Cadar yang Indah dan Suara Adzan yang Merdu

Wednesday, August 8th 2018. | Sosmed

Awal bulan April 2018, netizen kembali dihebohkan dengan munculnya puisi berjudul Ibu Indonesia oleh salah seorang tokoh Indonesia. Puisi itu dituding menyudutkan umat Muslim. Terjadi pro-kontra di antara netizen. Sebagian dari mereka mendukung dengan menganggap hal itu lumrah sebagai luapan kecintaan terhadap budaya. Sebagian lainnya menilai hal itu sudah melampaui batas.

Reaksi netizen pun beragam. Ada yang menulis surat terbuka, ada yang membuat puisi balasan, tak lupa tulisan-tulisan singkat berupa sindiran bahkan ejekan. Berita menghebohkan ini juga menjadi bahan perbincangan di banyak media resmi. Bukan hanya rakyat sipil, namun ustadz dan para artis juga ikut mengeluarkan komentar.

Yang disayangkan adalah reaksi segelintir netizen yang terlalu over sehingga terkesan mengolok-olok. Seyogyanya, sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi adat ketimuran, kita tidak mudah terpancing emosi dengan meluapkan segala kekesalan dan kemarahan. Ghirah memuliakan agama harus ada, namun alangkah baiknya tetap menggunakan bahasa yang santun.

Problematika Cadar

Sebelum fenomena ini muncul, cadar sudah menjadi trending topik di berbagai platform media. Banyak media yang genap memberikan gambaran mengenai hukum memakai cadar. Pembahasan juga menyangkut apakah cadar termasuk bagian dari syariat atau sekadar implementasi budaya. Secara singkat, hukum memakai hijab adalah wajib, adapun hukum mengenakan cadar adalah khilaf. Ada ulama yang mengatakan wajib, namun ada pula yang menghukumi sunnah. Bahkan, dalam kalangan ulama’ Syafi’iyyah terjadi perbedaan pendapat tentang hukum cadar.

Menelisik lebih jauh tentang apakah cadar merupakan bagian dari budaya atau bukan, sudah banyak video yang beredar baik di You Tube, Instagram, maupun Facebook, tentang tanggapan para ulama termasuk Habib Umar bin Hafidz, Yaman yang menjelaskan bahwa sebagian besar orang Arab sebelum datangnya Nabi Muhammad Saw. adalah orang yang suka berhias dan durjana. Tidak ada yang membawa hijab kecuali agama. Hijab dibawa oleh Rasulullah Saw. dari Allah Swt. Wanita-wanita Madinah akhirnya mirip burung-burung gagak setelah turun ayat Al Quran. Dengan demikian, cadar bukanlah adat bangsa tertentu.

Lantunan Adzan

Adzan adalah syariat Islam yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. sebagai panggilan untuk menunaikan shalat. Adzan telah memberi warna bagi agama Islam. Saat anak lahir ke dunia, sang ayah mengumandangkan adzan di telinga kanannya sebagai pengingat perjanjiannya dengan Allah Swt. sebelum ia dilahirkan. Melalui adzan, sang ayah juga berharap agar buah hati kelak mengiringinya dengan kalimat tauhid saat sakarat al-maut.

Menyayat Hati

Dalam sudut pandang budaya, setiap individu berhak untuk berkreasi dan berekspresi. Namun, apa yang dilakukan seyogyanya mematuhi norma, sehingga tidak ada orang lain yang tersinggung dengan sikap atau perbuatannya. Membandingkan sari konde dengan cadar dan membandingkan suara kidung dengan adzan sangatlah tidak arif.

Semestinya perbandingan sesuatu menyesuaikan dengan apa yang dibandingkan. Membandingkan buah anggur tentu dengan anggur, semisal anggur Kaiji dibandingkan dengan anggur Auxerrois. Tidak elok jika anggur dibandingkan dengan buah kecapi. Sari konde dan suara kidung tidak patut dibandingkan dengan cadar dan adzan. Manusia disarankan untuk senantiasa berkarya. Akan tetapi, jika melanggar kode etik, maka hasil kreasinya akan menjadi bumerang. Mungkin begitu kiranya pendapat para netizen saat ditanya masalah tersebut.

Dua hari setelah acara pembacaan puisi berlangsung, beberapa elemen masyarakat telah melaporkan pembaca puisi tersebut kepada pihak berwajib atas dasar penistaan agama. Semoga hal ini tidak terulang kembali. Sehingga, kita sebagai bangsa Indonesia bisa menikmati indahnya keberagaman.

[Ichsan]

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Cadar yang Indah dan Suara Adzan yang Merdu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *