Buah Asem, Waluh, Dan Keberhasilan Pendidikan

Tuesday, September 27th 2016. | Pojok Pesantren
Buah Asam

Buah Asam

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Setiap ketemu beberapa orang, yang saya mengetahui betul tentang latar belakang kehidupan orang tuanya, saya segera teringat pohon asem yang berdiri tegak di pinggir jalan dan juga tanaman waluh. Beberapa orang yang saya maksudkan itu, dilihat dari sosial ekonominya di masyarakat, tampak pas-pasan, tetapi ternyata anaknya sukses. Sekalipun orang tuanya mungkin hanya tamat sekolah dasar, tetapi anaknya berhasil lulus S3, bergelar Doktor, dan menjadi orang penting di tengah masyarakat.

Sebaliknya, ada pula yang saya kenal, orang tuanya hebat, lulus perguruan tinggi, berpangkat, dan juga secara ekonomi cukup kaya, tetapi anak-anaknya tidak sukses, baik dalam menempuh pendidikan, pekerjaan, dan lainnya. Melihat kenyataan itu terasa kontras. Orang tuanya sukses, anaknya gagal, dan sebaliknya, keadaan orang tuanya tidak seberapa, tetapi anaknya sangat sukses. Jalan kehidupan ini ternyata tidak selalu seperti garis lulur dan atau berjalan linier.

Ada kalanya kehidupan itu seperti pohon asem, atau sebaliknya bagaikan tanaman waluh. Pohon asem, sekalipun batangnya keras, tumbuh lebat, rindang dan berusia panjang, tetapi tidak menghasilkan buah yang berharga mahal. Pada setiap saat, pohon asem memang berbuah, dan buahnya banyak, tetapi harganya tidak seberapa mahal, sehingga tidak menjadi rebutan banyak orang. Pohon itu, jika tidak ditebang, mampu bertahan hidup hingga ratusan tahun, dan biasanya ditanam di pinggir jalan, oleh karena batangnya kuat dan tidak mudah roboh.

manfaat buah labu

manfaat buah labu

Sebaliknya, adakalanya kehidupan ini juga seperti tanaman waluh. Tumbuhan itu baik akarnya, batangnya, dan daunnya lembek. Tanaman menjalar atau merambat itu, usianya tidak terlalu lama. Batangnya memanjang, melingkar-lingkar dan merambat ke sana kemari, tanpa arah. Manakala ujung tanaman itu terhalang oleh sesuatu, maka akan belok mencari arah lain. Namun berbeda dengan pohon asem yang kuat tetapi tidak memberikan buah, tanaman waluh justru sebaliknya. Tanaman itu batangnya lembek, tetapi buahnya besar, keras, enak dikunsumsi, dan disukai banyak orang.

Batang pohon asem yang berukuran besar, kiranya pantas andaikan memiliki buah sebesar waluh. Tapi ternyatra justru sebaliknya, buah asem berukuran kecil, dan tidak terlalu banyak manfaatnya. Buah dari batang yang amat besar dan keras itu biasanya hanya digunakan untuk bahan pemanis dan bumbu masakan. Sebaliknya, tamanan waluh, kita lihat batangnya lembek, tetapi buahnya berukuran besar, kulitnya keras, rasanya enak, dan bisa bertahan berbulan-bulan, dan bahkan bisa tahunan. Orang desa menyimpan buah waluh hingga dalam waktu lama.

Memperhatikan tanaman waluh, akan mengingatkan pada orang desa yang miskin. Sekalipun keadaannya dari berbagai aspeknya tidak kuat, ternyata mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi sukses. Sekalipun dalam keadaan terbatas, dengan berbagai usaha dan juga berdoa, anaknya disekolahkan hingga jenjang yang paling tinggi. Mengetahui orang tuanya yang serba terbatas itu, anaknya juga bersemangat, sanggup hidup apa adanya, demi meraih cita-cita luhur dan mulia. Hasilnya, anak-anak orang yang hidup sederhana, akhirnya meraih pendidikan tinggi hingga berhasil menduduki posisi-posisi penting di tengah masyarakat.

Kehidupan anak-anak desa itu persis tanaman waluh, yaitu lahir dari keluarga berkekurangan atau lembek, tetapi ternyata menjadi generasi kuat yang mampu memberi sumbangan besar terhadap kehidupan masyarakat dan bahkan bangsanya. Sementara itu, adalah sebaliknya, yaitu banyak anak yang berasal dari keluarga kuat dalam berbagai aspeknya, bagaikan pohon asem, tetapi tidak memberikan buah yang bermanfaat. Artinya, banyak anak dari orang kuat, atau kaya dalam berbagai halnya, tetapi tidak berhasil memberikan apa-apa kepada orang lain.

Merenungkan keadaan pohon asem dan tanaman waluh, akan menyadarkan pada kita semua, bahwa dengan keterbatasan justru akan membawa keberhasilan. Kesadaran yang demikian itu persis sebagaimana diungkapkan di dalam al Qur?an, bahwa di dalam kesulitan terdapat kemudahan. Ayat al Quran itu menyebutkan : fainna inna ma?al ngusri yusro, inna ma?al ngusri yusro. Pengulangan dua ayat itu mengingatkan dan bahkan memastikan bahwa di dalam kesulitan terdapat kemudahan. Maka siapapun, takala mendapatkan kesulitan, seharusnya menghadapi dengan ulet, sabar, dan tawakkal, tokh di balik setiap kesulitan terdapat kemudahan.

Siapapun yang berkeadaan lemah, tetapi mampu bangkit dan berbuat sesuatu, ternyata akan membawa hasil gemilang. Tanaman waluh yang lembek dan berusia pendek ternyata menghasilkan buah yang berukuran besar dan juga banyak sekali manfaatnya. Sementara itu, pohon asem yang kuat, rindang, dan hidupnya bertahan lama hingga berusia ratusan tahun, tetapi ternyata hanya menghasilkan buah berukuran kecil dan tidak seberapa manfaatnya. Pelajaran penting lainnya dari kedua jenis tumbuh-tumbuhan itu adalah, siapapun tidak boleh menyombongkan diri, hanya karena bermodal dan berasal usul, dikenal sebagai orang besar, hebat, dan kuat. Wallahu alam.

Comments

comments

tags: , ,

Related For Buah Asem, Waluh, Dan Keberhasilan Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *