Disiplin Menjadi Teladan Bagi Keluarga, Santri dan Umat

Tuesday, June 24th 2014. | Tokoh
Kyai Zainal Krapyak Jogja_1

Kyai Zainal Krapyak Jogja_1

*Wawancara dengan Ibu Nyai Hj. Ida Fatimah

(Istri Almaghfurlah KH. Zainal Abidin Munawwir)

 

Begitu tiba di komplek Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, kami selaku Tim Reportase Majalah Langitan langsung diantar oleh pengurus untuk sowan menuju kediaman almaghfurlah KH. Zainal Abidin Munawwir.

Setelah menunggu Ibu Nyai Hj. Ida Fatimah beberapa saat karena sedang berjamaah Dzuhur, kamipun bisa bertemu langsung kepada istri KH. Zainal Abidin Munawwir. Berikut hasil reportase yang telah kami rangkum.

 

Sosok yang Tidak Neko­-neko

Pertanyaan pertama kami, tentang sosok KH. Zainal Abidin Munawwir di mata sang istri, dijawab dengan kalimat: ‘Tidak neko-neko’. Menurut Ibu Nyai Ida, Mbah Zainal (KH. Zainal Abidin Munawwir) sangat sederhana, beliau tidak suka makanan dari binatang bernyawa semisal ikan, daging ayam, sapi, kambing. Biar diolah dengan tampilan apapun, beliau selalu dapat menciumnya.

“Saya ini banyak dosa sama Bapak, karena sering berbohong masalah makanan. Saya sering kebingungan, setiap hari harus berusaha menyajikan tahu, tempe. Yang itu-itu saja dalam berbagai menu, tentu saja sebagai istri, saya ingin agar beliau tidak bosan”, tutur Ibu Nyai.

Ibu Nyai merasa antara kalori yang masuk dan energi yang dikeluarkan Mbah Zainal itu tidak seimbang, apa lagi menjelang usia Mbah Zainal yang kondisi fisiknya tak lagi sebugar dulu.

 

Sederhana dalam Berpakaian

Kata ‘Sederhana’ memang sangat melekat pada sosok KH. Zainal Abidin Munawwir. Termasuk juga dalam masalah pakaian, penampilan. Mbah Zainal tidak pernah berpenampilan glamour nan mahal. Cukuplah bagi beliau pakaian yang suci, bersih dan tampak pantas. Sebagaimana penuturan Ibu Nyai Ida. Ketika mendapat pakaian baru, baik hadiah ataupun dibelikan oleh Ibu Nyai, pasti Mbah Zainal meminta sang istri untuk menyedekahkan salah satu baju yang telah beliau miliki. Dan menjadi kebiasaan, setiap pakaian apa saja yang baru pasti beliau menghendaki untuk dicuci lebih dulu sebelum dipakai.

 

Ayah yang Bertanggung Jawab

Mbah Zainal sama dengan sosok orang tua pada umumnya, sangat menyayangi anak-anaknya. Mbah Zainal sangat menerima semua apa adanya. Beliau sama sekali tidak pernah preasure kepada keluarganya. Ibu Nyai menceritakan, saat beliauingin melanjutkan kuliah ternyata Mbah Zainal mengizininya. Padahal banyak keluarga yang menasehati agar Ibu Nyai tidak aneh-aneh ingin kuliah, karena dia adalah istri seorang Kiai. Namun Mbah Zainal memiliki kebijakan lain, Ibu Nyai Ida diizinkan kuliah asal harus sungguh-sungguh.

Pernah sekali Ibu Nyai ketika jam kuliah dan masih di rumah, Mbah Zainal menegur beliau dengan sindiran halus senada bertanya ‘Kuliahmu wes prei to, Da?’, Kuliahmu sudah berhenti to, Da?. Padahal waktu itu Ibu Nyai masuk kuliah siang.

Selain itu, Mbah Zainal juga sangat sering membantu tugas-tugas kuliah Ibu Nyai Ida yang kebetulan berkaitan dengan agama, Ibu Nyai mengistilahkan ‘Saya itu kalau mau ada diskusi di kampus selalu sorogan dulu sama Bapak’.

 

Disiplin dan Tegas, Terutama Pendidikan

Mbah Zainal juga sangat disiplin, tegas, memiliki semangat juang tinggi apalagi jika menyangkut pendidikan, akidah, dan agama.Beliau selalu istiqamah dalam melakukan sesuatu, tidak pandang tempat, kondisi, waktu.Mbah Zainal akan selalu mengajar, dengan porsi yang sama, semangat yang sama, walaupun santri yang diajarnya itu cuma satu.

Beliau tidak segan-segan menindak santri yang tidak ikut mengaji, bahkan jika itu adalah putranya sendiri. Pun bagi para guru, meskipun mereka adalah saudara-saudara beliau, jika sudah tidak bisa konsen mengajar di Al-Munawwir, karena kesibukan atau mengajar di tempat lain, maka beliau mempersilahkan untuk tidak mengajar di Al-Munawwir.

Ada cerita dari Ibu Nyai Ida, entah pada tahun berapa, ada seorang alumni yang melaporkan bahwa di salah satu kabupaten di Yogja, ada seseorang mengaku sebagai anak Tuhan. Seketika itu, beliau memanggil orang tersebut. Akhirnya orang itu datang ke ndalem dengan para bodyguard. Ibu Nyai sangat takut dan khawatir waktu itu, tapi malah Mbah Zainal dengan enteng menjawab bahwa beliau malah senang andai kata sampai terjadi apa-apa, berarti Mbah Zainal mati karena membela agama Allah. Ibu Nyai pun karena khawatir, beliau menyiapkan mata-mata dari para santri, mengawasi kalau saja ada apa-apa. Namun setelah dijamu dan diajak beramah tamah, orang itu justru menangis tersedu dan disyahadatkan oleh Mbah Zainal, dan semua baik-baik saja.

 

Pribadi yang Terampil

Mungkin alasan inilah yang mendasari beliau memberikan tambahan pelajaran keterampilan di pesantren Al-Munawwir kepada para santri. Mbah Zainal sangatlah kreatif, bertangan dingin. Saat pertama kali menikah dengan Ibu Nyai Ida, beliau bahkan membuatkan kompor sendiri. Saat sudah memiliki putra, dan putra-putranya belum memiliki almari, maka dengan terampilnya Mbah Zainal membuatkan almari.

Menurut Mbah Zainal, santri juga manusia biasa, yang tidak mungkin selamanya menjadi santri, suatu saat dia akan memiliki keluarga, terjun di masyarakat, dan santri harus memiliki bekal keterampilan sendiri. Sebab jika tidak, maka santri akan menggantungkan hidupnya pada orang lain.

 

Hobi Menulis

Pernah suatu kali Mbah Zainal menulis surat keputusan kepada KPU pusat yang isinya adalah tentang tinta yang dicelupkan sebagai bukti sudah memilih, jika warna tinta itu terlalu sangat di jari, maka hal itu akan mempengaruhi status kemusta’malan air yang digunakan berwudhu yang berpengaruh terhadap keabsahan salat. Setelah ditandatangani para ulama se-DI Yogyakarta, surat itu dikirim. Namun tak ada respon dari KPU pusat, justru KPU DIY yang meresponnya, dan keluarlah kebijakan bagi masyarakat boleh tidak mencelupkan tangannya ke tinta, melainkan hanya meninggalkan KTP.

Mbah Zainal memang gemar menulis. Untuk setiap langkah kegiatan yang akan beliau lakukan, sebelumnya beliau akan menulisnya. Mengumpulkan data-data yang bersumber al-Qur’an, hadist dan kitab salaf. Baik khutbah, ceramah, mengajar atau bahkan saat akan menyambut tamu.

Sudah menjadi kebiasaan Mbah Zainal, beliau tidak memberi makna secara langsung dalam kitabnya, melainkan menyalinnya terlebih dulu. Hal itu karena menghargai sang pengarang, agar kitab itu tidak ruwet dan bisa dimanfaatkan oleh generasinya.

 

Penyabar dan Romantis

Mbah Zainal tidak pernah menegur secara langsung keluarganya, apa lagi sampai memvonis. Beliau lebih memakai cara diam dan akan memberi nasihat yang secara tidak langsung disadari sendiri oleh keluarganya.

Saat Ibu Nyai mengadu, beliau pun tidak serta merta membela istrinya, beliau memilih meredam amarah sang istri yang meluap-luap karena sedang mengalami suatu masalah. Setelah berangsur kondusif, beliau barulah mengambil keputusan dengan cara menyuruh Ibu Nyai mengambilkan sebuah kitab, kemudian beliau meminta Ibu Nyai untuk membaca salah satu baris dalam kitab tersebut, yang ternyata setelah dibaca isinya adalah membahas permasalahan Ibu Nyai tadi, yang kemudian menyadarkan Ibu Nyai, tanpa harus Mbah Zainal mengadili.

Mbah Zainal juga selalu memberikan teladan bagi keluarganya dimulai dari kisah-kisah para Nabi bersama keluarganya. Setiap yang dijadikan contoh dalam memberikan suri teladan bagi keluarga bukanlah orang lain atau tokoh-tokoh terkenal di Barat, beliau mengenalkan keluarganya dengan kisah sahabat, para Nabi dan semua teladan kehidupannya.

Bagi Ibu Nyai, Mbah Zainal juga sosok yang romantis, yang sesekali bercanda untuk menghidupkan keharmonisan keluarga. Pernah waktu itu, karena selain menjadi istri, Ibu Nyai juga menjadi santri Mbah Zainal, beliau yang ikut mengaji di Ma’had Aly bertanya-tanya ketika di kelas, di antara tempat duduk para santri putri ada karbet tebal yang seperti biasa digunakan Mbah Zainal ketika mengajar. Hal itu membuat Ibu Nyai bertanya pada Mbah Zainal, iyakah itu tempat duduk Sang Suami? Tapi ternyata, Mbah Zainal menjawab ‘Itu adalah menyediakan permaisuriku’, Ibu Nyai merasa sangat tersanjung terhadap perlakuan Mbah Zainal kepada Sang Istri.

Banyak sekali teladan yang bisa dipetik dari sosok KH. Zainal Abidin Munawwir. Mungkin ini hanya sebatas apa yang diketahui oleh Sang Istri, Ibu Nyai Hj. Ida Fatimah. Namun besar harapan kita bisa meneladani dan mendapat berkah dari Mbah Zainal. Amiin.

[Adi Ahlu Dzikri/Syarif Hidayat]

Comments

comments

tags:

Related For Disiplin Menjadi Teladan Bagi Keluarga, Santri dan Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *