Cinta dan Pengabdian Habib Munzir al-Musawa

Tuesday, March 25th 2014. | Jejak Utama, Tokoh

​Pada bulan Desember 2012, Habib Umar bin Hafidz  mengajak saya untuk turut dengannya ke Indonesia. Saya berfikir ia ingin agar saya menghabiskan waktu bersamanya seraya melihat lebih banyak lagi tentang kondisi umat. Itulah kali pertama saya bertemu Habib Munzir.

Syaikh Khalil

Syaikh Khalil

​Setelah  Habib Umar kembali ke Yaman, saya masih punya sisa waktu tiga hari tinggal di Jakarta. Saya sangat bersemangat ketika berbicara dengan Habib Munzir di kantornya. Beliau terlihat begitu bahagia dan ingin saya tinggal selama 6 bulan di Majelis Rasulullah. Bahkan beliau menelpon Habib Umar di Tarim untuk memintakan izin.

Saat Habib Umar terdengar menjawab telpon, Habib Munzir langsung menggeser kursinya, jatuh berlutut dengan kedua tangannya terangkat ke atas dan berkata, “Ya Maulana, bagaimana saya dapat melayani tuan…”

Saya begitu terkesima melihat adegan itu. Betapa takzimnya Habib Munzir terhadap gurunya. Beliau menyebut Habib Umar sebagai ‘Maulana’ yaitu tuan atau yang mulia.

Dia menelpon untuk meminta izin namun yang pertama dia ucapkan adalah bagaimana ia dapat melayani Habib Umar. Saya tidak akan pernah lupa momen itu selama hidup saya. Saya tidak pernah melihat cinta dan bakti seorang murid yang begitu dalam. Itulah Habib Munzir. Seorang yang memiliki cinta dan pengabdian yang murni.

​Mengucapkan selamat tinggal adalah hal yang sangat sulit bagi saya. Saya ingat bagaimana beliau selalu berusaha mencium tangan saya saat saya mencium tangannya kapanpun kami bertemu. Saya ingat pelukannya. Saya ingat kapanpun saya berbicara, beliau selalu memandang saya dengan kebahagiaan, pandangan seorang ayah yang bangga akan puteranya. Saya memperhatikan bagaimana perilakunya terhadap orang lain. Sangat lembut, sangat penuh perhatian. Pelukan terakhir itu lebih lama dan kuat.

Saya ingat bahwa mata kami berdua berkaca-kaca, saya ingat tidak ingin melepaskan pelukan beliau. Saya memandang Habib Munzir dengan penuh cinta dan kekaguman. Meski beliau hanya 8 tahun lebih tua dari saya, saya melihatnya sebagai figur seorang ayah. Begitulah pembawaan diri beliau, jauh lebih tua, dengan segala kebijakan dan kecerdasannya.

​Saat saya diberi tahu bahwa Habib Munzir meninggal, saya tidak mau percaya akan hal itu, sama seperti Hazrat Umar (RA) saat mendengar berita meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Saya segera mengirim pesan sms pada keluarga Habib Munzir, yaitu kakaknya Habib Ramzy dan iparnya Anwar, dan mereka langsung menelpon balik. Saat saya mendengar mereka menangis di telpon, saya baru percaya bahwa itu benar adanya.

Hati saya seakan hancur berkeping-keping. Dunia seakan runtuh di sekitar saya. Perasaan yang sama saat saya mendengar ayah saya meninggal dunia bertahun-tahun yang lalu saat saya berusia 17 tahun.

​​Saya menulis artikel ini sehari setelah Habib Munzir (RA) meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Allah SWT.​ Habib Munzir adalah saudara saya dalam Islam, dan sesama murid dari Habib Umar. Beliau adalah syaikh saya, dan dia adalah sahabat saya. Saat tengah menghadapi berita sedih kematian beliau kemarin, seorang teman saya menyampaikan kepada saya sebuah hadist yang diriwayatkan oleh ibu kita Aisyah (RA) mengenai jiwa tertentu yang terhubung erat sebelum penciptaan.

Aku merasakan kenyamanan besar dalam mempelajari hadits ini. Meski saya tinggal di Jakarta hanya selama enam minggu, saya merasa seakan-akan saya telah dibesarkan dibawah tatapan penuh kasih Habib Munzir.

​Habib Munzir memiliki senyum yang lembut dan berseri-seri, seakan menerangi ruangan manapun yang ia masuki. Suaranya yang berat dan berwibawa begitu kuat dan siapapun yang mendengarnya berbicara atau melantunkan doa seakan terpikat olehnya. Beliau selalu berlemah lembut dan baik hati pada orang lain.

​​Saya tidak pernah berfikir bahwa saya dapat mengagumi dan mencintai seseorang seperti saya mencintai Habib Umar bin Hafiz. Saya memandang Habib Umar sebagai ayah yang mengadopsi saya. Di saat saya memandang Habib Umar, saya merasa seperti Hazrat Zayd (RA). Saya tidak pernah berfikir kalau seseorang bisa memiliki pengaruh yang sebegitu besar dalam hidup saya seperti pengaruh Habib Umar.

Namun saat bertemu dengan Habib Munzir, seluruh dunia saya berubah. Tidak ada seorangpun yang memiliki cinta dan pengabdian terhadap syaikh mereka seperti yang ditunjukkan Habib Munzir kepada Habib Umar. Saya belum pernah melihat kepercayaan dan kepatuhan seperti itu. Seakan-akan saya melihat kisah Rumi dan Shams, mungkin begitulah gambaran kekuatan dan cinta antara sang Guru Mulia Habib Umar dan muridnya Habib Munzir.

Terdapat ikatan khusus yang tidak bisa dimengerti oleh siapapun. Tidak perlu dipertanyakan lagi, Habib Munzir adalah salah satu yang paling dicintai oleh Habib Umar, dan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.

​​Meninggalnya Habib telah menyelamatkan tidak hanya iman dan kepercayaan saya terhadap Allah dan Islam, ia telah menyelamatkan hidup saya. Saya berdoa semoga Habib Munzir mendapatkan surga firdaus dan dekat dengan kakeknya Rasulullah SAW. Saya berdoa bagi kita semua yang berkabung atas meninggalnya seseorang yang begitu kita cintai dan sayangi. Saya berdoa bagi anak-anak almarhum yang merupakan perwujudan dari kesejukan pandangan ayah dan ibunya. Saya berdoa semoga keluarganya dan mereka yang mencintainya meneruskan warisan, cita-cita dan perjuangan beliau. Saya berharap dan berdoa.

 Oleh: Syaikh Khalil *)

*) Da’i dari dari Florida,

Santri di Ma’had Darul Musthofa, Yaman

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Cinta dan Pengabdian Habib Munzir al-Musawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *