Berziarah ke Makam Maulana Abdussalam bin Masyisy; [Pemuka Para Wali Terkemuka]

Sunday, February 8th 2015. | Uncategorized
makam Maulaya Abdussalam bin Masyisy

Penulis berada di depan makam Maulaya Abdussalam bin Masyisy

Keinginan kuat untuk berziaram ke makam Maulana Abdussalam bin Masyisy sudah lama saya impikan, hingga akhirnya Allah memberikan kesempatan itu pada akhir bulan lalu. Meski harus melawan banyaknya hambatan karena sulitnya medan yang harus ditempuh, akhirnya sampai juga saya di Jabal ‘Alam, tempat di mana Maulana Abdussalam disemayamkan. Puncak gunung ini berjarak sekitar 70 km dari kota Tetouan. Sedangkan jarak dari kota Rabat ke kota Tetouan sekitar 300 km.

Nama Maulana Abdussalam bin Masyisy tentu tidak asing lagi di telinga masyarakat Maroko, kalangan ulama maupun masyarakat biasa . Beliau, sebagaimana tercatat dalam kitab Al-Thabaqat al-Syadziliyah al-Kubra karangan Syaikh Hasan bin Muhammad bin Qasim al-Tazy, merupakan guru dari tiga wali quthub (pemuka para wali ), yaitu Syaikh Ahmad al-Badawi (lahir di Kota Fes, Maroko tahun 596 H), Syaikh Ibrahim al-Dasuqi) lahir di kota Dusuq, Mesir pada malam terahir bulan Sya’ban, 653 H)  dan Syaikh Abu al-Hasan Ali bin Abdillah al-Syadzili (Pendiri tarekat Syadziliyah, lahir di Ghumarah, Maroko tahun 571 H). Maka dengan demikian, Maulana Syaikh Abdussalam bin Masyisyy radhiyallahu ‘anhu adalah “Quthb al-Aqthab” (Pemuka para wali tekemuka).

 

Kehidupan dan pendidikan

Beliau bernama Abu Muhammad Sayyid Abdussalam bin Masyisyy bin Abu Bakr bin Ali bin Hurmah bin Isa bin Salam bin Mizwar bin Ali bin Muhammad bin Maulana Idris al-Shagir (yang dimakamkan di Fes) bin Maulana Idris al-Kabir (yang dimakamkan di Zarhun Meknes, perintis Negara Maroko) bin Maulana Abdullah al-Kamil bin Maulana al-Hasan al-Mutsanna bin Maulana al-Hasan al-Sabt bin Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah al-Zahra puteri Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Syaikh Ibnu Masyisyy dilahirkan pada tahun 559 H./1198 M. di desa Al-Hasin yang terletak di bawah gunung al-‘Ilm ke arah kiblat, tempat ini sekarang menjadi Kuttab (tempat anak-anak belajar membaca, menulis dan menghafal al-Quran), disinilah beliau tumbuh dan belajar menulis serta membaca. Diceritakan bahwa Syaikh Ibnu Masyisyy hafal al-Quran beserta tujuh bacaan (Qira’ah al-Sab’ah) sebelum usia 12 tahun. Guru beliau dalam belajar dan menghafal al-Quran adalah seorang wali bernama Sayyid Salim.

Sebagaimana penduduk kampong yang lain, Syaikh Ibnu Masyisy juga bekerja di lahan pertanian. Selama hidupnya beliau memiliki kesungguhan dan kemauan yang keras dalam menuntut ilmu, sangat istiqamah dalam menjalankan ibadah, baik salat maupun bacaan aurad (dzikir dan doa), dan tidak pernah menyimpang dari jalan syariat sehelai rambutpun hingga mengantarkannya mencapai derajat ‘ma’rifat’ kelak.

Di antara gurunya dalam bidang ilmu pengetahuan adalah Syaikh Ahmad yang dijuluki Aqtharaan yang dimakamkan di daerah Abraj, dekat pintu Taza. Di bidang tasawuf dan ilmu sosial beliau berguru pada Syaikh Abdurrahman bin Hasan al-‘Aththar yang terkenal dengan al-Ziyyaat.

 

Makam Maulaya Abdussalam bin Masyisy

Makam Maulaya Abdussalam bin Masyisy

Pertemuan dengan Abu al-Hasan al-Syadzili

Ada satu kisah yang menarik dalam perjalanan hidup Syekh Ibnu Masyisy, yaitu kisah saat beliau dipertemukan dengan murid yang sangat disayanginya Abu al-Hasan al-Syadzili. Tentu saja, pertemuan agung antara Syeikh Ibnu Masyisy dengan muridnya ini bukan pertemuan biasa. Perjalanan ruhani tarekat Syadziliyah memasuki titik penting sekaligus dari pertemuan ini.

Diceritakan bahwasanya ketika Abu al-Hasan al-Syadzili berada di puncak keinginannya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt, beliau bertekad untuk mengembara dan mencari Mursyid yang Quthub.

Sampailah beliau ke Negeri para wali, Irak dan menemui banyak wali yang tinggal di sana, tetapi hal itu belum juga membuatnya puas sebelum bertemu dengan seorang wali Quthub di zaman itu. Padahal Syaikh Abu al-Hasan menempuh jarak ribuan kilometer dari Maroko menuju Irak, mengarungi hamparan luas padang sahara.

Al-Imam Ahmad bin ‘Iyad dalam kitabnya Al-Mafakhir al-‘Aliyyah menceritakan bahwa Syaikh Abu al-Hasan berkata: “Ketika di Iraq, saya  bertemu dengan Syaikh Abu al-Fath al-Wasiti. Beliau berkata kepadaku: “Anda mencari wali Quthub di Irak, Padahal dia berada di Negaramu, kembalilah ke Negaramu niscaya kamu akan menemukannya.”  Maka saya langsung kembali ke Maroko sampai pada akhirnya bertemu dengan Syaikh al-Wali al-’Arif al-Shadiq al-Quthb al-Ghauts Abu Muhammad Abdussalam bin Masyisy al-Syarif al-Hasani.

Ketika mendatangi tempat beliau di Barbathah, di puncak gunung, saya mandi di salah satu mata air yang berada di kaki gunung seraya melepas semua hal duniawi. Ketika hendak menghadap, tiba tiba beliau turun kepadaku dan berkata: “Selamat datang wahai Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar” dan menyebutkan nasabku sampai ke Rasulullah. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Wahai Ali, Anda datang kepada kami dalam keadaan fakir dari ilmu dan harta, engkau akan mengambil dari kami kebahagiaan dunia dan akhirat.”

Bahkan beliau berkata: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya sebelum engkau datang ke sini, Rasulullah telah memberi tahu kepadaku segala hal tentang dirimu, serta akan kedatanganmu hari ini. Selain itu aku juga mendapatkan tugas dari beliau agar memberikan pendidikan dan bimbingan kepadamu, oleh sebab itu ketahuilah bahwa kedatanganku kemari sengaja untuk menyambutmu”. (Al-Quthb al-Syahid Sayyidi Abdussalam bin Masyisyy karya Imam Abdul Halim Mahmud: 16)

Mendengar itu semua, Abul Hasan al-Syadzili hanya diam tercengang dan merasa takjub. Akhirnya Abul Hasan al-Syadzili berhasil bertemu dengan wali Quthub yang dicarinya selama ini. Beliaupun tinggal menetap bersama Syaikh Ibnu Masyisy hingga akhirnya Allah membuka mata hatinya dan menyaksikan beragam karamah Syaikh Ibnu Masyisy yang luar biasa.

 

Ma'bad (tempat peribadatan Maulaya Abdussalam bin Masyisy)

Ma’bad (tempat peribadatan Maulaya Abdussalam bin Masyisy)

Nasihat dan Wasiat

Maulana Syaikh Abdussalam bin Masyisy dengan kedalaman ilmu dan kezuhudannya adalah sosok yang sangat tertutup dan tidak ingin dikenal oleh orang lain. Hal ini bisa dilihat dari salah satu doa beliau, “Ya Allah aku mohon kepada-Mu agar makhluk berpaling dariku sehingga tidak ada tempat kembali bagiku selain kepada-Mu.” Allah Ta’ala pun mengabulkan permohonan beliau tersebut sampai tidak ada yang mengenal beliau, kecuali muridnya, Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili.

Meski tidak banyak meninggalkan karangan,namun salah satu warisan yang sangat penting dan berharga dari beliau adalah  teks “Shalawat Masyisyiah”, yaitu sebuah shalawat yang jika kata-katanya berbaur atau di ucapkan oleh ruh maka akan membuat pemilik ruh tersebut terasa melayang di udara dari keluhuran dan keindahan alam malakut. Shalawat yang memiliki banyak rahasia dan keutamaan serta mampu memberikan pancaran cahaya Ilahi bagi para pengamalnya.

Syaikh Ibnu Masyisy wafat secara syahid pada tahun 622 H./1261 M. (riwayat lain pada tahun 625 H/1264 M). Semoga Allah Swt meridhai dan memberi kita semua manfaat dengannya. Amin.

 

*) Agus Muhammad bin KH. M. Ali Marzuqi;

Mahasiswa program kelas Internasional di Universitas Ibnu Thufail, Maroko, Afrika.

Sumber: Kitab Al-Muthrib bi Masyahiri auliya’ al-Maghrib.

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Berziarah ke Makam Maulana Abdussalam bin Masyisy; [Pemuka Para Wali Terkemuka]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *