DAKWAH ITU EFEKTIF, EFESIEN DAN BERMENTAL PEJUANG

Friday, April 13th 2018. | Uncategorized

Nama                      : RKH. Moh. Thohir Zain bin Abd. Hamid

Ttl                            : Pamekasan, 04 Desember 1971 M / 07 Shofar 1402 H

Alamat                    : Panaan, Palengaan, Pamekasan, Madura

Aktifitas Khidmah : Pengasuh PP. Mambaul Ulum Bata-Bata

 

 

 

Terlahir dari keluarga agamis, menjadikan Ra Thohir –sapaan akrabnya- terdidik sebagai anak yang sudah terbiasa dengan lingkungan pengkaji kitab kuning. Karena kedua orang tua telah memiliki madrasah dan pondok pesantren sendiri, Ra Thohir kecil menamatkan masa MI dan MTs di sekolah orang tuanya tersebut. “Dan karena sekolah di pondok sendiri ya, tentu saja saya sembarangan sekolahnya.” Ujar Ra Thohir. Namun demikian itu bukan lantas menjadi dasar bahwa semasa kecilnya, beliau selalu membangkang. “Saya pernah jadi bintang pelajar, kemudian tidak, kemudian jadi bintang lagi.” tambahnya.

Setelah lulus Tsanawiyah, ada keinginan Ra Thohir memperdalam pengetahuannya dengan melanjutkan sekolah umum, beliau tergugah hatinya mau melanjutkan ke pondok karena termotivasi ucapan kakaknya, “Mau pinter komputer atau apapun, Kamu putra Kiai. Putra Kiai harus bisa baca kitab. Begitu kata kakakku. Ya kemudian saya mondok. Dan saya masuk Langitan tanggal 3 Juli 2000 pas setelah Prancis mengalahkan Itali 2-1.” guyonan beliau.

Hasilkan Pelaut Handal

Berbagai kegiatan yang sengaja menjadi program khusus di Langitan, membawa kesan menarik untuk Ra Thohir pribadi. Dimana beliau mengumpulkan semua kekagumannya dengan ungkapan, “Kesimpulan saya di Langitan cuma satu, lautan yang tenang tidak akan pernah menghasilkan pelaut yang handal. Dan saya santri yang luar biasa, menurut saya. Tiap hari saya ngaji di depan beliau, kitab Iqna’, tiap hari saya tidur. Iya. Di depan beliau, ngiler juga. Tapi tidak sekalipun saya ditegur beliau, itu berkesan betul bagi saya. Tahu saya ngantuk kalau pagi tapi masih saja ngaji.” Tutur Ra Thohir sekaligus memecah suasana malam itu.

Kebetulan, beliau termasuk santri yang paling sering mendapat perundungan (bully) di pondok. “Diantara 5000 santri paling cuma 10 yang nggak bully saya. Minimal ada estimasi lah.” Guyonan akrab khas beliau.

“Saya kan tidak makan nasi di situ. Saya makan mie, itupun pakai air mentah. Saya mandi pakai air komboan. Dan itu sudah rutinitas saya. Tentu, karena ada sesuatu. Tapi semua itu yang buat saya kuat. Sekarang ketika ada masyarakat yang ada masalah atau apa. Fikir saya, ‘Ah lebih berat di pondok’. Itu berkesan, tanda kutip penderitaan yang membuahkan hasil.” Tambahnya.

Alfiyah itu Teman

Saya punya hutang kepada dua orang di Langitan. Yang pertama KH. Abdullah Faqih. Jelas itu. Yang kedua Ust. Abdul Mughni, Gresik. Beliau orang yang luar biasa mengubah saya. Saya dulu mental-mental tempe. Beliau yang mengubah saya jadi mental petarung. Sampai sekarang pun masih tidak minta apa-apa sama saya. Beliau bikin saya seperti ini tapi tidak minta apa-apa.”

“Ada dawuh Ust. Abdul Mughni yang mengawali perjalanan beliau memahami Alfiyah, dan dikemudian hari menerapkannya dengan gaya yang berbeda. ‘Kalau Cuma hafal Alfiyah dari depan ke belakang banyak yang sudah bisa. Tapi kalau dari belakang, jarang.’ Kemudian setelahnya alhamdulillah, waktu itu awal-akhir, akhir-awal, dan bahkan sekarang dari Alfiyah itu saya kembangkan ilmunya Pak Mughni. Bukan hanya hafal bukan hanya faham, tapi mana saja yang perlu dikritisi, mana yang perlu dipertanyakan, mana yang perlu dikuatkan, semacam mengetahui nahwu dengan gaya yang berbeda.”

“Dan berkahnya Langitan, alhamdulillah banyak wujudnya, saya di Pondok Bata-Bata bikin namanya Prakum metode baca kitab. Dari nol tidak bisa apa-apa. Yang penting bisa baca Quran, satu hari cuma dua jam, tiga bulan bisa baca kitab Fathul Muin. Kalau memahami kitab tiga bulan, namanya Arkum. Jadi setengah tahun sudah bisa baca dan faham.”

“Ilmu Falak dari nol itu dua bulan sudah bisa buat kalender sendiri, rukyah juga dan lainnya. Balaghah seminggu selesai. Ushul Fikih, mantiq dua bulan. Tafsir Hadis tiga bulan. Masih ada amtsilati versi kita, itu lebih lama enam bulan sampai satu tahun. Ada pelajaran bahasa. Semuanya ada tujuh bahasa; Arab, Inggris, Mandarin, Jepang, Spanyol, Jerman, Perancis. Semuanya jalan. Malah sudah lima tahun punya kelas bilingual, dimana ustad dan murid tidak boleh berbuicara selain bahasa arab dan inggris. Itu semua dari Alfiyah dan berkahnya Langitan.”

“Kenapa demikian? Semua itu substansi. Sebagaimana peribahasa, Barang siapa pakar dalam satu fan ilmu, maka akan pakar dalam semua cabang ilmu.”

Harapan Indah

Seperti biasa, sebelum berahir kami meminta pesan-pesan. Dengan kerendahan hati beliau mengutarakan tentang bukan kapasitasnya untuk memberi pesan. Namun harapan indah beliau tentang, “Semoga Pondok Bata-Bata ini besok bisa membuat beliau-beliau -Masyayaikh Langitan- tersenyum.” Namun beliau mengutarakan empat pesan ayahnya ketika mengantarkannya mondok dulu. Pesan itu adalah, “Satu, Mondok jangan terlalu lama. Dalam arti cepat alim biar cepat pulang. Dua, Jangan pernah mencuri. Kalau tidak ada uang hutang saja. Dan Alhamdulillah saya pernah hutang banyak di Langitan.” Tambah beliau dengan senyuman.

“Ketiga, Jangan mementingkan berteman dengan banyak orang. Pentingkan belajar. Empat, jangan melanggaran ke Pak Kiai, apalagi kalau pelanggarannya berat. Kalau melanggar pasti semua orang pernah, namun jangan terlalu banyak.”

 

­(Wildan & Zainal A.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

Related For DAKWAH ITU EFEKTIF, EFESIEN DAN BERMENTAL PEJUANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *