Berziarah ke Makam Abu Ayyub al-Anshari; Pendiri Kota Istanbul, Turki

Saturday, November 29th 2014. | Ziarah
Penulis (berbaju batuk coklat) di depan makam Abu Ayyub

Penulis (berbaju batuk coklat) di depan makam Abu Ayyub

Catatan Wisata Rohani ke Turki (Bagian-1)  

Pasca beberapa hari disibukkan dengan padatnya jadwal ujian akhir tahun, tiba saatnya saya memasuki masa liburan panjang di kampus Al-Azhar, Kairo. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, saya dan sepuluh teman pelajar lain dari Indonesia merealisasikan rencana liburan yang beberapa bulan lalu sudah terbahas, yakni berziarah ke Konstantinopel atau yang sekarang dikenal dengan nama Istanbul. Sebuah kota besar di Turki dengan aspek historisnya yang luar biasa.

Secara geografis, wilayah Turki sendiri terletak di dua benua, wilayah bagian barat terletak di benua Eropa sedangkan bagian timur Turki terletak di benua Asia. Pun pula dengan Istanbul, ibu kota Turki ini juga berada di di dua benua. Kedua benua itu dipisah dengan selat Bosporus .

Memulai perjalanan hari Senin dari bandara Cairo Airport, Mesir, kami membutuhkan waktu kira-kira setengah hari untuk bisa take off di Ataturk Airortm Turki. Senin sore setelah tiba di Turki kami langsung menuju kantor bagian imigrasi. Alhamdulillah, karena hubungan bilateral di berbagai sektor antara Indonesia dengan Turki memudahkan kami untuk mengurus perizinan. Kami cukup membawa visa on arrival dengan biaya 50 dollar.

Setelah urusan dengan ke-imigrasian kelar, kami langsung menuju ke asrama tempat para pelajar yang berada di Turki, kebetulan asrama lagi kosong, karena sebagian banyak yang pulang ke daerah atau negara masing-masing untuk berlibur bersama keluarga.

Selama berada di Turki, banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang berhasil kami himpun mulai dari sistem sosial masyarakat, kearifan budaya lokal Turki, hingga bagaimana Islam merangkul penganut agama lain. Tak kalah berharganya, kami juga berkesempatan mengunjungi beberapa situs bersejarah yang –insyaAllah- akan kami rangkum dalam beberapa tulisan.
Makam Abu Ayyub al-Anshari

Salah satu tempat yang kami tuju adalah makam sahabat Abu Ayyub al-Anshari. Sebuah makam yang dibangun dengan arsitektur sangat indah dan berkelas. Pada dinding bagian depan Masjid yang beliau bangun terdapat ornament dengan warna biru yang menjadi ciri khas peninggalan Turki kuno. Masjid Abu Ayyub al-Anshari ini sekaligus menjadi bagian dari makam beliau, layaknya yang terjadi pada Masjid Nabawi sebagai tempat persemayaman Rasulullah Saw.

Meski hanya sebentar kami berziarah karena kegiatan renovasi makam dan berjubelnya para peziarah, kami sudah bisa merasakan hawa sejuk dan kesan kewibawaan yang luar biasa. Bisa jadi ini berkat karamah dan maqam Sayyidina Abu Ayyub al-Anshari sebagai sahabat yang menjadi penyebar agama Islam di Turki.

Lokasi makam Abu Ayub al-Anshari

Lokasi makam Abu Ayub al-Anshari

Masjid Abu Ayyub al-Anshari

Masjid Abu Ayyub al-Anshari

 

Pendiri Istanbul

Dalam sejarah perjalanan hijrah Nabi Muhammad Saw, rumah penduduk kota madinah yang pertama kali disinggahi oleh Nabi Saw adalah rumah Abu Ayyub al-Anshari. Namun dalam perjalanannya, beliau memilih hijrah ke Negara Turki dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam. Karena itu beliaulah yang disebut-sebut sebagai pendiri kota Istanbul yang pada saat dinasti Utsmaniyyah, menjadi pusat peradaban Islam.

Abu Ayyub al-Anshari meninggalkan kota Madinah dengan penuh pengorbanan. Demi melanjutkan misi penyebaran Islam di benua Eropa, pemilik rumah bersejarah ini harus berhadapan dengan kekuatan Eropa yang sangat kuat, belum lagi saat itu Eropa masih dalam kekuasaan dan pengaruh kaum Nashara. Bahkan sampai saat ini ada sebuah Negara bernama Vatikan sebagai pusat kota Nashara dunia yang berada berada di wilayah Italia.

Untuk itulah, demi menambah motivasi juang di medan berat Negara Turki ini, Abu Ayyub al-Anshari membawa kenang-kenangan sepotong kayu yang pernah diinjak oleh kaki Nabi Saw, atau petilasan tapak kaki Rasulullah Saw, yang hingga saat kini tetap rapi disimpan dan ditempelkan pada dinding masjid yang beliau bangun, yaitu Masjid Abu Ayyub al-Anshari.

Saat Abu Ayyub dan pasukan sahabat berupaya merebut Konstantinopel tahun 52 H, beliau mengalami luka parah. Kemudian datanglah Yazid bin Mu’awiyah, “Adakah permintaan Anda, wahai Abu Ayyub?” Abu Ayyub kemudian berwasiat agar jasadnya nanti diangkut dengan kudanya untuk dibawa ke tempat sejauh mungkin di negeri musuh dan dikuburkan di sana pula.

Jadi di zaman sahabat, batas inilah pasukan muslim dapat mencapai wilayah terjauh, meski kota Konstantinopel sendiri masih belum dapat direbut oleh pasukan muslimin.

Mudah-mudahan kita meneladani kegigihan sahabat Abu Ayyub al-Anshari dalam menyebarluarkan membentengi ajaran Islam yang lurus. Penghormatan setinggi-tingginya kepada beliau dan sahabat lain dalam peperangan menaklukkan Konstantinopel. Dalam satu redaksi hadis disebutkan:

لتفتحن القستنطنية ولنعم الأمير أيرها ولنعم الجيش ذلك الجيش

‘’Kalian akan menaklukkan Konstantinopel, dan sebaik-baik panglima adalah panglima itu, dan sebaik baik tentara adalah tentara itu’’

 

 Oleh: Ali Fathomi *)

*) Penulis adalah santri Langitan yang sedang menempuh pendidikannya

di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Berziarah ke Makam Abu Ayyub al-Anshari; Pendiri Kota Istanbul, Turki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *