Berziarah ke Makam Rabi’ah al-Adawiyah, Wali Wanita dari Hadramaut

Saturday, April 29th 2017. | Ziarah

 

Belum lama ini masyarakat dihebohkan dengan berita atau reality show yang mengangkat sosok perempuan. Seakan-akan perempuan adalah sosok yang tak henti-hentinya menjadi bahan perbincangan dan menyulut api perdebatan tentang eksistensinya. Seperti contoh, ajang ratu sejagat, Miss Universe yang diselenggarakan di Indonesia pada tahun 2013 kemarin yang menuai pro dan kontra antara sebagian kelompok yang melihat bahwa hal tersebut sebagai ajang memperkenalkan suatu kebudayaan dan sebagian lain yang menilai acara tersebut hanya bermaksud mengekspos tubuh wanita belaka. Begitu juga muncul sosok penyanyi wanita dengan suara khasnya yang berhasil memenangkan kompetisi menyanyi bertaraf internasional, atau film layar lebar yang mencoba meneguhkan eksistensi dan hakikat seorang wanita tanpa memandang status sosialnya. Bahkan akhir-akhir ini pemberitaan di luar negeri pun menayangkan berbagai macam bentuk diskriminasi terhadap wanita. Hal itu menunjukkan adanya esensi yang pudar di mata banyak orang saat ini atau memang sengaja dibuat kamuflase oleh sebagian orang, yaitu adanya sosok-sosok yang patut dan semestinya dijadikan tauladan dan panutan, seperti siti Khodijah ra, siti Aisyah ra, siti Fathimah ra, dan juga wanita-wanita lain yang mempunyai keteguhan iman dan banyak memberi pengaruh terhadap sekitarnya, seperti Rabi’ah Al Adawiyah. Kali ini koresponden MATAN yang ada di negeri ratu Balqis akan mengajak pembaca berziarah dan mengenal salah satu dari sosok perempuan yang mungkin bisa dijadikan batas pembeda antara perempuan-perempuan yang tenggelam dalam kelalaian modernitas serta korban dari media dan antara perempuan yang menyadari harkat dan martabat yang telah dijunjung tinggi oleh agama dengan tetap menjaga diri dan patuh terhadap agama sehingga patut untuk dijadikan suri tauladan perempuan masa kini.

 

  1. Masa kecil

Dia adalah Syaikhoh Sulthanah Az Zubaidiah. Lahir di pedalaman yang bernama al ‘Urr, sebuah gurun sahara yang terhampar luas dari desa Maryamah sampai perbatasan yang sekarang lebih dikenal dengan Hauthoh Sulthanah, berjarak 3 mil dari kota Seiun, propinsi Hadhromaut. Ia tinggal di pedalaman yang seperti umumnya dihuni oleh orang-orang badui dari keluarga Zubaidi, keturunan kabilah bani Haritsah Al Kindiyyah, kabilah yang terkenal berwatak kasar dan mempunyai kekuatan persenjataan yang kuat.

Layaknya kehidupan orang badui pedalaman, sehari-harinya dia disibukkan dengan menggembala ternak dan bercocok tanam di ladang, hanya saja Sulthanah berbeda dengan gadis pada umumnya di pedalaman, ia lebih condong beruzlah untuk mencari ketenangan dan menjauhi pergaulan teman sejawatnya yang terlalu asyik dengan masa kecil mereka. Ketika Sulthanah bertambah dewasa ia merasakan adanya panggilan nurani dan jiwa untuk menemukan hakikat suatu kehidupan, hal tersebut didukung oleh suasana malam yang tenang, rumput yang bergoyang dan hamparan gurun yang luas terpampang, ditambah kabar cerita orang-orang sholeh yang beredar dari mulut ke mulut. Teringat lagunya bang Opick “Terkadang hidup dalam sepi hati, karena jiwa yang rindu untuk kembali pada Allah”.

Berangkat dari itu Sulthanah mulai melangkahkan kaki mencari kabar mereka dan mendatangi masjid-masjid, tempat jiwa-jiwa suci menebarkan cahaya dakwah yang menerangi hati gelap dan gersang, petuah dan nasehat mereka pun terekam rapi di dalam memory sang gadis yang baru beranjak dewasa sehingga membuat hati dan tubuh menjadi tergerak untuk mengikuti jejak mereka menemukan rahasia kehidupan.

  1. Rabi’ahnya Hadhromaut

Begitulah para sejarawan memberi julukan kepada wanita yang mulia ini, dan memang layak dengan sifat dan tingkah lakunya. Bahkan ia mempunyai keunggulan tersendiri dari satu sisi,  yaitu Sulthanah sudah mengenyam dasar-dasar tasawuf sejak dini dengan riyadhoh dan semangat menimba ilmu dari ulama’ yang singgah berdakwah di tempat tinggalnya. Dan yang menakjubkan dari itu kondisi lingkungan kabilah yang mestinya membentuk pribadi seseorang untuk mengikuti watak umumnya penduduk setempat, baik dari segi kerasnya tabiat badui laki-lakinya dan kehidupan wanitanya yang serba datar tak membuatnya lalai dan terlena untuk menggapai ridho ilahi. Dimulai dengan perenungan mencari jati diri, himmah yang kuat dalam menuntut ilmu syar’i, cinta terhadap orang-orang sholeh dan ahlul ilmi, dan menempa diri untuk menjadi pribadi yang berakhlak nabawi, sejak dini sampai ajal menanti. Itulah sifat yang tercermin dari sosok Rabi’ah Hadhromaut ini, dan hal itu pula yang membuatnya sering bertemu Baginda Rasulullah saw.

Meskipun seseorang terus membina sisi ruhaniyahnya dan menjadi sufi, tidak berarti hal tersebut menghalanginya untuk mengembangkan kreatifitas, itulah yang dicontohkan oleh Sulthanah dalam kesehariannya. Sejarah mencatat dalam hal menenun, memintal, memasak dan memelihara hewan ternak dialah yang terbaik di daerahnya, ia juga sangat piawai dalam bersyair, dari sisi lain ia adalah seorang wanita yang sholehah, taqiyyah dan ‘afiifah. Konon, jiwa sosialnya yang tinggi dan juga bersinergi dengan hati yang suci dan bercahaya berhasil menyelesaikan konflik yang terjadi antar kabilah pada saat itu, dengan mencontoh metode dakwah orang-orang sholeh yang menebarkan rahmat kepada seluruh lapisan masyarakat.

Termasuk keistimewaan yang dimilikinya dan juga kesamaannya dengan Rabi’ah Al Adawiyah adalah beliau memilih meninggalkan keinginannya untuk menikah dan membina keluarga dan tidak menjadikannya sebagai kebutuhan biologis, tapi menggantinya dengan kebutuhan rohani dengan mendekatkan kepada sang maha pengasih. Menurut sebagian cerita, alasannya beliau tidak menikah adalah karena seringnya ia berjumpa dengan baginda Rasulullah saw, baik ketika mimpi atau terjaga, sehingga ia tidak ingin disibukkan oleh kewajibannya melayani suami dan menyianyiakan kesempatannya untuk bisa terus berinteraksi dengan Rasulullah Saw. dan itu adalah salah satu karomah yang dimilikinya. Hal tersebut membuktikan kecintaannya terhadap Nabi Muhammad Saw yang terwujud di dalam tingkah lakunya untuk berusaha mengamalkan sunnahnya dan juga mencintai keturunannya, ia mempunyai ikatan yang kuat dengan ahlul bayt, khususnya Syekh Abdurrahman As Seggaf dan putra-putranya, dikarenakan mereka adalah imam dan pemuka Saadah Ali Ba’alawy pada saat itu, dan mereka sering berkunjung di desa tempat Sulthanah tinggal untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu.

 

  1. Mengangkat derajat wanita

Emansipasi, keseteraan hak laki-laki dan perempuan adalah topik hangat yang sering menjadi bahan diskusi dan bahkan menjadi slogan yang menyulut para demonstran dari kalangan kaum Hawa untuk menuntut hak mereka agar diberikan kebebasan seperti yang dimiliki kaum Adam, kebebasan tanpa batas yang justru tanpa disadari memutar balik harapan sehingga merenggut harga diri dan kemuliaan kaum hawa. Lain halnya dengan Sulthanah, ia justru mampu mengangkat derajat wanita dengan memahami fitrahnya sebagai seorang perempuan tanpa embel-embel slogan apapun. Alkisah, suatu ketika Syaikhoh Sulthanah berada di majlis Syekh Abdurrahman As Seggaf mendengarkan pengajian yang disampaikan Syekh. Ditengah-tengah pengajian terjadi perbincangan ringan antara putra Syekh Abdurrahman, Syekh Hasan dengan Syaikhoh Sulthanah. Inti pembicaraan, Syekh Hasan menyindir Sulthanah dengan bahasan kiasan “Tidak semestinya unta betina mendahului atau menyerupai unta jantan”, mendengar itu Sulthanah meminta izin kepada Syekh Abdurrahman untuk menjawab putranya, setelah mendapat izin ia langsung menjawab dengan kata kiasan juga “Meski betina yang mengandung tapi ia juga menanggung beban pejantan, ditambah betina juga menyusui dan merawat anak-anaknya”. Susu yang bermakna tarbiyah dan keluarga yang berarti menjaga silsilah dan keturunan adalah dua hal yang tidak mampu dipikul oleh laki-laki, dan tidak mampu menunaikannya seperti wanita. Syekh Abdurrahman pun senang mendengar jawaban yang cerdas dan tanggap dari Syaikhoh Sulthanah.

Di penghujung hidupnya Sulthanah merasa bahwasannya masyarakat membutuhkan sebuah tempat yang mengayomi mereka dalam menimba ilmu, di samping madrasah tasawuf yang kental dalam dirinya, yang mana arti dari kata tasawuf terpusatkan dalam dua kata; yaitu ilmu dan amal, membuat wanita shufiyah ini berinisiatif untuk merintis ribath (pesantren) di perkampungannya, sehingga lengkaplah sudah perannya untuk memberikan sumbangsih kepada masyarakat, seperti yang dikatakan sejarawan: “Wanita yang berperan untuk perbaikan sosial yang mengangkat martabat kaum dan negaranya”. Hingga tiba saatnya Sulthanah menghadap ke haribaan Ilahi, menghadap Sang Kekasih hati, beliau meninggal pada tahun 843 H. dan dimakamkan di desanya, sampai saat ini setiap bulan muharom masyarakat dari kota Tarim, Seiun dan sekitarnya berduyun-duyun datang ke maqbarohnya untuk memperingati haul Syaikhoh Sulthanah Az Zubaidiyah -rohimaha Allahu rahmatal abroor-. Benar kata pepatah: “andaikata wanita-wanita seperti orang yang aku kisahkan ini, maka pasti mereka lebih baik dari lelaki”.

Wallahu a’lam

*gus Zahid(penulis)

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Berziarah ke Makam Rabi’ah al-Adawiyah, Wali Wanita dari Hadramaut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *