Berziarah ke Lembah Yordania; Rekam Jejak Sahabat Abu Ubaidah bin al-Jarrah

Sunday, May 11th 2014. | Uncategorized, Ziarah

Oleh: Adam Ahmad Syahrul ‘Alim *)

Langkah kaki para pecinta sejarah dan budaya Islam seakan tidak akan pernah merasakan lelah jika menginjak bumi Syam satu ini, Yordania. Negara yang beribukota Amman ini sangatlah kaya dengan bukti dan peninggalan sejarah. Sampai hari inipun Yordania cukup digandrungi para sejarawan, wisatawan maupun peziarah untuk ikut menghirup harumnya nilai-nilai peninggalan nenek moyang mereka.

Petunjuk arah menuju makam Abu Ubaidah bin Jarrah

Petunjuk arah menuju makam Abu Ubaidah bin Jarrah

Yordania merupakan salah satu gerbang kejayaan Islam di muka bumi ini. Para syuhada’ perang telah bertumpah darah disana demi membela agama Allah dan mempertahankan bendera tauhid. Begitu banyak peperangan yang berkecamuk di tanah Yordania, seperti perang Mu’tah dan perang Yarmuk yang semua itu telah dicatat dan diabadikan oleh tinta emas sejarah.

Di negara ini, banyak masjid dan makam yang dibangun dan dirawat dengan tujuan menghidupkan syiar Islam seraya mengenang jasa para sahabat dan syuhada’ yang mulia di berbagai tempat yang berbeda. Oleh karenanya, pada edisi kali ini majalah Langitan akan mengajak pembaca untuk mengintip makam salah seorang sahabat yang agung Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

 

Foto luar masjid di kawasan makam Abu Ubaidah bin Jarrah

Foto luar masjid di kawasan makam Abu Ubaidah bin Jarrah

Sahabat yang Penuh Amanah

Di kalangan para sahabat, Abu Ubaidah sangatlah dikenal sebagai sosok yang salih, bertakwa dan penuh amanah. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik bahwa Rasulullah suatu ketika besabda:

Setiap umat mempunyai pemegang amanah dan pemegang amanah umat ini adalah Abu Ubaidah bin alJarrah” (H.R.At Tirmidzi).

Pujian ini juga terbukti tatkala Rasulullah didatangi dua orang dari Najran yang berkata: “Kirimlah bersama kita orang yang benar-benar bisa memegang amanah”, lalu Rasulullah menjawab: “Akan aku kirim bersama kalian seorang laki-laki yang benar-benar mampu memegang amanah”, maka seketika itu orang-orang sangat berambisi untuk dipilih dan dikirim. Lalu Rasulullah berkata: “Bangkitlah Wahai Abu Ubaidah !”. Kemudian beliau mengirimnya bersama mereka, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad dari Hudzaifah bin al-Yaman.

Abu Ubaidah juga termasuk “as-Saabiquun al-Awwaluun” (golongan yang pertama masuk Islam) dan juga termasuk “al-Mubasyariina bi al-Jannah” (satu di antara sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira masuk surga dari Rasulullah).

Abu Ubaidah berkebangsaan Quraisy yang nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada kakeknya, Fihr.Semasa hidupnya, beliau selalu setia menemani Rasulullah dalam segala medan peperangan, bahkan pernah ditunjuk sebagai panglima dalam beberapa peperangan tersebut.

Beliau meninggal pada usia 58 tahun, bertepatan dengan tahun 18 H. disebabkan wabah tha’un yang menjalar ganas pada waktu itu. Bahkan karena keganasan wabah tersebut, diceritakan pada saat itu hanya tersisa 6 ribu orang dari 36 ribu bala tentara yang bersama beliau. Beliau disalati oleh Mu’adz bin Jabal dan kemudian dimakamkan di sebuah tempat bernama Al-Ghaur, sebuah lembah di Yordania. Hingga kini makam sahabat yang penuh amanah ini selalu asri nan terawat serta ramai diziarahi para penambang berkah dari dalam maupun luar negeri.

 

Lorong menuju makam Abu Ubaidah bin Jarrah

Lorong menuju makam Abu Ubaidah bin Jarrah

Keluar dari Kubur

Ada cerita menarik tentang karamah Abu Ubaidah. Diceritakan oleh seorang tokoh pejuang Aswaja di Lebanon, Syaikh Husam Qaraqirah; Bahwa suatu ketika ada dua orang wali yang salih, Syaikh Abdullah al-Hararydan Syaikh Isma’il ad-Dlannawi. Keduanya berangkat menuju ke Yordania untuk berziarah ke makam sahabat Abu Ubaidah. Dalam perjalanan menuju makam, Syaikh Abdullah selalu salat dua rakaat setiap kali menempuh jarak tertentu. Hingga suatu ketika beliau merasa lelah dan berhenti untuk istirahat sejenak. Lalu Syaikh Isma’il berkata kepadanya: “Sampai di sini saja, aku masih banyak pekerjaan!” Sesampai di rumahn, tiba-tiba Syaikh Isma’il melihat tembok rumahnya terbelah dan muncullah sosok laki-laki tua bertubuh besar, berwibawa dan berkulit sawo matang berkata dengan nada marah: “Mengapa kau tinggalkan anakku?” Syaikh Isma’ilpun ketakutan seraya berkata: “Shalli ‘ala ar-Rasuul… Shalli ‘ala ar-Rasuul”. Beliaupun menyesal dan kembali menyusul Syaikh Abdullah dan menemaninya kembali untuk melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di makam yang dituju, keduanya disambut oleh sahabat Abu Ubaidah bersama para pasukannya. Sahabat Abu Ubaidah dan para pasukannya keluar dari kubur mereka seraya berdiri dan mengulurkan tangan kanannya dan menyuguhi Syaikh Abdullah dan Syaikh Isma’il dengan buah zabib (anggur kering). Ini adalah salah satu bentuk kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada para waliNya. Mereka punya tasharrufat khassah (tindakan dan hal-hal khusus) yang mereka lakukan untuk berbagai kemaslahatan dengan izin dan kuasa Allah.

Sosok lelaki tua berbadan besar dan berwibawa itu adalah Syaikh al-Wali Muhammad Abdus Salam, guru Syaikh Abdullah waktu kecil. Sedangkan Syaikh Isma’il sendiri adalah seorang wali yang diserahi Daulat alAuliya’ untuk mendidik Syaikh Abdullah. Cerita ini diambil langsung oleh Syaikh Husam dari Syaikh Isma’il ad-Dlannawi.

 

Makam abu ubaidah

Makam abu ubaidah

Wisata Yordania

Selain makam Abu Ubaidah bin al Jarrah, di Yordania juga banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi seperti makam para sahabat Rasulullah. Di antaranya makam sahabat Ja’far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Abdullah bin Rawaahah dan Al Harist bin Umair,Dlirar bin al Azwar ,Mu’adz bin Jabal, ‘Amr bin Abi Waqash, dll.

Di samping bisa ngalap berkah di makam para sahabat, peziarah juga bisa menikmati keindahan alam Yordania yang mampu mengajak hati untuk tetap betah di sana. Sebut saja kota Petra yang berhias ukiran batu-batu raksasa dengan panjang mencapai 1000 meter dengan ketinggian mencapai 300 meter, benteng-benteng kuno, kota Seribu tiang, Al-Bahr al-Mayyit (Laut Mati); sebutan untuk laut yang tidak dapat dihuni oleh makhluk hidup sebab kandungan garam yang sangat tinggi yang melebihi laut lainnya pada umumnya; yang terletak 55 km dari barat Amman. Wallahu a’lam.

 

*) Penulis adalah alumunus Pondok Pesantren Langitan

yang sekarang menempuh pendidikannya di Global University, Lebanon.

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Berziarah ke Lembah Yordania; Rekam Jejak Sahabat Abu Ubaidah bin al-Jarrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *