Bolehkah Mengangkat Penguasa Non Muslim? (Bagian 1)

Monday, February 13th 2017. | Qur'an

 

 

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ  [آل عمران/28  ]

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imron 28)

 

Sababun Nuzul

Diriwayatkan Ibnu Abbas Ra berkata, “Sekelompok orang Yahudi bernama Hajjaj bin Amr, Kahmas bin Abil Haqiq dan Qois bin Zaid bersekutu dengan segolongan sahabat Anshor dengan tujuan menyelewengkan agamanya.” Lalu Rifa’ah bin Mundzir, Abdullah bin Jubair dan Said bin Khoitsamah mengingatkan mereka yang bersekutu dengan orang Yahudi seraya berkata, “Jauhilah orang-orang Yahudi itu, janganlah bersekutu dengan mereka, karena mereka ingin menyelewengkan agama kalian semua.” Namun, sahabat Anshor menolak dan tetap bersekutu dengan orang Yahudi. Kemudian Allah Swt. menurunkan ayat ini.

Imam Al Kalabi berkata, bersumber dari Abu Sholih dari Ibnu Abbas: “Ayat ini turun menjelaskan kelompok munafik Abdullah bin Ubay dan pengikutnya. Mereka meminta tolong dan bersekutu dengan kaum Yahudi dan musyrik serta selalu membawa kabar untuk mereka supaya dapat mengalahkan Rasulullah Saw. Lalu Allah Swt menurunkan ayat ini dan melarang orang mukmin meniru apa yang dilakukan kaum munafik.”

Imam Al Qurthubi dalam Tafsirnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra bahwa ayat ini diturunkan untuk menjelaskan keadaan sahabat Ubadah bin Shomit al Anshori yang memiliki perjanjian dan bersekutu dengan kelompok Yahudi. Ketika Rasulullah Saw. bersiap melakukan Perang Ahzab, Ubadah berkata kepada Rasulullah Saw. Wahai Rasulullah, aku memiliki sekutu 500 orang Yahudi dan aku berpendapat untuk mengajak mereka berperang bersama sehingga mampu mengalahkan musuh. Lalu Allah Swt menurunkan ayat ini.

Dalam riwayat lain Imam Muqotil berkata, Ayat ini turun menjelaskan Hathib bin Abi Balta’ah dan lainnya yang berbelas kasih terhadap orang kafir Makkah. (Al Alusi [2]: 477, al Baghowi [2]: 25, Rowai’ul Bayan [1]: 398)

 

Makna Ayat

(قوله لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ) kata أَوْلِيَاءَ adalah bentuk jama’ dari kata ولي yang merupakan lawan kata dari kata عدو secara bahasa artinya penolong dan pelindung. Dalam Kamus as Shihhah الولي bermakna dekat. Dalam Tabyinul Haqoiq diuraikan: Kata أَوْلِيَاءَ adalah bentuk jama’ dari kata ولي dari unsur kata الولاية  artinya melestarikan atau memaksakan hukum kepada orang lain baik dia setuju atau tidak. Ar Roghib as Asfihani berkata, “Setiap orang yang menguasai urusan orang lain, mereka adalah walinya orang itu.”

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menguraikan: Allah Swt. melarang kepada para hamba-Nya yang mukmin memberikan kekuasaan kepada orang-orang kafir atas urusan orang mukmin dan menjadikan mereka sebagai sekutu seraya merasa damai dengan keberadaan mereka meninggal orang-orang mukmin. Uraian yang senada juga disampaikan oleh Imam At Thobari yang berkata, “Ini adalah larangan Allah Swt kepada orang mukmin agar tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai pembantu, penolong dan sekutu. Oleh karena itulah, dalam ayat ini Allah menjazemkan fi’il mudlori’ sebagai bentuk larangan.” (Anisul Fuqoha’ [1]: 147, Rowai’ul Bayan [1]: 397. Ibnu Katsir [2]: 30. At Thobari [6] 313)

(قوله وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ) dalam penggalan ayat ini, Allah menyatakan bahwa barang siapa yang mengerjakan larangan Allah Swt, maka ia akan lepas dari-Nya. Artinya seorang mukmin diperintahkan oleh Allah untuk menjadikan sekutu dari golongan mukmin. Ketika mereka mengambil sekutu dari golongan kafir, maka mereka telah melanggar aturan Allah Swt. Sehingga, Allah Swt lepas dari mereka dan mereka juga lepas dari Allah. Lepasnya Allah dari orang yang melanggar larangan ini sangat masuk akal, karena orang mukmin diperintah mencintai Allah dan memusuhi musuhnya Allah.

Dalam masalah ini, orang yang menjadikan orang kafir (musuh Allah) sama saja berusaha mengumpulan dua hal yang saling bertentangan yaitu mencintai Allah dan mencintai musuh-Nya. Disebutkan dalam al Bahr: Hal itu tidaklah masuk dalam agama Allah, karena menjadikan penguasa orang kafir itu sama dengan ridla terhadap kekafiran mereka. Adapun orang yang ridla terhadap kekafiran adalah orang yang kafir, sama seperti mereka. (Ibnu Katsir [2]: 30, Ar Rozi [4]: 169, Al Alusi [2]: 478, al Bahr lis Samarqondi [1]: 256).

[Ahmad Farikhin]

 

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Bolehkah Mengangkat Penguasa Non Muslim? (Bagian 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *