Bolehkah Mengangkat Penguasa Non Muslim? (Bagian 2)

Tuesday, February 14th 2017. | Qur'an

 

 

(قوله إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً) ayat ini menjelaskan bahwa orang mukmin dalam suatu tempat atau waktu tertentu boleh menjadikan orang kafir sebagai sekutu dan penguasa. Ketentuan ini berlaku jika pada waktu orang kafir berkuasa, orang mukmin takut terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh mereka. Namun, diperbolehkannya mengangkat mereka sebagai sekutu atau penguasa hanya sebatas dzahirnya saja, tidak boleh sampai masuk ke dalam hati. Imam Al Bukhori meriwayatkan dari Abu Darda’, beliau berkata, “Kami memalingkan diri dari wajah-wajah mereka dan hati kami melaknat mereka.” Imam Sufyan as Tsauri meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Taqiyah (merasa takut terhadap orang kafir) adalah bukan dengan perbuatan tetapi hanya dengan mulut.” Hal ini diperbolehkan karena setiap orang mukmin diperintahkan oleh Allah untuk menjaga diri dan harta mereka dari kejelekan musuh. Terkadang perlu berpura-pura mendukung namun sejatinya tetap mengingkari mereka (Ibnu Katsir [2]: 30. Rowai’ul Bayan [1]: 402).

(قوله وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ) dalam ayati ini, Allah Swt. mengingatkan mereka semua orang mukmin tentang siksa-Nya kepada orang yang menyimpang dari aturan-Nya. Artinya, Allah Swt. akan menurunkan siksa kepada orang yang menjadikan golongan kafir sebagai sekutu atau penguasa. Dalam Al Alusi disebutkan: Dalam ayat ini ancaman yang luar biasa memberikan petunjuk bahwa perkara yang dilarang adalah sesuatu yang sangat buruk. Ketika Allah Swt menyandarkan peringatan kepada dzat-Nya sendiri, itu menunjukkan bahwa siksa yang akan diturunkan sangat pedih. Apalagi, dalam ayat tersebut tidak disebutkan jenis siksanya. Maka, ketika sebuah ancaman siksa tidak disebutkan secara langsung, hal ini menunjukkan bahwa siksa itu lebih pedih dari yang lainnya. (Ibnu Katsir [2]: 31, Ar Rozi [4]: 171, Al Alusi [2]: 485, al Bahr lis Samarqondi [1]: 256).

 

Kandungan Ayat

Menanggapi ayat di atas, sebagian ahli fikih berpendapat bahwa tidak diperbolehkan menjadikan seorang kafir sebagai pegawai atau pemimpin yang mengurus urusan umat Islam, sebagaimana tidak diperbolehkannya mengagungkan mereka dalam suatu majlis demi menyambut kedatangan mereka. Ibnu Arobi meriwayatkan bahwa Umar bin Khottob melarang Abu Musa al Asy’ari menunjuk seorang kafir sebagai juru tulis di Yaman bahwa oleh Umar. Abu Musa diperintahkan untuk mengganti juru tulis tersebut.

Imam Ar Rozi dalam tafsirnya menguraikan: “Ketahuilah, seorang mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai sekutu memungkinkan adanya tiga hal. Pertama, orang mukmin tersebut ridla terhadap kekafirannya dan menjadikan sekutu karena kekafirannya itu. Hal ini dilarang, karena sama saja dengan membenarkan agama orang kafir tersebut. Membenarkan kekafiran dan ridla terhadap kekafiran adalah sama-sama kafir.

Kedua, menjadikan mereka sebagai sekutu hanya sebatas pergaulan duniawi. Hal ini diperbolehkan. Ketiga, menjadikan mereka sekutu dengan arti memiliki kecondongan kepada mereka, membantu dan menolong mereka baik sebab hubungan saudara atau rasa cinta kepada mereka dengan tetap meyakini bahwa agama mereka adalah salah. Kemungkinan ketiga ini tidak menyebabkan orang itu menjadi kafir. Hanya saja hal ini dilarang, karena bisa jadi orang tersebut ridla terhadap kekafiran.”

Ayat ini juga mengandung beberapa hal berikut:

  1. Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, mencintai dan mengasihi mereka adalah hal yang diharamkan oleh syariat.
  2. Diperbolehkan berpura-pura (taqiyyah) untuk menjauhkan diri, kehormatan, serta harta dari kejelekan musuh.
  3. Jika dalam keadaan terpaksa, seseorang diperbolehkan mengucapkan kata-kata yang menjadikan kafir baginya. Dengan syarat, hatinya masih memegang teguh keimanan.
  4. Tidak ada hubungan antara orang mukmin dan kafir dalam kekuasaan, bantuan, dan warisan. Karena, iman selalu bertentangan dengan kekafiran.
  5. Allah Saw adalah dzat yang selalu mengawasi setiap langkah manusia dan mengetahui hal yang dirahasiakan oleh Mereka. (Rowai’ul Bayan [1]: 404, Ar Rozi [4]: 164).

Dengan demikian, seorang mukmin akan selalu menjadikan golongan mereka sendiri sebagai sekutu atau pemimpin serta menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan yang terjalin di antara mereka seraya berlandaskan ajaran-ajaran syariat. Wallahu A’lam.

[Ahmad Farikhin]

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Bolehkah Mengangkat Penguasa Non Muslim? (Bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *