantren. Sehingga beliau menyiapkan lembaga formal dan sebagainya. Beliau sangat tidak senang kalau kegiatan seperti itu berdasarkan profit. Kita berfikir untuk esok, Allah yang buatkan jalan.”

(Wildan & Naim)

 

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Disiplin Pada Peraturan dan Tegas dalam Berprinsip -Jejak Utama kedua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *